Chapter 1 - Satu Tahun Berlalu

1312 Kata
Hari ini tepat satu tahun Arkan dan Thalia berjauhan. Arkan terlihat sedang bersiap- siap untuk berangkat kuliah. Tidak ada semangat untuk hari ini, tapi dia tahu, banyak waktu yang harus dia perjuangkan. Waktu untuk mengejar cita-citanya, waktu untuk memperbesar bengkel peninggalan Ayah Arsyil, dan waktu untuk menunggu kekasihnya pulang dari Berlin. Thalia, dia kekasih Arkan yang sedang mengejar cita-cita di Berlin. Mereka sudah bertunangan, tapi belum resmi. Kata Bunda dan Abahnya, sebelum mereka berpisah cukup lama, mereka harus ada ikatan terlebih dulu. Meski belum resmi, dan hanya di ketahui dua pihak keluarga, keluarga Arkan dan keluarga Thalia. “Tidak terasa, sudah genap satu tahun Thalia di Berlin. Sepi? Iya, rasanya sepi sekali hati ini tanpa si jutekku. Dia memang jutek, menyebalkan, tapi aku selalu merindukan sifat itu yang ada pada dirinya. Katanya Thalia, jangan pernah berkata rindu, karena rindu itu menyakitkan, apalagi yang di rindukan orangnya jauh, tidak bisa bertemu langsung,” gumam Arkan. Dia melihat foto Thalia yang berada di meja kecil dekat tempat tidurnya. Arkan tersenyum memandangi foto kekasihnya itu. “Kamu tahu, Sayang? Menurutku, rindu itu indah, seindah alunan nada cinta, yang aku pun tak tahu nadanya seperti apa. Rindu itu memang indah, walaupun sedikit menyiksa karena tidak bisa bertemu dengan yang dirindukan. Dengan merindukanmu, aku bisa mengenang saat-saat indah bersama kamu, Sayang.” Arkan berkata lirih sambil menatap foto Thalia dan dirinya. Dering ponsel Arkan terdengar sangat nyaring. Dia langsung melirik jam di dinding kamarnya. Benar, sudah pukul 7 pasti Thalia memanggil lewat video call, meski di sana masih petang, mungkin sekitar pukul 2 dini hari, Thalia pasti mengabari Arkan, Arkan langsung mengangkatnya “Pagi, sayang,” sapa Thalia dengan wajah yang masih kusut, karena baru bangun tidur. “Pagi juga, Sayang. Aku sudah bilang, kalau masih ngantuk, tidak usah Video Call,” jawab Arkan. “Aku ingin lihat kamu yang mau ke kampus,” ucap Thalia dengan manja. “Hmmm... Cuma itu saja?” tanya Arkan. “Aku kangen,” keluhnya dengan manja. “Simpan kangennya, nanti pasti kita bertemu,” ucap Arkan. “Aku berangkat dulu, ya?” pamit Arkan. “Hmmm... sama siapa?” tanya Thalia. “Sendiri lah, maunya sama kamu,” jawab Arkan. “Ya sudah hati-hati, jaga mata dan jaga hati.” Thalia berbicara dengan menampakkan wajah yang manja di depan kameranya, yang membuat Arkan gemas memandangnya. “Itu pasti, sayang. Kamu juga,” ucap Arkan. “Kamu hari ini berngkat ke kampus?” tanya Arkan. “Iya, berangkat lah,” jawab Thalia. “Sama Danish lagi?” tanya Arkan dengan agak berat. “Iya, sama Danish, tidak apa-apa, Kan? Dia juga sepupu kamu,” jawabnya. “Iya, tidak apa-apa,” jawab Arkan dengan nada yang berat. “Sayang, kok wajahnya ditekuk gitu?” tanya Thalia. “Enggak, enggak apa-apa. Aku gak semangat aja mau kuliah,” jawab Arkan. “Kamu cemburu?” tanya Thalia lagi. “Tidak, cemburu kenapa?” Arkan mengelaknya, padahal dia memang sedikit tidak enak hati, karena Thalia berangkat kuliah bersama Danish lagi. setelah mengenal Danish, hampir setiap hari Thalia bersama dengan Danish. Kurang lebih 15 menit mereka mengobrol via Video Call. Akhirnya Arkan mengakhiri Video Call dengan Thalia. Arkan masih memegang ponselnya dengan duduk di tepi ranjang. Hatinya selalu tidak rela kalau Thalia setiap hari dengan Danish. Memang Danish adalah sepupunya, tapi tetap saja Arkan tidak rela Thalia bersama Danish. Danish anak dari Zidane, sepupu Annisa. Dia seumuran Arkan, tapi lebih muda satu tahun dari Arkan. Dia kuliah bersama dengan Thalia, di Universitas yang sama, dan satu jurusan yang sama dengan Thalia. Arkan tidak menyangka, Danish akan akrab sekali dengan Thalia. Apalagi Papahnya Thalia dengan Zidane teman akrab, boleh di bilang mereka  bersahabat sejak dulu. Arkan mencoba menepiskan rasa curiganya dengan Danish, yang menganggap kalau Danish itu menyukai Thalia. Arkan sebisa mungkin percaya dengan Thalia, kalau Thalia pasti akan memegang janjinya, apalagi mereka sudah memiliki ikatan, meski setengah resmi dari pertunangan. Zidane dan Istrinya, Monica, juga tahu kalau Thalia adalah kekasih Arkan, karena Leon, papahnya Thalia, menceritakan semua pada mereka. Danish pun demikian, dia juga tahu kalau Arkan adalah kekasih Thalia. Arkan keluar dari kamarnya, abah dan bundanya sudah menunggu dia di ruang makan. Arkan mendekatinya, ada Dio dan Rania juga di sana, karena semalam mereka menginap di rumah Abah. Kiara yang meminta menginap di sini, karena dia kangen sama Opa dan Omanya. “Pagi bunda, abah.” Arkan mencium bunda dan abah. “Pagi, Kak. Hai cantik, kamu sudah bangun?” Arkan mencium pipi Kiara yang bulat dan menggemaskan. “Pagi, Arkan,” jawab mereka semua. “Kamu kelihatannya tidak semangat pagi ini?” tanya bunda. “Siapa bilang, aku sedang semangat kok,” jawab Arkan dengan mendudukan dirinya di kursi dan meneguk air putihnya. Mungkin Annisa tahu apa yang sedang  dirasakan putranya pagi ini. Memang dia sedang tidak ada semangat hari ini, apalagi tadi mendengar Thalia mau berangkat dengan Danish. Arkan tahu mereka hanya berteman, tapi Arkan selalu yakin Danish memiliki perasaan pada Thalia. “Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku percaya dengan Thalia,” gumam Akan sambil mengunyah makanannya. “Kenapa? Lagi uring-uringan sama Lia lagi?” tanya Arsyad, abahnya. “Ya gitu, maklum bah, kita jauh jadi gini,” jawab Arkan. “Ya tidak begitu juga, Arkan. Kalau saling percaya pasti lancar-lancar saja kok,” imbuh Dio. “Iya juga sih,” jawab Arkan. “Oh iya, bunda kenal Danish, kan?” tanya Arkan pada Bundanya “Iya, Danish anaknya Paman Zi, bukan?” jawab Annisa. “Iya benar, dia ternyata satu kampus dengan Thalia,” ujar Arkan. “Dia kuliah? Bukannya Zidane kemarin bilang anaknya sedang sakit-sakitan, Bun?” tanya Arsyad pada Annisa. “Iya, katanya sudah lama sakit, kok kuliah? Apa mungkin sudah sembuh?” jawab Annisa, yang sempat tidak percaya kalau Danish keponakannya sekarang kuliah. Padahal saat mau kelulusan, Danish sakit-sakitan. “Aku tidak peduli Danish sakit atau apalah, aku hanya khawatir, Thalia berpaling dariku karena dia. Karena  