Chapter 19

940 Kata
Fazra mengelak ketika Nevan hendak mencium pipinya. "Kok gak mau?" "Malu." Fazra menopang kedua pipinya dengan tangan sambil menatap kue ulang tahun miliknya dan Nia. "Ya udah, Papi cium Nia ya." Nevan seperti meminta izin terlebih dahulu kepada Fazra sebelum ia mencium pipi Nia. "Doa Papi untuk kalian berdua. Semoga makin baik lagi, sehat-sehat terus, akur, jadi anak sholeh sholeha, panjang umur..." Nevan menghentikan ucapannya ketika melihat Fazra hanya diam saja saat Reya menciumnya. "Kenapa Abang gak ngelak?" "Ngapain malu dicium sama Mami sendiri." Balas Fazra. "Tapi Papi," Nevan menunjuk dirinya sendiri. "Ah, ya udahlah." Nevan terlihat kecewa. "Hadiahnya mana?" Tanya Nia sambil memakan potongan cokelat yang ada di kue. "Ntar malem, sekalian kita makan di luar." "Di restoran ya." Mata Nia langsung berbinar-binar. Nevan mengangguk membuat kedua tangan Nia langsung memeluk tubuh Nevan dengan erat. Nevan tersenyum seraya mengelus kepala Nia. Mata Nevan tertuju pada Fazra yang sedang berbicara pada Aya. "Hadiah dari Abang mana nih?" Nia bertanya pada Zio yang duduk tepat di depannya. "Ntar malem juga. Nia punya hadiah untuk Fazra? Fazra punya hadiah untuk Nia?" Tanya Zio. "Enggak." Jawab Fazra dan Nia secara bersamaan. "Ngapain juga Nia kasih hadiah sama dia." Nia melirik sinis Fazra. "Gue juga gak ada niat mau ngasih Lo hadiah." "Lo kasih pun gue gak sudi nerima hadiah Lo. Paling isinya kayak taun lalu, Lo kasih gue kodok!" Nia langsung teringat kejadian ulang tahun mereka tahun lalu ketika mereka bertukar hadiah dimana Nia memberikan Fazra sebuah gelang sedangkan Fazra memberikan Nia hadiah yang di dalamnya ada seekor katak. Fazra memilih untuk diam tidak lagi membalas ucapan Nia. Rasanya sekarang ia sudah malas untuk berdebat dengan Nia. "Udah, jangan ribut. Mending kita sarapan dulu." Kata Reya menaruh beberapa piring di meja makan. "Kakak kamu ada?" Aya menggeleng menaruh telunjuknya di bibir. "Gak boleh kuat-kuat." Aya menarik Memei ke sofa untuk duduk bersama. "Aku gak mau kalo ada kakak kamu." "Kak Ia di kamal." "Handphone kakak kamu?" Memei menunjuk handphone berukuran besar berwarna emas yang ada di tangan mungil Aya. Aya mengangguk sibuk dengan ponsel yang sedang ia kotak katik. Memei mengintip ke arah tangga dari balik sofa, saat melihat tidak ada siapa-siapa termasuk tidak ada Nia Memei turun dari sofa membuka toples kue dan mengambil satu kue dari toples tersebut. "Aku minta." Memei menunjuk kue yang sudah ia ambil. Aya mengalihkan matanya dan mengangguk. Memei kembali duduk merapat pada Aya untuk melihat apa yang sedang Aya lakukan. "Memei ayo celpi." Ajak Aya sambil menatap ke arah kamera ponsel milik Nia. "Aku belum mandi." "Aya juga belum." Aya merangkul Memei, dengan sangat kesusahan Aya berusaha menyentuh gambar lingkaran untuk segera mengambil gambar. "Memei cenyum." Memei tersenyum memperlihatkan deretan gigi kecilnya. Aya ikut tersenyum ke arah kamera siap untuk memotret dirinya dan Memei. "NGAPAIN LU PADA!" BRAK! Handphone milik Nia terjatuh, dan untungnya terjatuh di atas karpet. Aya dan Memei terkejut bukan main saat mendengar suara Nia yang datang secara tiba-tiba, apalagi tadi suara Nia sangat keras. Nia tertawa keras hingga menggema ketika melihat ekspresi terkejut Aya dan Memei Nia berbungkuk untuk mengambil ponselnya dengan masih tertawa. Tawa Nia terhenti ketika melihat tangan Memei sedang memegang kue. "Itu apa tuh?" Nia menunjuk-nunjuk tangan Memei. Dengan cepat kue yang Memei pegang langsung masuk ke dalam mulut membuat pipi Memei menggembung. "Enak aja main ambil kue orang." "Memei udah bilang Aya!" "Kan perjanjiannya bilang ke aku! Bukan ke Aya." "Sama aja." Gumam Memei mengalihkan matanya ke arah guci yang berukuran cukup besar. "Masih kecil udah suka jawab omongan orang." Kata Nia sambil duduk. "Kita naik mobil yuk." Aya turun dari sofa berlari ke arah mobilnya yang terparkir di dekat tangga. Nia dan Memei sedang adu pandang. Memei bukanlah anak yang penakut, hanya saja Memei malas jika harus ribut, apalagi ribut dengan Nia. Dengan centil nya Memei lewat di depan Nia sambil mengibaskan rambutnya. "Sok cantik lu." Nia menendang pelan b****g mungil Memei, bahkan hampir tidak kena karena Memei terus berjalan. Nia yang sedang duduk sambil memegang ponsel menatap Fazra yang baru saja masuk ke kamar orang tua mereka untuk memberikan sepatu milik Nevan. "Caper banget sih." Gumam Nia saat Fazra keluar dari kamar. "Siapa yang Lo bilang caper?" Fazra berdiri di depan Nia dengan satu tangannya masuk ke kantong celana serta kancing bagian atas kemejanya yang berwarna putih terbuka sengaja tidak dikaitkan. "Lo." "Caper gimana gue?" "Sok-sokan bela gue di depan bokap, padahal Lo lagi cari muka kan, cari perhatian?" "Pure gue bela Lo." Nia tertawa. "Fazra yang gue tau tuh orangnya bodo amat. Sedangkan sekarang? Lo tuh kayak sok peduli ke gue." "Lo mau rasain apa yang gue rasain?" Nia memilih untuk memainkan ponselnya. "Gue bela Lo karena gue gak mau Lo rasain apa yang gue rasain. Walaupun sebenernya Papi lagi berusaha ngertiin kita tapi yang ada di kepala Lo waktu Lo dimarahin tuh Papi mulai pilih kasih, Papi mulai lupain Lo terus beralih ke gue. Padahal Lo gak tau Papi berusaha jadi orang tua yang baik untuk kita semua." "Waktu itu Lo berusaha ngertiin gue, sekarang gue udah ngerti. Tapi kenapa Lo yang gak ngerti keadaan sekarang?" Tanya Fazra. "Emang kenyataan Papi udah mulai cuek ke gue. Dikit-dikit Lo, dikit-dikit Lo." "Dikit-dikit gue gimana sih maksud Lo? Umur Lo udah 14 tahun, gue rasa Lo udah mulai ngerti bahkan seharusnya udah ngerti. Tapi kenapa pemikiran Lo masih anak-anak aja sih? "Jadi Lo ngerasa udah dewasa gitu?" "Karena gue Abang Lo, gue pantes bilangin Lo. Lo bilang Lo kangen sama gue yang dulu? Gue yang sering gangguin Lo maksudnya?" "Tapi sori, gue gak bisa kayak gitu lagi. Gue gak bisa kayak gitu lagi karena sikap labil Lo ini." Lanjut Fazra sebelum ia pergi dari hadapan Nia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN