3. Punishment

619 Kata
"Sesuatu yang berawal buruk, bisa saja berakhir baik. Begitupun sebaliknya." ??? Echa merasakan pasokan oksigen dalam rongga dadanya menipis. Mendadak, bulu kuduknya meremang. Dia merasa takut saat melihat laki-laki yang dia tabrak kemarin. Laki-laki itu duduk tidak jauh dari tempatnya. Echa membuang jauh-jauh rasa takut itu dan mencoba kembali fokus pada siomainya. Maora yang menyadari perubahan raut wajah Echa pun bertanya, "Lo kenapa? Aneh gitu mukanya." "Ada cowok yang Echa tabrak." Echa menunjuk laki-laki itu diam-diam. Saat mata Maora mengikuti arah yang Echa tunjuk, gadis itu tersendak siomainya. Maora menegak minumnya. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa laki-laki yang Echa maksud adalah Raga. "Lo nggak tau siapa dia?" Maora menatap tak percaya pada Echa sambil memijit-mijit pelipisnya. Echa menggeleng. "Dia Raga. Gavin Auraga Mahaprana, kakak kelas yang terkenal bandel banget. Dia adik Jiwa masa lo nggak tahu?" Maora menatap Echa serius. Kini giliran Echa yang menatap Maora tidak percaya. Mana mungkin seorang Jiwa yang pintar, tampan, baik, yah walau dingin itu kakak dari laki-laki yang menyeramkan sekaligus menyebalkan? Kyana yang mendengar nama Raga disebut langsung menoleh, dia yang awalnya tak tertarik langsung menatap Maora bingung. "Cowok yang Echa tabrak namanya Raga," ucap Maora. Mata Kyana membulat mendengar ucapan Maora. "Jauh-jauh deh lo dari dia. Ganteng iya, tapi takutnya ngajakin yang aneh-aneh. Dia itu nakal banget, guru-guru aja pada kewalahan ngadepin dia." Kyana berbisik pada Echa karena dia melihat bahwa Raga tidak jauh dari mereka dan sedang menatap tajam ke arah mereka. "Dia suka mabuk dan pergi ke club." Kata-kata itu mampu membuat Echa membeku. Dia memikirkan nasibnya jika Raga benar-benar memintanya untuk menemaninya sepulang sekolah selama seminggu. Apa yang akan mereka lakukan? Jangan-jangan Echa disuruh minum? Atau ke club trus ngeliatin cewek kegatelan? Oh no. Big, no! "Cabut!" Wajah Echa semakin menegang saat Raga berjalan mendekati mereka. Echa segera melangkah pergi. Namun, tangan kokoh nan hangat mencekalnya. Echa membalikkan badannya gugup, dia tahu betul siapa yang menahannya. "Nanti pulang sekolah lo ikut gue. Lo inget 'kan sama omongan lo yang bilang mau nurutin perkataan gue?" Echa bergeming. "Ada CCTV di tempat lo nabrak gue. Lo nggak bisa menghindar," ucap Raga lagi. Sekujur tubuh Echa melemas. Raga melepaskan cekalannya. Dia berjalan menjauh. Begitu pula Echa, dia berjalan tergesa menuju kelasnya disusul Maora Dan Kyana. Mereka bertiga mencoba tak menghiraukan tatapan keingintahuan seisi kantin. "Dia bilang apa?" tanya Maora sangat penasaran saat mereka sampai di kelas. "Masa Echa beneran disuruh nemenin dia ...?" Echa memijit pelipisnya yang jadi terasa pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan besar tentang ke mana Raga akan mengajaknya pergi, ke mana dia harus menemani Raga? Apa mungkin sebuah club malam? Atau ke arena balap liar? "Mendingan lo nggak usah mikir yang aneh-aneh, Cha. Daripada nanti otak lo jadi gesrek gara-gara mikirin Raga," saran Kyana yang mendapat tatapan membunuh Dari Echa. "Gesrek? Kamu doain Echa otaknya gesrek?!" Kyana menepuk jidatnya cukup keras "Males ya ngomong sama orang gila, nggak bakalan nyambung." Kyana langsung pergi sebelum Echa benar-benar menggilingnya sampai halus. "Dasar!!" Echa sekarang jadi benar-benar kesal. "Lo enak tahu nggak, Cha? Deket sama pangeran es, terus sama pangeran tampan, ihh gue iri ...." Maora menatap Echa dengan mata berbinar. Sungguh, Echa tak habis pikir dengan jalan pikiran Maora. Jika di dipikir-pikir, apanya yang enak?? "Enak pala kamu peyang? Iya enak sama Pangeran Es, terus si Kakek Lampir enak dari mananya?!" Echa bertambah kesal karena Maora. "Santai aja kali .... Nggak usah ngegas gitu. Oh, ya. Maaf, ya, gue lagi nggak punya saran." Maora berlari keluar kelas sebelum Echa benar-benar memakannya hidup-hidup. "Maora!!! Nggak pengertian banget jadi temen!!" Echa menatap kepergian Maora dengan amarah di ubun-ubun. Detik berikutnya gadis itu merasa kikuk karena lagi-lagi menjadi pusat perhatian. "Apa kalian liat-liat!!" kata Echa sensi membuat anak kelas yang menatapnya kembali pada pekerjaan masing-masing. Masa bodoh dengan Echa. ??? Echa melangkah terburu-buru menuju gerbang sekolah. Terburu-buru karena takut berpapasan dengan Raga. Dia celingak-celinguk saat melewati parkiran, kosong. Dia menghela nafas lega. Syukur. Echa menunggu mobil jemputannya sampai. Namun, bukan mobil BMW putih yang lewat, malah sebuah mobil BMW hitam. Kaca bagian depan terbuka perlahan, menampakkan sosok yang Echa hindari. Sesak lagi-lagi melanda rongga dadanya saat tak sengaja menatap mata elang itu. "Masuk!!" perintahnya pada Echa. Mendengar kalimat perintah dengan nada bentakan itu, Echa malah mematung di tempat. Lalu, dengan kesadaran yang telah pulih, gadis itu balik badan dan berlari menghindari mobil Raga. "Berani ngehindar dari gue, habis hidup lo!!" ancam Raga sedikit berteriak, membuat Echa yang sudah sedikit menjauh langsung berlari menghampiri mobilnya, dalam sekejap Echa sudah berhasil masuk dengan kikuk. Raga tak menghiraukan Echa, melirik saja tidak, dia langsung melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang sering dia kunjungi. Gedung tua lima lantai. Echa menatap sekelilingnya dengan perasaan takut. Tempat itu lembab, gelap, dan bau alkohol. Di sepanjang tangga menuju lantai paling atas, botol-botol kaca bekas miras banyak yang berserakan. Sejenak, Echa seperti terlempar ke masa lalu. Botol-botol itu mengingatkannya pada sang kakak. Kakaknya yang meregang nyawa karena ditabrak seorang pengemudi yang mabuk. "Itu bukan gue yang minum." Echa mendongak, menatap Raga yang berjalan satu langkah di depannya. Lelaki itu seakan bisa membaca pikirannya. "Terus siapa kalau bukan kamu?" Raga mengangkat bahu pelan. "Anak jalanan, beberapa kali gue ke sini, mereka minum-minum di situ." Echa hanya mengangguk pelan dan terus berjalan. Sampai saat dia berdiri di lantai teratas, Echa tersenyum lebar. Dari sana, dia bisa melihat gedung-gedung tinggi, mobil-mobil yang terlihat seperti semut, dan orang-orang yang berlalu-lalang. "Gue heran." Echa menatap Raga dengan alis terangkat tinggi. "Heran kenapa?" "Orang-orang selalu ngelihat sesuatu dari tampilannya." Raga berjalan pelan mendekati Echa. Lelaki itu menatap Echa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo kira gue mau ngajak lo ke mana?" Echa meringis pelan. Jujur saja, dia kurang paham dengan arah pembicaraan Raga yang tiba-tiba berat ini. Jadi, dia menjawab asal, "Ke mana-mana hatiku senang." Raga mendengus kesal, sejurus kemudian lelaki itu berjalan ke sebuah sofa usang di sudut ruangan. Lelaki itu duduk, menyilangkan kaki kanannya, lalu merogoh sesuatu dari saku celananya, sebuah rokok dan alat pematik. Echa menutup hidungnya dengan tangan kanan. "Jangan ngerokok, polusi udara. Bahaya juga buat kesehatan." Raga terkekeh sinis. "Siapa lo ngatur-ngatur gue?" Echa mengerucutkan bibir kesal lalu mencibir. "Anak kemarin sore yang masih bau kencur." "Kenapa cowok berprestasi dengan sifat kalem selalu dielu-elukan?" Echa menatap Raga dengan heran, lagi. Kenapa arah pembicaraan Raga sulit dipahami? Melihat Echa yang hanya diam memandangnya, Raga bertanya, "kenapa? Gue butuh pendapat lo." Echa menggigit bibir bawah, sedikit takut salah bicara. Dia hanya tidak mau terus dibuat tak bisa berkata-kata karena balasan Raga yang kerap kali menohok hatinya. "Mungkin..., karena cowok kayak gitu udah dapet label baik dari masyarakat. Cowok yang punya tata krama dan etika 'kan yang kamu maksud kalem?" Raga mengangguk kecil. "Dan kenapa cowok kayak gue selalu jadi pilihan terakhir orang-orang saat mau berteman?" Echa terdiam, sedikit kaget dengan pertanyaan yang satu itu. "Mungkin ..., karena Raga kelihatan jauh dari kata baik." Raga bangkit dari duduknya, lelaki itu memasukkan rokok yang belum sempat dia sulut beserta pematik ke dalam saku celana lagi. "Definisi baik menurut lo itu yang kayak gimana?" tanya Raga saat jarak di antaranya dan Echa hanya berjarak dua jengkal saja. Echa menahan napas. Hembusan napas Raga menerpa wajahnya. Apalagi, lelaki itu memiringkan wajahnya membuat Echa bisa leluasa memandangi wajah tampannya. "De-definisi?" Raga mengangguk mantap. "Ya, definisi." "Baik itu nggak bisa diukur sama kata-kata." Echa mundur beberapa langkah, tetapi Raga juga maju seiring mundurnya Echa. "Kalau nggak bisa diukur, kenapa banyak orang selalu bandingin orang-orang di sekitarnya? Dia jahatlah, dia baiklah. Katanya nggak bisa diukur? Berarti belum tentu yang baik itu baik dan yang jahat itu jahat. Iya, 'kan?" Echa memijit pelipisnya pelan. "Echa nggak paham kamu ngomong apa." Raga tersenyum miring. "Nggak perlu dipahami, nggak penting. Semua tentang gue itu nggak penting." Heran, kesekian kalinya. Echa hanya bisa menatap Raga heran saat lelaki itu berjalan turun dari gedung dan meninggalkannya di sana. "Dasar, aneh!" "Cowok aneh!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN