c h a p t e r [8]

1702 Kata
Keenan's POV Aku menatap bingung bercampur kaget ke arah halaman rumahku. Kemana perginya motor Gibran? Apa Gibran udah pulang? Tapi kok nggak pamit? Pikirku menerka-nerka kemana perginya motor milik Gibran. Dengan cepat, aku langsung menoleh ke arah rumah dokter Ferdi. Dan yang aku dapatkan adalah keadaan halaman rumah yang kosong. Apa dokter Ferdi pergi sama Gibran? Pikirku kembali menerka-nerka. Aku tersadar saat seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati kak Ryan, kak Syilla, mama beserta papa sedang menatapku dengan pandangan bingung. "Kok ngelamun sih anak papa?" tanya papa padaku. "Tadi katanya mau pergi ke rumah dokter Ferdi." iya tadinya! Sekarang aku nggak tau mereka dimana. "Hmm, tadi Gibran ada pamit nggak?" tanyaku entah kepada siapa. Entah kenapa perasaanku mendadak tak enak. "Nggak. Oh iya mama lupa, Gibran tadi pergi sekolah bareng kamu kan? Mama pikir dia udah pamit sama kamu kalau dia mau pulang." jawab mama. "Tadikan mama ngeliat sendiri kalo Gibran ada disana sama dokter Ferdi." ucapku sambil menunjuk rumah dokter Ferdi. "Ya mama fikir, waktu kamu masuk rumah, Gibrannya juga ikutan pulang. Terus pamit sama kamu." aku hanya dapat menghela nafas. "Yaudah, jangan terlalu difikirin, banyak fikiran itu juga nggak bagus buat kesehatan." ucap kak Ryan. "Yaudah kalau gitu, aku sama Syilla berangkat dulu ya ma, pa, Kee." pamit kak Ryan. Aku, mama, dan papa melihat mobil kak Ryan hilang dari pandangan. Lalu setelah itu mama dan papa memilih masuk ke dalam rumah, sedangkan aku memilih berjalan ke arah halaman rumah dan duduk di salah satu ayunan yang papa buatkan sejak aku TK. Tak ada yang aku lakukan selain melamun memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Gibran. Apa dia sudah ada di rumah sekarang? Apa dia sudah mandi? Apa yang dia lakukan sekarang? Aku tersadar dari lamunanku saat mendengar sesuatu dari sampingku, tepatnya rumah dokter Ferdi. Aku melihat dokter Ferdi yang berjalan memasuki rumah dengan terburu-buru dengan meninggalkan mesin mobil yang masih menyala. Lalu kembali keluar dan memasuki mobilnya. Aku yang mengetahui kalau mobil itu sebentar lagi akan berjalan langsung berlari dan keluar dari pagar. Saat mobil dokter Ferdi hampir sampai di depan rumahku, langsung saja aku berdiri di tengah jalan berharap agar dia memberhentikan mobilnya. Tapi seolah tak peduli, dia tetap menjalankan mobilnya dan aku dengan cepat menyingkir takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Aku merungut kesal. Kenapa semua orang seperti tak peduli padaku. Akhh, mama, Keenan kesel. Dengan malas aku kembali duduk di ayunan. Kenapa aku seperti terbebani sesuatu? Kenapa semenjak aku berkenalan dengan Gibran semuanya jadi terasa berbeda? Jujur aku bahagia karena dapat berkenalan dengan Gibran. Tapi, tetap ada perasaan lain yang mendominasi, ditambah dengan sikap dokter Ferdi dan Gibran apabila mereka bertemu. Aku masih saja melamun sampai tersadar ada sebuah benda hangat yang menempel di pipiku. Dari aromanya saja aku tau benda apa yang menempel dipipiku saat ini, segelas s**u favoritku. Aku mendongak dan mendapati mama menatapku sambil tersenyum, sedangkan papa memilih untuk duduk dirumput di samping kiriku. Setelah mengambil segelas s**u dari tangan mama, mama memilih duduk di ayunan sebelahku. Sudah lama aku tidak seperti ini. Biasanya dulu, setiap sore, aku dan kak Ryan akan bermain disini. Dengan papa yang sibuk mengayunkanku dan mama sibuk mengayunkan kak Ryan. "Lagi mikirin apa?" aku menatap papa yang barusan bertanya padaku. "Nggak lagi mikirin apa-apa." "Anak papa nggak bisa bohong, sayangnya bakat acting papa itu nurunnya ke kakak kamu. Nah sifatnya mama kamu baru turun ke kamu. Salah satunya, nggak bisa bohong." aku menatap papa dan mama secara bergantian. "Keenan bingung." ucapku menghelas nafas lelah. "Bingung kenapa? Masalah Gibran?" tanya mama. "Nggak tau. Kee bingung! Tapi Kee nggak tau karna apa." jawabku sambil mengayunkan ayunanku. "Mama juga pernah kayak gitu. Tapi habis itu mama lebih milih tidur sih." ucap mama. Aku memandang mama, mengangguk samar, lalu beranjak dari ayunan. Setelah mencium pipi mama dan papa, aku memilih masuk rumah dan menuju ke kamar. "Kee." panggil papa membuatku menoleh ke belakang. Kulihat papa berdiri dan berjalan ke arahku. "Kamu tidur! Tapi waktu bangun nanti, papa nggak mau liat princess kesayangan papa murung lagi. Kalo kamu butuh temen buat cerita, papa sama mama selalu ada buat kamu." ucap papa mencium keningku. Hatiku menghangat mendengar ucapan papa. I feel so lucky. Aku berjalan memasuki rumah dengan langkah pelan. Menaiki tangga. Dan memasuki pintu kamarku. Aku merebahkan kepalaku ke kasur dan memilih untuk menutup kedua benda yang sedari tadi ingin meneteskan air bening. Sesuatu itu akhirnya meluncur pelan keluar dari mataku. Selalu seperti ini. Apabila memiliki beban pikiran yang aku sendiri tidak tau, aku akan berbaring sambil menangis. Sampai kurang lebih sepuluh menit aku seperti ini, setelah itu aku memutuskan untuk tidur. ----- Aku terbangun saat mendengar ketukan di pintu. Kulihat jam di atas nakas dan langsung kaget. Sudab maghrib, dan suara kajian dari Masjid pun terdengar. Aku langsung menjawab panggilan mama dari balik pintu dan mengatakan padanya kalau aku sudah bangun. Selagi belum azan, dengan cepat aku berjalan ke kamar mandi dan langsung bersih-bersih. Setelah selesai aku langsung mengenakan pakaian dan mengambil mukenahku lalu langsung memakainya dan keluar dari kamar. "Papa udah pergi, ma?" tanyaku saat melihat mama yang baru keluar dari kamarnya, dan kulihat mama hanya tersenyum penuh arti sambil mengangguk. "Mama nggak shalat?" "Lagi nggak, udah sana! Keburu telat ntar." seakan sadar, aku langsung berjalan ke arah pintu. Berlari secepat mungkin ke Masjid yang tidak jauh dari rumah. Saat sampai, ternyata orang baru akan memulai shalat. Dengan cepat aku mengambil tempat dan mulai mengikuti gerakan imam. Selesai shalat maghrib, aku berjalan keluar masjid dengan langkah tenang. Saat sedang mencari sandal, sebuah suara yang begitu aku kenal memanggilku. "Hai Kakee." panggilnya membuatku gemas. Sudah seringkali aku memintanya untuk mengganti nama panggilanku itu. "Hai, lama nggak liat lo." ucapku pada perempuan yang barusan menyapaku. Kiko, perempuan yang sedang duduk di kelas satu SMA ini bisa dibilang sangat dekat denganku, Mikha dan Remy. Sebenarnya nama Kiko itu adalah Kasheefa Irasya Kehara Odelia. Ya, diambil dari masing-masing huruf awal namanya. Dan jadilah, KIKO. "Iyanih, di sekolah banyak kegiatan habisnya kak. Ditambah tugas kelompok yang banyaknya kayak bulu keteknya bang Baron." fyi, bang Baron itu adalah tukang batagor yang biasanya keliling komplek kalo sore. Bingung, emangnya bulu ketek bang Baron banyak ya? Kok si Kiko bisa tau sih? Aku yang dari dulu selalu beli batagornya bang Baron, sampe sekarang nggak pernah liat bulu keteknya. Karna bang Baron selalu pake kaos lengan panjang. Kadang juga pake jacket. Jadi nyesel kenapa tadi sore aku jadi orang ga jelas banget. Padahal tadikan niatnya mau ngajakin Gibran makan batagor bareng. Tapi karna badmood melanda, yaah aku bisa apa. Tapikan Gibran tadi tiba-tiba ngilang, haduuuh. "Kakee, tadi pagi ni ya, kalo Kiko gasalah liat, Kakee dijemput Kagib ya?" lagi-lagi aku menghela nafas, kenapa sulit sekali merubah kebiasaannya Kiko. Kakee, Kagib, Kamik, Karem, dan waktu itu ada salah satu temanku bernama Winda yang aku kenalkan dengan Kiko, dan lagi, dia memanggilnya dengan