30. Drama

1032 Kata
"Pernah sejauh matahari dengan bulan, tapi sekarang sedekat kayu dengan api." ??? Echa mengeratkan jaket Raga yang membalut tubuhnya. Gadis itu tak habis pikir. Sebenarnya dia mau dibawa ke mana? Gadis itu menatap langit. Semburat jingga sudah mulai terlihat, pertanda sore telah datang. Dia melirik Raga yang masih sibuk dengan pemilik salon. "Ayo." Echa berdehem pelan. Ditatapnya uluran tangan raga. Dia menyambut uluran itu dengan kikuk. Sejak kapan lelaki itu ada di depannya? Bukannya tadi Raga masih sibuk berbincang-bincang dengan pemilik salon? "Udah selesai?" Raga mengangguk kecil. Sejak tadi, sosok galak itu jadi lebih pendiam. Seperti sedang banyak yang dia pikirkan. "Raga dari tadi diem aja." Echa menunduk, menatap jemarinya dan jemari Raga yang saling bertautan. Raga melirik Echa dalam diam. "Emangnya kenapa? Lo mau gue sewot kayak biasanya?" Echa berdecak kesal. Itu adalah harapan yang tak pernah terlintas di otaknya. "Bukan gitu. Cuma aneh aja mendadak diem aja nggak kayak di rumah sakit tadi." "Emang tadi di rumah sakit kayak apa?" tanya Raga sedikit sewot. "Anget." "Ha?" Echa melengos. "Auah, gelap." "Makanya, jalan, tuh, melek. Jangan merem mulu," ketus Raga sambil melepas genggamannya pada tangan Echa. "Dasar, Kakek Lampir," cibir Echa lirih karena tidak berani membuat mood Raga semakin jelek. Bisa mampus dia jika Raga mendengarnya. Dengan ragu, Echa naik ke motor Raga. Beruntung, dress yang dia pakai sepanjang betis. Jadi, dia tidak mengkhawatirkan pahanya yang terekspos saat dibonceng nanti. Raga menyalakan mesin motornya. Setelah hidup, dia menjalankan motornya membelah jalan raya di sore hari. "Nanti, ikutin semua perkataan gue. Jangan ngebantah satu pun skenario yang udah gue buat." "Skenario apa-" "Gue mohon sekali lagi, bantuin gue, Cha." "Iya, tapi-" "Inget, lo cuma perlu hadir, lo cuma perlu berdiri di samping gue. Lo nggak perlu tahu urusan gue apa." ??? Motor besar itu berhenti di depan rumah Raga. Echa mengernyit kala menatap tiga buah mobil terparkir rapi di depan rumah besar itu. Ini yang dibilang tempat yang tidak bisa dia bayangkan? Ais, ada-ada saja. Eh, tapi bener juga sih. Echa sama sekali tidak berpikir jika Raga akan mengajaknya ke rumahnya. Deheman Raga membuat Echa sadar jika dia harus segera turun. Setalah kakinya memijak tanah, gadis itu melepas jaket yang dia pakai dan diserahkan pada Raga. "Nggah usah nanya-nanya dulu." Echa melirik Raga yang lagi-lagi mengingatkannya untuk tidak bertanya perihal urusan Raga. Oke, Echa bisa terima. Tugasnya di sini hanya menuruti kemauan Raga dan membalas kebaikan Raga kepadanya. "Iyaaa." Seorang wanita paruh baya dengan blus berwarna merah marun keluar dari rumah besar Raga, Natasha. Natasha menyambut Raga dan Echa dengan senyum hangatnya. Namun, Echa bisa melihat dengan jelas jika Natasha tampak bertanya-tanya dengan keberadaannya di sana. "Mari, masuk." Echa mencium tangan Natasha dan terkejut kala Raga hanya melewati mamanya. Tanpa sapaan, tanpa mencium tangan, atau bahkan menatap Natasha. Melihat keterkejutan Echa, Natasha tersenyum tipis. "Udah biasa kayak gitu, jangan kaget." Sosok ibu itu tertawa kecil membuat dasar hati Echa terasa nyeri. "Raga yang ngajak kamu?" Echa mengangguk kecil. "Dia nggak bilang ini acara apa?" Natasha mengusap bahu Echa. Lagi-lagi Echa menggeleng. Mana mungkin dia akan memberi tahu Natasha jika Raga memintanya untuk datang ke rumahnya tanpa boleh tahu acara apa yang akan dia datangi. Tapi, saat manik mata hitam pekat itu melihat Lauren dan sepasang orang tua yang duduk di sisi-sisinya, Echa tau, keberadaannya tidak diinginkan. "Dia pacar saya." Semua pasang mata termasuk Echa menatap Raga yang sekarang berdiri di samping Natasha. "Ya 'kan, Ma?" Natasha menatap pria paruh baya yang duduk di sebelah kanan Lauren, Bayu. Papa Lauren itu menatap Natasha dengan raut kecewa. "A-aku, aku nggak tahu sama sekali kalau Raga udah punya-" "Ma, nggak tahu gimana? Bukannya Mama udah kenalan sama Echa sewaktu Raga dirawat di RS habis tawuran dulu?" Natasha menghadap Raga sepenuhnya. Wanita itu memegang kedua bahu putranya dengan lembut. "Setahu Mama, dia cuma temen kamu, Sayang." Raga terkekeh sinis. "Temen? Ada temen yang bela-belain jagain Raga semaleman? Ah, bukan gitu. Mungkin, seorang temen bisa. Tapi, emang pernah Raga sedeket ini sama perempuan??" Natasha menggigit bibir bawahnya. Dia tampak cemas dan merasa bersalah dalam satu waktu. Matanya sesekali melirik Bayu dan isterinya, Dilla. "Mas Bayu, Dilla, aku benar-benar nggak tahu kalau Raga sama Echa pacaran." Bayu berdiri dari duduknya. Pria itu menatap isterinya sambil mengisyaratkan agar Dilla ikut berdiri. Bayu menatap Natasha dengan senyum tipis. "Aku pikir makan malamnya besok aja, setelah kamu bisa mengambil keputusan. Ya 'kan, Sayang?" Bayu berganti menatap Dilla. Dilla ikut tersenyum dan mengangguk. "Iya, aku rasa kamu perlu menyelesaikan sesuatu dengan putramu yang satu ini, Sha." Natasha tahu pasti, di balik senyuman sepasang suami isteri itu, mereka merasa kecewa kepadanya yang tidak tahu apa-apa mengenai putranya sendiri. "Aku benar-benar minta maaf, tapi sebaiknya kita tetap makan malam bersama. Lagi pula kalian udah lama nggak nyobain masakan buatanku," Natasha memohon. Bayu lagi-lagi tersenyum. Dia mengusap puncak kepala Lauren. Anaknya itu sudah ingin menangis sejak tadi. "Gimana aku bisa makan di sini kalau anakku aja lagi mendung? Ayolah, Sha. Kita sahabatan sejak dulu. Cuma masalah seperti ini aku bisa memakluminya, apalagi hubungan kamu sama anakmu memang sedang nggak bagus. Jadi, aku juga harus bijaksana. Membiarkan kita makan malam bersama hanya akan membuat anakku sakit hati." Dilla berjalan menghampiri Natasha. "Benar kata suamiku, Sha. Ini bukan sepenuhnya salah kamu, tapi kami juga nggak bisa biarin Lauren ngeliat Raga mesra-mesraan sama kekasihnya nanti. Mungkin lain kali aja aku dan Mas Bayu makan di sini lagi." Natasha tersenyum kecut. "Maafin Tante, ya, Ren." Natasha menatap Lauren yang berada di dekapan Bayu. Gadis berambut panjang itu menatap Echa penuh kebencian. "Lauren nggak mau tahu, Tante udah janji sama Lauren." Bayu menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak ada yang tahu garis Tuhan, Sayang." "Tapi, Pii, aku-" "Kita pulang saja." Bayu menarik bahu putrinya agar berdiri. Dengan kesal, Lauren berdiri dan mengambil tasnya. "Tante udah janji, janji harus ditepati." Gadis itu mendahului Bayu bersalaman dengan Natasha dan berjalan tergesa keluar rumah. "Maafin Echa, Om, Tante." Echa yang sejak tadi hanya terdiam menyaksikan kejadian tadi akhirnya buka suara. Gadis itu menatap Bayu dan Dilla dengan air menggenang di pelupuk mata. Bayu dan Dilla tersenyum hangat. "Nggak apa. Tante sama Om malah bersyukur kamu dateng. Setidaknya kita belum melangsungkan pertunangan Raga dan Lauren." "Iya, benar. Kita jadi tahu kalau Raga nggak sendiri." Tunggu, pertunangan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN