"Aku tahu, luka ini masih baru, masih basah dan jelaslah akan membekas. Yang aku tak tahu, kapan luka ini akan benar-benar sembuh?"
???
Hari kedua, di hari kedua ini acara LDK akan dilaksanakan sampai esok hari. Semua calon anggota OSIS akan menginap di sekolah karena malamnya juga akan banyak acara, seperti persembahan Pensi dari kakak-kakak OSIS. Dan jika benar-benar jadi, nanti malam, tepat jam 12 akan ada jerit malam.
Echa memandang penampilannya di depan cermin toilet—celana seragam abu-abu yang ia pinjam dari Rian, kemeja putih dan topi di kepala. Kegiatan setelah ini adalah penilaian PBB. Bukan hanya dewan ambalan yang diharuskan bisa melakukan baris-berbaris, semua anggota OSIS pun juga. Maka dari itu, Echa harus mau meminta-minta pada Rian agar dipinjami celana kekecilan itu, kekecilan di Rian, agak kebesaran di Echa.
"Cha! Lo ngapain aja, sih? Kok lama banget!" Maora yang baru saja tiba di toilet menatap Echa penuh kekesalan.
Echa terkekeh geli. "Ya ganti bajulah, emangnya Echa ke toilet mau makan?"
Maora memutar bola matanya malas. "Gimana make up gue? Bagus, 'kan? Oke-oke aja?" Maora mencondongkan wajahnya tepat ke depan wajah Echa.
Echa mengangguk antusias. "Bagus kok! Kamu dapet peran apa?"
"Bawang merah." Dari raut wajahnya, sudah terlihat jelas jika Maora tidak menyukai apa yang akan dia perankan.
"Kalau Kyana jadi apa?"
"Bawang putih. Huaaaaa!! Gue nggak bisa deh modus sama Kak Vino! Menang banyak si Kyana!" Setelah mengalami perang batin ingin mengikuti OSIS atau teater, Maora akhirnya memilih mengikuti jejak Kyana. Karena sepertinya, dia berbakat dalam bermain peran. Jadilah dia akan memerankan bawang merah dalam tes peran nanti.
"Ya udah sana ke ruang teater, hafalin naskahnya biar lolos." Echa mendorong pelan bahu Maora.
"Ya lo juga, 'kan? Buruan ke lapangan udah ditunggu yang lain."
"Iya-iya.... Ini Echa mau ke sana. Yuk, barengan." Echa menggandeng lengan Maora keluar dari toilet perempuan.
"Eh, Cha."
"Hm?"
"Gue mau nanya. Udah dari kemarin, sih, pengin bilang, tapi gue nggak enak. Dan sekarang mumpung nyali gue udah muncul ke permukaan, gue pengin nanya sama lo," kata Maora panjang lebar membuat Echa menatap Maora sepenuhnya.
"Nanya apa?"
"Kak Jiwa sana Nathalie beneran pacaran?" tanya Maora dengan berhati-hati. Dia tahu pasti, jika Echa pasti tengah berduka cita, mood-nya sedang tidak baik, maka dari itu dia harus berhati-hati dalam bertanya agar Echa tidak merasa sedih, bahkan sampai menangis di depannya.
Echa mematung, dia menunduk perlahan. Menatap sepatu hitamnya. "Hem, kayaknya iya, deh. Karena itu Jiwa jadi beda banget sekarang."
Maora menepuk pipi Echa pelan. "Yang sabar, ya? Gue yakin berita itu cuma hoaks. Iya 'kan, Cha? Dan untuk Jiwa yang berubah, mungkin dia lagi nggak mood ketemu cewek."
Echa menggeleng lemah. "Ini bukan hoaks, Echa udah nyelidikin, minta tolong anak-anak kelas, dan ternyata ini emang berita bener bukan hoaks. Lagian kalau Jiwa nggak mau ketemu cewek, kenapa Jiwa mau-maunya makan bareng Nathalie?"
Maora berdecak kesal. "Udahlah, Cha. Nggak usah dipercaya dan nggak usah dimasukin ke otak lo. Kalau emang lo pengin tahu, coba lo tanya Jiwanya langsung. Jangan ke orang lain yang nggak tahu apa-apa."
Echa mendongak, matanya mulai berkaca-kaca, lagi. Maora yang menyadari perkataanya salah langsung memeluk Echa erat. "Maaf kalau gue lancang ikut campur urusan lo," katanya penuh penyesalan.
Echa menggeleng kuat. "Kita 'kan sahabat, jadi harus saling berbagi."
Maora mengeratkan pelukannya. "Gue cuma bisa ngasih semangat."
Echa menggigit bibir. "Kamu tahu, Mao? Bahkan cuma natap Echa lembut kayak biasanya aja Jiwa udah nggak bisa. Dia ngganggep Echa kayak orang asing yang kalau diladenin bisa ngeganggu hidupnya.
"Jiwa beda, dia bukan Jiwa yang Echa suka. Jadi, gimana Echa bisa nanya sama dia kalau cuma natap Echa aja dia males? Coba pikir, kayak gitu aja dia ogah-ogahan, apalagi jawab pertanyaan Echa yang udah jelas jawabannya 'iya'?"
???
Semuanya terlihat berbaris dengan rapi. Dimulai dari yang paling pendek di depan hingga yang paling tinggi di belakang. Echa ada di baris nomor tiga pojok kanan, dan itu dapat memudahkannya melihat punggung tegap Jiwa yang menjadi pemimpin di haluan kanan. Namun, sadar jika tepat di sebelah Jiwa adalah Nathalie, semangat Echa luntur seketika. Gadis itu berulang kali mendengus kesal sampai tak sadar jika Raga sedari tadi memperhatikannya.
"Heh, santuy aja kali, tuh, mata. Lepas dari kantungnya baru tahu rasa."
Echa menoleh ke arah lelaki di sampingnya dengan kaget.
Raga menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Kaget? Makanya, jangan ngelamunin si tukang PHP mulu. Masih aja diharapin padahal udah jelas-jelas dia milih Nathalie bukan elo."
Echa menyipitkan matanya tanda tak suka. Gadis itu sedikit menggeser badannya agar lebih jauh dari Raga. Mood-nya sedang tidak baik, dan akan menjadi jauh tidak baik jika diajak berdebat. "Bukannya kamu tinggi, ya, Ga? Ngapain di barisan ini?"
Raga mengangkat bahunya acuh. "Suka-suka guelah. Yang punya tinggi badan juga gue, jadi mereka nggak punya banyak hak buat ngatur gue."
"Echa bilangin, nih, sama Bu Suci." Echa menyebutkan nama guru pembimbing tonti yang akan menilai mereka pada tes kali ini.
"Terserah aja," jawab Raga dengan pongahnya.
"Gue bahkan bisa pecat dia," tambah Raga dengan senyum yang sangat menyebalkan.
Echa tersenyum dengan sangat-sangat manisnya. Menyadari ada yang sedang mengawasi Raga dan hendak menghampirinya. "Iya, ya. Raga 'kan bisa apa aja," sindirnya dengan senyum manis yang masih tertahan di paras cantiknya.
Raga tersenyum penuh kemenangan, dia yang akan melipat tangan di depan d**a tidak jadi melakukannya karena tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh Bu Suci.
Raga tersandung. Bu Suci menatapnya penuh peringatan. "Baris yang benar! Tadi saya sudah menaruh kamu di barisan nomor 10, Gavin Auraga Mahaprana!!"
???
Alvaro menatap Echa dengan terang-terangan. Echa yang lama-lama merasa risi akhirnya angkat suara. "Kenapa, Kak Al? Ada yang mau ditanyain? Dari tadi Kakak ngeliatin Echa mulu."
Alvaro mengusap hidungnya sambil membuang muka. Beberapa detik kemudian tatapannya jatuh kembali pada Echa. "Nggak apa. Lo..., ikut organisasi ini sendirian?"
Echa mengangguk mantap. Alvaro hanya ber'oh' saja dan tampak ingin beranjak dari tempat duduknya.
Echa terkekeh geli. "Yakin cuma mau nanya itu doang, Kak? Nggak ada yang lain?"
Alvaro mengerjapkan matanya. Dia tampak membuka mulutnya dengan kaku. "Emm..., ada, sih," lelaki itu mengusap belakang lehernya, "Maora nggak jadi ikut OSIS?"
Echa menyeringai. "Enggak. Dia 'kan lagi dalam masa PDKT sama Kak Vino. Makanya, dia ikut teater."
Alvaro mengerucutkan bibirnya sekilas. Laki-laki itu tampak bergerak-gerak tidak nyaman. "Ohh, gitu, ya? Gue kira dia mau ikut OSIS. Mama Maora soalnya sempet nyuruh gue buat bujuk dia."
Echa mendengus kesal. "Makanya, Kak. Kalau gengsi nggak usah ketinggian, Kakak sendirikan yang repot?" Echa beranjak dari duduknya lalu berlalu begitu saja meninggalkan Alvaro yang bingung dengan perkataan Echa barusan.
Gadis itu berjalan sambil bersenandung kecil. Cara menaikkan mood-nya. Matanya tak tinggal diam, sibuk memandangi sekitar. Dia mencari Jiwa. Ah, jangan lupakan hati Echa yang masih sakit karena ulah Jiwa. Gadis itu mendengus kesal, meraup wajahnya dengan tangan kanan, mencoba meyakinkan diri untuk tidak mempedulikan dua sejoli yang baru saja jadian dan langsung menjadi tranding topik di SMA mereka. Membahas tranding topik, Echa semakin lama gerah juga mendapati tatapan-tatapan aneh dari anak-anak di sekitarnya.
"Cupu!!"
Echa menoleh, tampak Raga yang berlari mendekatinya. Lelaki itu berkeringat. "Lo mau ke mana?" tanya Raga pada Echa.
Echa menggeleng lemah. "Nggak tahu, cuma mau jalan-jalan aja."
Raga memandang sekitar. Dia menghela napas kasar. Perlahan, digenggamnya tangan Echa.
Echa mematung, gadis itu menatap Raga dengan kernyitan di dahinya. "Raga-"
"Suttt," Raga melotot, "gue mau nyelametin harga diri lo lagi."
Kernyitan di dahi Echa makin dalam. Raga ini sebenarnya ngomong apa?
"Liat sekitar lo."
Echa menggeleng. "Udah tahu, Ga. Mereka pasti lagi ngomongin Echa."
"Nah, itu! Mereka 'kan tahunya lo patah hati ditinggal Jiwa," Raga mengayunkan genggaman tangan mereka berdua, "kalau begini?"
Echa masih tidak paham. Raga menyentil jidatnya. "Dasar lemot."
"Apa, sih?!"
Raga mulai lelah. "Kalau beginiiii."
"Iya begini kenapa???" Echa mencengkeram tangan Raga membuat lelaki itu meringis. Echa nyengir.
"Ya, mereka akan berpikir kalau kita juga jadian. Dengan begini, lo nggak akan dikatain gamonlah, pernah ngehambat hubungan merekalah."
Bisa gitu, ya?
"Intinya, kita pura-pura pacaran."
Echa mendelik. "Ha?!"
"Lagi pula gue udah ngakuin hal itu di depan Zara sama temennya. Nanggung kalau cuma mereka yang ditipu." Raga menarik Echa, mengabaikan Echa yang berontak.
Raga sudah gila!!