Danish yang selalu menemaninya, bukan aku. Rasanya aku benar-benar tidak enak sekali setiap mendengar Thalia menyebut nama Danish. Apalagi dia bilang kalau dia akrab juga dengan Bibi Monic, mamahnya Danish.” Arkan bergumam, hatinya berontak, karena Thalia semakin dekat dengan sepupunya. Arkan pamit untuk berangkat ke kampus. Pagi ini Arkan sebenarnya tidak ingin ke kampus. Tadi dia sempat mau putar balik, dan ke bengkelnya saja, tapi dia mengurungkan niatnya untuk ke Bengkel. Arkan tidak ingin kacau seperti ini hanya masalah cinta. Dia percaya dengan Thalia, kalau Thalia hanya berteman dengan Danish, entah Danish suka atau tidak pada Thalia Arkan tidak peduli, dan tidak mau pusing mengurusinya. Selama Thalia masih mencintainya, dia percaya suatu saat nanti Thalia akan menjadi miliknya, selamanya. Mungkin mereka memang sedang di uji seperti ini. Terpisah oleh jarak dan waktu hanya karena cita-cita. Arkan juga tidak ingin terlalu egois dengan Thalia, karena Thalia juga butuh fokus dengan kuliahnya. Arkan sebisa mungkin tidak boleh egois dan selalu curiga soal kedekatan Thalia dengan Danish, toh Danish tahu kalau Arkan adalah kekasih Thalia, dia juga tahu kalau Arkan sudah sudah ada ikatan dengan Thalia. Arkan sudah sampai di kampus, dan dia masih duduk di atas sepeda motornya sambil membaca pesan dari Thalia. Thalia tahu kalau Arkan sebenarnya sedang cemburu dengan Danish. “Jangan ngambek terus, sayang. Aku sama Danish hanya berteman saja. Aku tahu, kamu khawatir dengan aku yang di sini, yang selalu bersama Danish. Tapi, kamu ingat, cintaku hanya untuk kamu, dan takkan pernah terganti.” Hati Arkan sedikit lega, setelah Thalia mengirim pesan seperti itu padanya. Memang dia sangat peka sekali kalau Arkan sedang tidak enak hati karena Danish. “Kamu juga tidak akan pernah tergantikan, Lia. Hanya kamu yang aku cintai, aku percaya dengan kamu. Tetap semangat, Sayang. Raih mimpi dan cita-citamu.” Arkan memasukan ponselnya ke saku celana lagi setelah membalas pesan Thalia. Dia melepas jaket kulitnya dan bersiap untuk mengikuti mata kuliah hari ini. Arkan berjalan menuju ke kelas, dan dia sudah sedikit semangat karena mendapat pesan dari Thalia tadi. “Aww...!” Seorang Mahasiswi perempuan menabrak Arkan dan jatuh di dekat Arkan “Hati-hati dong kalua jalan!” tukas Arkan. “Maaf, Kak, saya gugup soalnya.” Dia berdiri langsung berlari setelah meminta maaf pada Arkan, sepertinya dia mahasiswa baru, yang datang terlambat. Aku melihat lagi sepeda motor yang ada di sebelahnya. Sepeda motor dengan gaya Klasik itu parkir di sebelah sepeda motor Arkan. Sepeda motor itu milik mahasiswa yang menabrak Arkan tadi karena buru-buru ada kelas pagi. “Dia yang tadi memakai sepeda motor yang parkir di sebelahku. Klasik banget sepeda motornya. Jarang-jarang cewek pakai sepeda motor seperti itu, selama aku kuliah di sini, yang ada cewek-cewek di sini kuliah pakai mobil. Biarlah, itu bukan urusanku, lagian dia juga tadi ngaku salah kalau dia buru-buru mau ke kelas.” Arkan bergumam dengan berjalan menuju kelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN