15. Dua Kali Dalam Sehari

1597 Kata
"Sadarkah kalau kamu hanya sekedar suka?" ??? Echa mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia memandang sekelilingnya, kelasnya kosong. Dia menguap. Lamat-lamat, suara keributan makin terdengar keras di telinganya. Dia mengucek matanya, berusaha mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu. Perlahan, dia bangkit dari bangkunya dan melangkah keluar kelas. Mata Echa membulat kala melihat dua sosok yang begitu familiar baginya sedang berkelahi di tengah lapangan. Echa berlari menuju kerumunan itu. Dilihatnya guru-guru yang sedang memisahkan Raga dan Jiwa, tetapi Raga seakan masih ingin meluapkan kekesalannya pada muka Jiwa. "Ji-jiwa," gumam Echa mendapati wajah Jiwa yang sudah babak belur. Pandangan Echa dan Jiwa bertemu, Jiwa dengan sisa tenaganya mencoba menarik sudut bibirnya, berhasil. Walau terlihat begitu tipis. Bugh Raga menonjok perut Jiwa. Jiwa terlihat tak membalas sedikit pun pukulan Raga. Hal itu membuat Echa geram sendiri. Bugh Echa memejamkan matanya erat-erat. Kenapa Raga sekejam itu pada kakaknya sendiri? Echa kembali membuka matanya. Apakah Raga otaknya sudah hilang? "Raga! Jika kamu tidak mau berhenti, Miss Glen akan keluarkan kamu dari sekolah ini!" ancaman Miss Glen membuat tangan Raga yang hendak memberi wajah Jiwa bogem mentah perlahan turun, dia mengedarkan tatapannya ke sekitar, tatapannya terkunci pada gadis yang menatapnya penuh kekecewaan. Echa melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju Pak Irfan, salah satu guru BK seperti Miss Glen yang sedang memapah Jiwa menuju UKS. Echa tidak menghiraukan tatapan ketidaksukaan siswi-siswi yang menyukai Jiwa, bahkan dia mengacuhkan panggilan Raga. "Pak, biar saya yang obati luka Jiwa." Pak Irfan menatap Echa sejenak, tampak ragu, tetapi saat Jiwa mengangguk, Pak Irfan ikut menyetujui usulan Echa. Setelah Pak Irfan merebahkan tubuh Jiwa di ranjang UKS, tinggallah Echa dan Jiwa berdua di sana. Echa menatap kasihan Jiwa. Rasanya, Jiwa terlalu takut jika adik tersayangnya itu terluka? Tak mau membuat Jiwa terlalu lama kesakitan, dia bergegas mengambil kotak P3K lalu duduk di tepi ranjang UKS. Ditatapnya Jiwa yang memejamkan mata. Echa mengangkat tangannya, sedikit ragu mengusap pipi Jiwa yang memar dengan penuh kelembutan. Hal tersebut jelas membuat Jiwa membuka matanya dengan kaget. "Ma-maaf. Sakit, ya?" tanya Echa merasa bersalah. Jiwa tersenyum tipis, meski ujung bibirnya sedikit sobek. Diraihnya tangan kanan Echa yang meremas ujung roknya karna gugup. Jiwa meletakkan tangan itu di pipinya lagi. "Sakitnya jadi nggak berasa." Dengan kesal Echa memukul lengan Jiwa. "Aws!" Ringis Jiwa merasakan lengannya bertambah sakit. "Nggak usah ngegombal, deh, Ji. Kamu itu ketua OSIS, harus ngasih contoh yang baik. Eh, ini malah berantem, sama adik sendiri lagi," ketus Echa sambil membersihkan wajah Jiwa yang berdarah dengan kain yang sudah dibasahi. "Khawatir ceritanya?" Jiwa terkekeh geli. "Banget," gumam Echa yang membuat Jiwa mengacak rambut Echa gemas. Echa tertegun menatap mata Jiwa yang juga menatapnya dengan lekat dan lembut. "Gimana suratnya? Udah sampai di papa lo?" tanya Jiwa mengalihkan suasana yang sempat awkward karenanya. Kening Echa berkerut. "Surat apa?" "Surat izin ngikutin LDK OSIS yang kemarin dibagiin sama Tasya." Echa teringat. Semalam, Ben sudah tidak marah lagi kepadanya. Dia merasa bersyukur, setidaknya surat itu bisa menjadi alat untuk mengobrol dengan papanya. Yah, Echa ingat sekali surat perizinan itu, surat perizinan mengikuti LDK osis yang akan dilakukan hari senin dan selasa, minggu depan. "Udah dibolehin kok." Seketika Echa tersenyum lebar. Jiwa mengangguk senang. Setelah selesai dengan darah-darah di area bibir dan tangan Jiwa, Echa menaruh air panas di sebuah baskom kecil. Dia mencelupkan handuk ke dalamnya. Diperasnya handuk itu lalu ditempelkan pada bagian wajah Jiwa yang memar. Echa menatap Jiwa sambil meringis sendiri. Jika Echa berada di posisi Jiwa, apakah Echa masih hidup? Dia tahu, dia bisa beladiri, tapi yang dilakukan Jiwa adalah tidak membalas sama sekali setiap pukulan yang mengenai tubuhnya. Jika sekarang Echa yang menjadi Jiwa, mungkin Echa sudah ada di rumah sakit. "Kenapa Raga mukulin kamu?" Echa merapikan rambut Jiwa yang berantakan dengan tangan mungilnya. Lagi-lagi Jiwa dibuat deg-degan saat dihadapkan dengan Echa, apalagi desiran aneh terus merambat dari perut sampai dadanya. Menggelitik bagian sensitifnya, hati. Jiwa tersenyum tipis. "Elo nggak perlu tahu." Echa menghela napas sejenak. "Kenapa Jiwa nggak ngelawan?" Sudut bibir Jiwa makin tertarik ke atas. "Gue masih punya perasaan." "Berarti Raga mati rasa dong." Echa meletakkan kain dan baskom di atas nakas. Tangan Jiwa terulur, mengusap pipi Echa yang sekarang memerah seperti tomat. "Raga bahkan hatinya lebih lembut dari gue." "Lembut?" "Hmm. Dia jauh lebih perasa ketimbang gue. Mungkin karena saking emosinya denger ucapan gue, dia jadi anarkis gitu." "Emang kalian ngobrolin apa?" Echa mengusapkan kapas yang sudah diberi alkohol ke sudut bibir dan lengan Jiwa. Jiwa menarik hidung Echa gemas. "Elo nggak perlu tahu, belum cukup umur." Jiwa terkekeh geli, sedangkan Echa mendengus kesal. "Cha," panggil Jiwa lirih. "Apa?" "Lo makin cantik kalau khawatir." Echa mangap. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. "A-apa, Ji?" "Lo lucu, jadi pengen nyium." Echa sontak menutup wajahnya. "Nggak boleh!" Jiwa tertawa. "Boleh dong," candanya. Echa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak!!" Lelaki itu tergelak. Si*lan, ganteng banget!! ??? Echa menendang-nendang batu krikil di jalan. Bodohnya dia yang tidak mau diantarkan Jiwa pulang. Raga pun entah menghilang ke mana sejak kejadian pagi tadi. Dan Pak Ali? Supirnya bahkan sedang pulang kampung mendadak. Papanya di luar kota. Jadilah dia harus jalan kaki dulu sampai di jalan yang sering dilewati taksi, bus, angkot, ojek dan kawan-kawannya. Mau pesan taksi online? Ponselnya saja sedang bobok cantik di rumah. Echa menghela napas kasar. Hari yang sial, pikirnya. Saat sedang melamun, suara keributan terdengar nyaring di telinganya. Matanya membulat, lagi. Langkahnya terhenti. Kenapa hari ini banyak yang berkelahi? Dan kenapa orang itu harus selalu Raga? Di depannya, dengan jarak sekitar lima belas meter, terlihat Raga dan anak geng Batam sedang berkelahi dengan.... Leon? Echa mengerjapkan matanya. Mereka berkelahi karena perempuan lagi? Bukan, sepertinya bukan perkelahian biasa, mereka tawuran. Karena terlihat jelas balok kayu, pisau, rantai dan benda tumpul berbahaya yang dipegang anak buah Leon. Sedangkan anak geng Batam? Mereka membawa panci, wajan, teflon, sapu, dan..., solet??! Echa menggeleng dramatis. Entah mendapat sinyal dari mana, gadis itu perlahan melangkah menuju kerumunan orang yang tak takut mati itu. Dia mengambil kuda-kuda dan.... "Kyaaaa!!!" Echa menendang p****t seorang laki-laki dengan sleyer di tangan kanannya sampai orang itu nyungsep. Reza yang seperti dibantu dewi fortuna hanya bisa melongo menatap sang dewinya. "Awas, Kak!" Echa menarik tangan Reza ke arahnya karena anak buah Leon ada yang ingin memukul kepala Reza dengan balok kayu. Badan Reza terhuyung ke depan dan menubruk badan Echa. Echa atau Reza tidak ada yang jatuh, badan mereka saja yang sekarang menempel. "Ck, hadeuh malah keenakan." Echa berdecak kesal. Dicubitnya pipi Reza karena Reza malah melamun. "Aw! Sakit, Cha!" "Makanya nggak usah modus!" Echa mendorong Reza sampai p****t Reza mencium aspal. Reza meringis. "Siapa juga yang modus," Reza mencibir. Echa tidak peduli, yang dia pedulikan adalah membantu teman-teman Raga berkelahi, bukan membantu Reza a.k.a teman Raga yang keenakan nempel di badan Echa. Echa cukup kesulitan karena anak buah Leon membawa senjata berbaha semua. Beda dengan anak Batam, mereka malah membawa alat masak. Echa sampai sekarang pun heran. Raga mau tawuran atau lomba masak? Bugh Echa memukul rahang seorang lelaki berbadan kekar yang sedang melawan Doni, anak geng Batam. Bugh Echa menendang tulang kering lelaki tadi hingga dia memegangi area s**********n, kesakitan. "Dasar, banci! Berasa hebat? Pakai acara nyerang duluan?" ejek Leon membuat amarah Raga sampai di ubun-ubun. "Lo nggak usah banyak b*cod!" Masih dengan perkelahian di antara mereka. Masih dengan Raga yang menyerang membabi buta dan Leon yang dengan sigap menghindari pukulan Raga. "Lo, udah bikin gue sama Lauren putus! Puas lo?!" Sekarang amarah Leon yang menguap ke permukaan. Raga terkekeh sinis. "Lo lupa? Cewek murahan lo itu yang selalu ngejar-ngejar gue?" "Si*lan lo!" Bugh Leon berhasil memukul rahang tegas Raga yang sudah membiru. "Daripada elo? Banci! Mainnya keroyokan!" Bugh Raga membalas pukulan Leon sama kerasnya. "Lo pikir gue mau?! Lo pikir gue seneng dideketin Lauren? Gue juga punya cewek yang gue suka! Buat apa gue repot-repot ngurusin Lauren? Dia yang ngusik hidup gue!" Bugh Raga menendang perut Leon sampai Leon terjerembab. Leon bangkit, matanya menatap nyalang Raga. "Tapi elo cium dia! Lo ambil apa yang selalu gue tahan untuk harga diri cewek!" Bugh Bugh Leon memukul kedua belah rahang Raga bergantian dengan keras. Raga mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Kalau gue bilang dia yang nyium gue duluan lo percaya?!" Raga menatap tajam Leon yang berdiri di hadapannya dengan kuda-kuda, "enggak, 'kan?!" Raga tersenyum sinis. "Mana mungkin lo percaya kalau cewek yang selalu lo bangga-banggain itu sebenernya bi*th!" Leon menatap Raga dengan tatapan rileks. Dia juga sudah melepaskan kuda-kudanya. "Oh, ya?" Leon menyeringai. Raga menatap Leon was-was. "RAGA AWAS!!" Bugh Echa berlari ke arah Raga yang memegangi kepala bagian belakangnya dan terjatuh di jalanan. Melihat ketua gengnya game over, anak Batam makin brutal menyerang anak geng Tiger. Raut wajah Echa pucat pasi. Tangannya bergetar mengusap pipi Raga. Darah mengalir dari belakang kepala Raga. Echa takut. Sekarang kemenangan berpihak kepada geng Batam. Karena kemarahan melihat ketua gengnya yang dikalahkan, mereka makin brutal menyerang hingga dengan mudah mengalahkan geng Tiger. Jadilah anak buah Leon babak belur dan berlarian ke motor masing-masing. Setelah anak buah Leon pergi semua, satu persatu anak Batam mengerumuni Echa dan Raga. "Ya ampun Abang ganteng gua!" Rian berlari ke arah Echa dengan wajah cemasnya. Digendongnya tubuh Raga menuju mobil BMW merah yang terpakir di seberang jalan. Reza dan yang lainnya mengekor, menaiki kendaraan masing-masing. Echa terpaku di tempat. Sebuah tangan terulur di depan wajah Echa yang menatap nanar bekas darah di tangannya. Dia tersentak kaget. "Lo ikut 'kan ke rumah sakit?" Echa mendongak. Ada Vino. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Echa berdiri. Ragu, Echa menerima uluran tangan itu. "Ikut 'kan, Cha?" tanya Vino lagi. "Nggak tahu. Echa nggak punya tebengan." Echa menunduk. Menatap seragamnya yang bersimpah darah. Vino tersenyum tipis. "Nebeng gue aja. Lo harus ikut. Raga butuh kehadiran lo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN