Waktu menunjukkan pukul 21:00 saat Damian membawa Amanda keluar. Anak buah Daniel terus mengintai dari seberang jalan. Damian hanya memiliki waktu malam ini, karena esok hari dia harus mengurus semua kepindahannya dan keluarganya keluar kota.
"Papa pasti telah menungguku, Dam. Tumben-tumbenan kamu nganternya pas di jam malam seperti ini."
Damian membukakan pintu mobil, untuk Amanda dan segera masuk ke kursinya.
"Aku udah izin sama papa, dia mengerti jika kamu datangnya bakal telat."
Damian menyetir keluar, dan menuju ke galeri lukisan tempat Rama bekerja. Sepanjang jalan, lelaki itu memegang tangan Amanda erat.
"Kamu aneh, deh. Tahu nggak, baru kali ini kamu sampai megang tangan aku erat banget."
"Emang nggak boleh?"
Amanda menggeleng sambil tersenyum mendengar ucapan Damian.
"Boleh, hehehe." Raut wajah bahagia terpancar di sana. Amanda sangat senang hingga membalas genggaman mantan suaminya itu.
"Kau akan bekerja dimana setelah ini, Dam? Tomi benar-benar telah kekeh untuk menjual perusahaannya."
Damian berubah tegang, Amanda dapat merasakannya dari genggaman tangan lelaki itu.
"Ada apa?"
Damian gugup dan melepaskan tangan Amanda begitu saja.
"Em, tidak. Mu- mungkin aku akan mencari pekerjaan di tempat lain, di- di perusahaan baru dengan suasana baru. Kita tak dapat terus mengandalkan Tomi. Mungkin sudah jalannya seperti ini," ucap Damian terbata-bata.
Amanda menghela napas panjang. Setelah berhadapan dengan sahabatnya dia pun menyerah untuk meyakinkan Tomi untuk tetap tinggal.
"Kau benar, tapi berpisah dengannya akan sangat janggal bagiku, kau tahu. Selama ini kami seperti sepasang sepatu. Dia selalu ada untukku, bahkan telah membantu pernikahan kita."
Damian merasa tertohok.
"Jika bisa memilih, antara berpisah denganku atau Tomi yang mana kamu pilih?" ucap lelaki itu serius.
Amanda tertegun dengan bola mata membulat. Anak buah Daniel terus mengikuti dari arah belakang. Lama terdiam, Amanda pun tersadar.
"Apa-apaan sih, Dam!"
Prak.
Amanda memukul lengannya gemas.
"Ah, kau menyakitiku," ucap Damian bercanda.
"Ya kamu, sih! Apa-apaan coba. Kita kan udah pisah, Dam," ucapan Amanda menyentil hatinya. Damian tersenyum miris, dan fokus menyetir.
"Ya, kau benar. kita kan sudah berpisah," ucapnya dalam dan dingin.
Raut wajah Amanda berubah pias, sadar dia telah menyakiti hati Damian.
"Maksud aku nggak gitu, aku dan Tomi nggak ada apa-apa. Maksudnya, aku dan dia nggak pernah terpisah lintas negara." Amanda panik dan berusaha menjelaskan.
"Aku tahu, santai saja," Damian membelai pipi Amanda sekilas dan kembali fokus ke depan.
Tiba di galeri lukisan, Rama tengah asyik berbincang dengan seseorang. Mereka tampak asyik dan tidak menyadari kedatangan mereka.
"Papa," seru Amanda dan menghampiri.
Damian pun menyusul dan menyalami Rama juga tamunya.
"Eh, kalian sudah datang? Papa udah nungguin dari tadi loh," Rama tampak ramah dan merangkul Damian.
Tamu Rama menatap Damian tak berkedip.
"Dia ...," tunjuk lelaki itu ke arahnya.
"Dia ayah dari bayi dalam perut putriku," ucap Rama tanpa mengunkit perpisahan Amanda.
Damian hanya tersenyum dan tidak terganggu akan itu.
"Oh, dia adalah menantu anda?" tanyanya lagi.
Kali ini Amanda dan Damian saling melirik.
"Bisa dibilang seperti itu," ucap Rama disertai senyuman.
Lelaki itu mendekat dan memperkenalkan diri.
"Entah, sepertinya kita pernah bertemu entah dimana? Tetapi aku lupa, kenalkan nama saya Safiq. Saya baru di kota ini," ucap lelaki itu dan mengulurkan tangan.
Damian terpaku, dia menatap Rama lalu membalas jabatan tangannya.
"Saya, Damian. Damian Atmaja, mungkin saja, Pak. Dunia sangat luas, mungkin kita pernah berpapasan di suatu tempat."
Lelaki bernama Safiq itu, seumuran dengan Rama. Dia terus memindai wajah Damian dan tersenyum.
"Damian Atmaja, nama yang bagus. Em, mungkin kita bisa bertemu di lain waktu. Apa saya boleh meminta kartu nama Anda?"
Amanda dan papanya menatap mereka bergantian.
"Maaf, Pak. Tapi, saya tidak memiliki benda seperti itu."
"Hahaha," Safiq mengira itu hanya lawakkan.
Rama dan Amanda pun ikut tertawa sumbang. Hanya Damian yang tampak tenang.
"Apa kau serius?"
Damian mengangguk yakin. Safiq pun mengeluarkan kartu namanya. Jelas tertulis disana.
[Muhammad Safiq]
CEO Dante Grup
Damian membolak-balikan kartu nama itu, lalu menyimpannya di saku baju dengan tenang. Ekspresi yang tidak biasa bagi Safiq.
"Wajahmu mengingatkanku pada seseorang, tolong hubungi aku. Aku seorang pengusaha dan baru di kota ini."
Damian hanya tersenyum, tak ada gunanya baginya memberikan janji. Karena dia akan pergi.
"Baiklah, Pak Rama saya pamit dulu. Semoga lukisan yang saya pinta segera selesai," ucap lelaki itu.
"Baik, Pak. Saya akan menghubungi Bapak setelah semuanya rampung."
Lelaki itupun beranjak dan menepuk bahu Damian sebelum pergi. Mobil yang dia kendarai pun terbilang mewah, Rama menoleh menatap Damian saat mobil itu telah menghilang.
"Hey, apa kau tidak tahu siapa dia?" tanya Rama penasaran dengan sikap mantan menantunya.
Amanda mendekati papanya yang juga penasaran.
"Memangnya dia siapa, Pa?"
"Dia Safiq, salah satu pemegang atau pewaris Dante Grup. Katanya, mereka lebih berkuasa dari Angkasa Grup perusahaan keluarga Daniel."
Damian dan Amanda tidak menyangka akan itu.
"Wah, Papa hebat bisa mengenal orang sepertinya."
Rama menggeleng, dan berjalan ke mobil.
"Kami bertemu secara kebetulan hari ini, dia tertarik dengan salah satu lukisan papa. Tapi, yang buat papa takjub. Dia seperti kenal dengan Damian."
Amanda dan papanya kompak menatap lelaki itu.
"Itu nggak mungkin, papa tahu kan aku dari keluarga dari kalangan bawah. Pengusaha besar sepertinya nggak mungkin mengenalku. Sepertinya dia hanya salah orang saja."
Rama memikirkan ucapannya.
"Ya, kau benar. Mungkin saja kalian hanya pernah berpapasan."
Damian mendahului Rama membuka pintu mobil untuk Amanda. Sikapnya itu membuat Rama tersenyum.
"Duh, semangat banget, Dam. Papa sampai kaget."
Damian hanya tersenyum lalu menyentuh kepala Amanda. Perlahan dia memberanikan diri menyentuh perut wanita itu di depan Rama sang papa.
"Pa, hari ini cucu Papa bergerak aktif, aku dan Amanda sampai terkejut." Rama yang telah stand by di kursi pengemudi ikut bahagia mendengarnya.
"Benarkah, syukurlah kalau begitu."
Hati Damian berubah gamang, dia kembali ragu. Sentuhannya membuat bayinya kembali menggeliat. Amanda menatap Damian senang.
"Dia bergerak lagi, Dam."
Rama pun ikut memperhatikannya.
"Sayang, jaga mama, ya. Jangan kencang-kencang nendangnya," ucap Damian dan mencium perut Amanda.
Rama tak keberatan atau melarangnya.
"Itu, wajar Dam. Artinya bayi kamu sehat, sama seperti mamanya. Dulu, papa sama mamamu mengira Amanda bayi laki-laki. Saking aktifnya," lawakan Rama sontak membuat Damian menyengir.
"Papa, apa-apaan sih. Aib anak sendiri di buka-buka," protes Amanda.
"Loh, itu bukan aib tapi kebanggaan kami sebagai orangtua. Pokoknya kalian harus sering-sering ke dokter untuk memeriksa kandungan. Jika dilakukan bersama-sama, bayinya akan semakin sehat."
Amanda mengangguk setuju.
"Ayo pulang, sampai nanti Damian," ucap Rama.
Berbeda dari biasanya, Damian menggapai tangan Rama untuk menyalaminya sebagai orangtua. Sikapnya itu sangat aneh, tapi Rama tetap menurutinya.
"Kalau nyetir pelan-pelan, Pa,"
"Tentu."