sebutan, yah kalian pasti tau, Kawin. "Iya, dia jemput!" jawabku, kami berdua terus berjalan sambil memegang mukenah masing-masing. Seperti orang gila, aku dan Kiko berjalan di tengah jalan tersebut sambil menari tak jelas. Kegiatan kami berhenti saat mendengar suara klackson dari arah belakang. Dengan cepat kami melihat ke belakang. Dan aku mendapati ternyata mobil dokter Ferdi beserta orangnya sudah ada kurang lebih 30 cm di belakang kami. Aku dan Kiko langsung minggir berniat memberi jalan untuk dokter Ferdi. Tapi ternyata dia tidak memilih lanjut jalan melainkan keluar dari mobilnya dan menghampiri kami berdua. "Ini tetangga baru itu bukansih?" tanya Kiko penasaran. "Kenalkan, saya Ferdi." ucap Ferdi sambil mengulurkan tangannya. "Hai om Ferdi, nama aku Kiko." jawab Kiko sambil nyengir lebar. "Om?" tanyaku tak percaya memandang Kiko dan tawaku langsung saja meledak. "Kiko, dokter Ferdi ini kayaknya masih muda deh." "Eh," Kiko terlihat salah tingkah. "Maafin Kiko ya dokter Ferdi." Kulihat dokter Ferdi tertawa kecil melihat kelakuan Kiko. "Dari masjid?" tanyanya memandang mukenah kami. "Iya dok, gue sama Kiko baru selesai solat maghrib." ucapku, baru ingin pamit tiba-tiba terdengar suara berat papa. "Hei. Ngapain ngobrol disini?" tanya papa bingung. "Nggak ada pa. Tadi kita ketemu dokter Ferdi disini." jawabku. "Oh gitu. Oh iya Ferdi, makan malam hari ini ke rumah om ya, tante Nanda masak banyak soalnya." ucap papa. Kenapa pake suruh dokter Ferdi dinner bareng sih? Duhaduh. "Om Kendra, kok yang diajak cuma dokter Ferdi sih. Kiko kan juga mau." ucap Kiko manja sambil bergelayut manja dilengan papa. "Yaudah Kiko juga ikut. Ayah sama bunda emangnya kemana?" tanya papa memandang Kiko. "Ayah sama bunda jam segini mungkin masih dijalan om. Pagi tadi mereka ke Bandung, liat oma sama opa. Terus tadi sms Kiko, suruh Kiko makan malem di rumah om sama tante." ucap Kiko. Entah kenapa aku sering gemas apabila melihat Kiko bicara panjang lebar plus frontal. "Oh gitu, yaudah kalo gitu. Kita pulang sekarang. Ferdi jangan lupa dateng ya." setelah mendapat anggukan sopan dari dokter Ferdi kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah. -------------- Kini aku dan dokter Ferdi sedang duduk di lantai teras rumah dokter Ferdi. Setelah makan malam aku mengajak dokter Ferdi kesini. Aku hanya ingin mengobrol ringan dengan dokter Ferdi. Sedangkan Kiko sudah kembali ke rumahnya karna ayah dan bundanya sudah sampai. "Ngapain sih dok, lo natap gue kayak gitu?" tanyaku gerah karna sedari tadi dokter Ferdi tak berhenti menatapku. "Enggak, ternyata kalo kamu kalem gitu, cantik kamu keliatan." apa apaan si dokter, mau gombalin aku gitu?? "Ha. Ha. Lucu lo dok" Ucapku menatapnya datar. "Beneran!" "Diem lu dok. Eh dok, lo tau nggak si Gibran kemana?" tanyaku berusaha menyampaikan niat utamaku mengajak dokter Ferdi bicara. "Mending kamu tanya Gibran." ucap dokter Ferdi sambil tersenyum kecut. Kenapa ni si Dogi? Galau karna Gibran? Atau dia suka Gibran? Haaa ngacooo. "Gak asik lu dok" ucapku kemudian kami kembali diam. Dan yaah, awkward moment. "Kee." kudengar seseorang memanggilku dari arah pagar dan langsung saja aku menoleh. Kaget! Kenapa dia kesini? --------- Author's POV Seorang lelaki tengah termenung di balkon kamarnya. Jujur dia lelah untuk terus berbohong. Ingin rasanya dia langsung berbicara jujur pada seseorang. Tapi rasanya sangat berat. Dan yang bisa dia lakukan hanya terus bermain peran sebaik mungkin. Tapi sekarang, dia kembali berdiri di dua jalur. Akankah dia terus bertahan di jalur pertama dan melanjutkan actingnya atau dia harus memilih jalur kedua dengan pergi menjauh.   Kira-kira siapa yang ada di balkon?? Vomment-nya ditunggu ya:3  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN