Chapter 16

1612 Kata
"Abang mau kasih kesempatan untuk Papi nunjukin rasa sayangnya Papi ke Abang?" Nevan tersenyum kecil saat kepala Fazra yang tertunduk terangkat dengan mata yang merah serta dipenuhi oleh air mata. Fazra menarik tangannya yang dipegang Nevan. "Gak tau." Fazra langsung beranjak dari duduknya dan pergi. Dari luar, Nia yang sedang menguping dan sadar jika Fazra hendak keluar langsung berlari bersembunyi di balik dinding bersama dengan Aya tentunya. Tangan Nia yang sedang membekap mulut Aya menjauh sambil memperhatikan Fazra yang sudah masuk ke dalam kamar. "Abang." Aya menunjuk ke arah pintu kamar Fazra. Nia mengangkat kedua bahunya lalu beralih memperhatikan pintu ruang kerja Ayahnya dimana Nia yakin jika Ayahnya masih berada di dalam sana. Nia yang sedang berbaring di sofa menurunkan ponsel yang menutupi wajahnya ketika tadi ia sempat melihat Fazra hendak duduk di sofa namun langsung pergi saat melihatnya. Nia beralih duduk memperhatikan punggung Fazra dimana laki-laki itu berjalan ke arah ruang tamu yang ada di dekat pintu utama rumah mereka. "Jadi dia ngehindar dari gue sekarang?" Nia beranjak melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dan duduk di single sofa sementara Fazra duduk di sofa yang panjang. Baru saja Nia duduk Fazra langsung beranjak pergi. Nia benar-benar kesal melihat sikap Fazra sekarang. Nia meremas ponselnya dengan bibir yang sedikit mengerucut melihat perubahan drastis sikap Fazra. Tanpa berlama-lama di situ, Nia beranjak berjalan dengan cepat untuk menghampiri Fazra yang sudah menaiki tangga. Tubuh Fazra hampir terjatuh ketika kerah bajunya yang bagian belakang ditarik. "Lo kenapa sih?" "Apa sih Lo." Balas Fazra sambil membenarkan kerah bajunya. "Lo marah sama gue? Gue kan udah minta maaf." "Gue gak marah sama Lo, gue cuma males ribut sama Lo." "Tapi Lo gak usah diemin gue juga!" Seru Nia mulai emosi. Fazra mengalihkan wajahnya ke arah lukisan bunga. "Sumpah kue kasian sama Papi. Lo liat Papi akhir-akhir ini lebih suka di ruang kerja daripada ikut ngumpul kayak biasanya. Lo liat, Lo denger Papi sama Mami sering ribut cuma gara-gara sikap baru Lo ini, Zra!" "Lo bilang sama kita semua Lo mau apa, mau nya gimana, biar kita ngerti. Gak usah diem-diem kayak gini. Lo pengen berdua sama Papi? Pengen ngobrol sama Papi? Pengen di sayang sama Papi? Silahkan, jujur walaupun gue jealous liatnya tapi gue coba ngerti demi Papi, supaya Papi gak sedih lagi." "Setiap orang punya kesalahan, dari kesalahan itu dia belajar untuk gak akan ngulang kesalahannya lagi, gak akan buat kesalahan yang lainnya." Kata Nia dengan mata yang mulai memanas. "Gue benci bilang ini, tapi gue harus bilang ke elo biar Lo tau." "Gue kangen Lo, Zra. Gue kangen Lo yang dulu, Fazra yang sering gangguin gue, Fazra yang selalu jadi temen ribut gue kapanpun dimanapun." Nia langsung pergi ke kamarnya dengan mata yang sudah berair. "Abang!!!" Fazra menoleh ke arah pintu kamarnya yang sedang digedor-gedor oleh adik bungsunya. "Abang!" Seru Aya terus memukuli pintu kamar Fazra. "Ab..." Fazra terkejut dan refleks menahan tubuh Aya yang hampir terjatuh karena tadi saat anak itu sedang menggedor-gedor pintu Fazra membuka pintunya. "Aya mau ngapain?" Tanya Fazra sambil menegakkan tubuh Aya. "Papi cakit." Fazra menatap ke arah pintu kamar orang tuanya yang terbuka. "Aya dateng ke sini di suruh siapa?" "Kak Ia." Balas Aya sambil memeluk boneka kelinci nya yang dibelikan oleh Zio. "Dimana dia sekarang?" "Ciapa?" "Nia." "Di kamal Aya." "Ada siapa-siapa aja di kamar?" "Eng..." Aya tampak berpikir sambil menatap bagian atas pintu kamar Fazra. "Mami, Papi, Abang Io, kak Ia, doktel, cama Aya." Aya menyentuh dadanya dengan telapak tangan kirinya. Fazra menggenggam tangan Aya melangkahkan kaki mereka ke arah kamar Nevan dan Reya. "Aya gak bohong kan?" Aya langsung menggeleng. "Aya enggak bohong." Kata Aya sambil menggeleng. Ketika sudah berada di kamar orang tuanya mata Fazra langsung tertuju ke arah Nevan yang sedang berbaring dengan selimut yang menutupi sampai bagian pinggang nya dengan seorang dokter perempuan yang sedang memeriksa keadaan pria itu. "Suhu tubuh pak Nevan cukup panas. Jangan terlalu banyak pikiran, istirahat yang cukup dan makan dengan teratur." Kata sang dokter sambil menuliskan sesuatu. "Silahkan tebus obatnya di apotik. Jika tidak ada penurunan tolong bawa ke rumah sakit." Reya mengambil selembar kertas yang diberikan kepadanya. "Mari, saya antar dok." Ucap Reya pada dokter yang sedang memasukkan stetoskop nya ke dalam tas. Dokter tersebut tersenyum berjalan keluar kamar bersama dengan Reya. Zio dan Nia duduk di dekat Nevan sedangkan Fazra berdiri sambil memegang kedua bahu Aya. "Papi tuh udah tua, jangan banyak pikiran. Makin tua makin rentan kena penyakit." Kata Nia sambil memijat tangan Nevan. "Kalo Papi punya penyakit kan artinya umur Papi gak panjang lagi." Balas Nevan dengan nada rendah. "Ahli waris jatoh ke tangan Nia ya." Zio langsung menyenggol tangan Nia sementara Nevan tertawa kecil. Nevan menoleh dan cukup terkejut melihat Fazra berada di kamarnya. "Ada Abang ternyata di sini, Papi sampe gak sadar." "Fazra, sini." Kata Zio seraya menepuk tepi tempat tidur. "Fazra mau ngerjain tugas." Fazra menjauhkan tangannya dari bahu Aya lalu berbalik. "Gak boleh." Aya menahan tangan Fazra dan langsung menarik tangan Abangnya untuk mendekat pada Nevan, Zio, dan juga Nia. Akhirnya Fazra duduk di ujung tempat tidur dengan tubuh menghadap ke arah jendela kamar. "Abang, kakak sama Aya bantuin Mami yuk di dapur. Mami lagi bikin kue." Reya yang baru masuk berdiri di dekat Zio. "Abang kecil di sini aja ya, jagain Papi." Lanjut Reya berbicara pada Fazra. "Abang mau ngerjain tugas, Mi." "Nanti Mami bawa buku tugas Abang ke sini." Nia langsung turun dari tempat tidur dan Zio langsung menggendong Aya. Ketiga orang itu keluar terlebih dahulu. "Papi lagi sakit, kasihan." Bisik Reya sambil mengelus pipi Fazra kemudian keluar dari kamar. Tinggal lah Fazra dan Nevan sekarang. Fazra duduk diam sedangkan Nevan tengah tertidur. Perlahan Fazra mendekati Nevan dengan duduk di kursi yang ia ambil dari meja rias Reya. Fazra memperhatikan wajah Nevan yang terlihat berbeda dari biasanya, pucat. Fazra menatap buku tugasnya yang terletak di nakas dimana Reya benar-benar mengambilkan buku tugasnya. Melihat Nevan bergerak tidak nyaman Fazra malah ingin keluar untuk memanggil Reya. Namun ia urungkan niatnya setelah melihat Nevan kembali tenang dengan posisi berbaring menghadap dirinya. Fazra mengalihkan tatapannya ketika kedua mata Nevan terbuka. "Yang lainnya kemana, bang?" Tanya Nevan dengan suara yang serak. "Dapur, buat kue." "Tadi katanya Abang mau ngerjain tugas." Fazra mengambil bukunya menunjukkan buku tersebut pada Nevan. "Udah siap?" Fazra mengangguk berbohong, sesungguhnya ia tidak mengerjakan tugas dan ia tidak memiliki tugas. Mengerjakan tugas hanyalah sebuah alasan agar Fazra tidak bersama dengan Nevan. "Abang udah makan?" "Udah." "Besok jadi pergi study tour nya?" Fazra mengangguk. "Hati-hati, ya." Fazra kembali mengangguk. "Kalo Papi udah enakan Papi yang anter Abang ke bandara." Dan Fazra hanya mengangguk. "Kalo Abang bosen di sini, pengen ke kamar ya udah. Papi gak papa sendirian." Nevan berusaha untuk tersenyum dibalik rasa sakit dan sedihnya. Fazra tetap diam di tempat. Entah mengapa rasanya begitu berat beranjak dari kursi yang ia duduki. "Abang udah mau liat Papi aja Papi udah seneng, gak harus ditemenin gak masalah. Tapi kalo Abang mau nemenin, Papi makin seneng lagi." Nevan tertawa kecil. Fazra tidak memberikan respon apapun selain diam. "Oh iya, bentar lagi Abang sama Nia ulang tahun lho. Mau dirayain ulang tahunnya?" "Gak usah." "Kalo gitu Abang mau hadiah apa dari Papi?" "Gak kepikiran ada hadiah, sibuk berharap." "Papi yakin harapan Abang pasti terwujud." Fazra mengangkat acuh kedua bahunya. "Malem ini tidur sama Papi yuk." "Abang punya kamar." Nevan tersenyum. "Kan Papi belum pernah tidur sama Abang, pernah nya waktu Abang masih kecil." "Yang penting udah pernah." Nevan mengangguk seraya tersenyum kecil mengubah posisi menyamping nya menjadi terlentang. Fazra memperhatikan Nevan yang sekarang hanya diam saja sambil memejamkan mata dan memijat sendiri kepalanya. "Kalo Abang mau ke kamar gak papa." Fazra tidak juga beranjak. Nevan menoleh karena Fazra hanya diam saja dengan mata yang tertuju ke arah tepian tempat tidur. Nevan kembali menyamping menghadap Fazra. "Kemaren Papi bilang sama Abang, jangan jauhin Papi. Tapi Papi gak maksa Abang kok, kalo Abang emang gak nyaman di deket Papi Abang boleh jauhin Papi." Fazra tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun. "Tapi, boleh Papi minta Abang peluk Papi? Kali ini aja." Nevan menurunkan selimut yang menutupi dadanya sampai ke perut. "Papi minta peluk karena Papi pengen banget di peluk sama Abang. Cuma Abang yang belum pernah peluk Papi. Papi minta peluk karena Papi sayang sama Abang. Papi gak marah sama perubahan sikap baru Abang, justru Papi mau ngucapin makasih karena sikap Abang ini udah bikin Papi sadar kalo Papi belum pantes jadi orang tua Abang." "Abang anak baik. Dibandingkan Abang sama Nia yang paling nurut Abang, Papi juga bingung kenapa Papi sampe gak liat Abang padahal Abang udah jadi anak yang baik, anak yang penurut walaupun kadang suka jahil." "Bukan cuma Papi. Mami, bang Zio, Aya bahkan Nia yang selalu jadi musuh Abang kangen sama Abang yang dulu. Cuma karena Papi sikap Abang langsung berubah, Papi bener-bener ngerasa bersalah. Kalo Papi minta maaf terus Abang pasti bosen." Nevan terus berbicara tanpa memperdulikan Fazra yang tengah memperhatikan entah kemana. Nevan juga tidak peduli apakah Fazra mau mendengarkannya atau tidak yang penting Nevan sudah menyampaikan apa yang ada di kepala dan hatinya. Selama Nevan berbicara Fazra berusaha untuk tidak meneteskan air mata walaupun mata nya sudah berkaca-kaca. "Gak papa kalo Abang gak mau peluk Papi. Abang tidur aja, besok kan mau pergi." Nevan mendekatkan tangannya pada tangan Fazra dan mengusapnya. Nevan menjauhkan tangannya dari tangan Fazra berbaring dengan posisi terlentang lalu menarik selimut sampai ke dadanya dan mulai memejamkan mata. Nevan tersenyum dengan mata yang masih tertutup ketika merasakan lehernya dipeluk. "Abang sayang Papi." Kata Fazra sambil terisak memeluk erat leher Nevan. Nevan merubah posisi nya menjadi menyamping agar lebih muda membalas pelukan Fazra. "Papi juga sayang Abang." Balas Nevan seraya menepuk-nepuk punggung Fazra memeluk anak laki-lakinya yang sedang menangis dengan erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN