Bab 7. Rasa Bersalah

1035 Kata
Setelah mendapatkan penanganan khusus dari rumah sakit, Dava pun pulang ke rumah, meninggalkan sang ibu di rumah sakit dengan ditemani oleh Laras juga Heru. Begitu sampai di rumah, ia berjalan ke lantai atas, mencari keberadaan Hanum di dalam kamarnya. Saat membuka pintu kamar, terlihat Hanum sedang tertidur pulas di atas ranjang, lalu Dava berbaring di sebelahnya dan memeluk Hanum dari belakang. Merasakan kehadiran seseorang, Hanum pun bangun dari tidurnya. "Mas Dava, kamu udah pulang?" "Iya," jawab Dava singkat. Hanum mengusap punggung tangan Dava yang melingkar di perutnya. "Maaf aku tidur duluan. Tadi habis minum obat anti nyeri, tapi malah ngantuk banget." "Nggak apa-apa, Sayang. Seharusnya aku yang minta maaf karna pulang terlambat." "Nggak masalah. Yang penting kamu pulang dalam keadaan utuh, sehat, dan baik-baik aja." Hanum bicara sambil tersenyum tulus. "Kamu nggak marah?" tanya Dava lagi. "Marah kenapa?" Hanum balik bertanya. "Aku pergi menemui teman-teman sampai larut malam." Hanum merubah posisi tidur yang tadinya memunggungi Dava, sekarang posisi tidurnya saling berhadapan. "Apa pun yang membuat kamu senang. Aku sama sekali nggak keberatan, Mas. Selama yang kamu lakukan masih dalam tahap wajar, bukan mabuk-mabukan, apa lagi main perempuan." Dia menatap wajah Dava lekat-lekat, mengusap sebelah pipi Dava dengan lembut. "Di luar, aku bisa melakukan apa saja. Apa kamu yakin sama aku?" Sambil tersenyum Hanum mengangguk. "Aku percaya sama kamu kalau kamu nggak mungkin melakukan itu." Tiba-tiba saja Dava meneteskan air matanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan demi menutupi beban di pundak yang terasa sangat berat. Satu sisi dia sangat mencintai Hanum dan tidak mau mengkhianatinya, tetapi di sisi lain dia juga seorang anak dari seorang ibu yang tidak bisa mengabaikannya begitu saja kebahagiaannya apa lagi kalau sudah menyangkut nyawa. Tentu Dava tidak mungkin tinggal diam. "Hei, kenapa nangis, Mas? Apa aku melakukan kesalahan?" Rasa khawatir terlihat jelas dari raut wajahnya. Dava mengusap air mata yang sudah terlanjur keluar, lalu tersenyum berusaha menyamarkan kesedihannya. "Kamu nggak pernah melakukan kesalahan, Hanum. Aku yang banyak melakukan kesalahan terhadap kamu. Kamu begitu baik, bahkan saat aku pulang terlambat pun kamu nggak marah. Padahal tadi aku habis kumpulan sama temen-temen," ujar Dava menatap sendu. "Aku memiliki kekurangan, Mas. Sampai sekarang aku belum juga hamil, kita belum memiliki keturunan, kamu pasti kesepian di rumah cuma berdua aja sama aku. Aku rasa kalau kamu mau keluar untuk bersenang-senang bersama teman kamu, nggak ada salahnya. Kamu juga butuh hiburan." "Sumpah demi apa pun, aku sangat beruntung memiliki istri seperti kamu, Hanum. Aku adalah pria paling beruntung di dunia ini." "Beruntung apanya? Hamil aja aku nggak bisa." "Sseett ... jangan bilang kayak gitu." Dava meletakkan jari pada bibir Hanum. "Bukan nggak bisa, Sayang. Tapi belum. Allah masih pengen kita merengek meminta kepadanya. Allah masih pengen kita merayu dengan terus berdoa dan berusaha tanpa miliki prasangka buruk." "Mungkin. Kita harus terus berusaha meyakinkan sang pencipta kalau kita juga sudah layak jika dititipkan keturunan." "Iya, Sayang. Jangan berhenti berusaha dan terus berdoa. Tidak ada doa yang sia-sia, apa lagi kita memintanya dengan tulus, dengan keimanan." Hanum mengangguk, lalu memeluk Dava dengan erat. "Akan aku ingat, Mas. Tidak ada doa yang Allah sia-siakan. Hanya waktunya saja yang belum tepat Allah mengabulkan permintaan kita." "Iya, sayang. Semua akan indah pada waktunya." Trus Dava memeluk Hanum penuh cinta dan kasih sayang. Dava memejamkan matanya erat sambil memikirkan kejadian tadi. Saat ia menyetujui keinginan sang ibu yang menginginkan dirinya menikahi Nara. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Hanum jika mengetahui itu semua. Andai saja dia bisa pergi melarikan diri, makan hal itu akan ia lakukan bersama Hanum saat ini juga. *** Setelah Dava mengatakan iya setuju menikahi Nara, Nani langsung menghubungi Nara di pagi harinya. Bahkan matahari saja belum muncul di permukaan dan hal itu membuat Nara bahagia. Dia pergi ke kantor dengan semangat lima puluh bila perlu. Dia merias dirinya sedemikian rupa, lebih cantik dari biasanya. "Seneng banget nih kayaknya." Seorang karyawan menyapa Nara yang Barus saja masuk ke dalam pabrik melewati pintu utama. Mereka berjalan naik ke lantai atas berdua. "Iya, dong," jawab Nara antusias. "Dapet togel lu, ya?" tebak wanita itu. "Enak aja. Nggak main gue yang kayak gitu-gituan." "Lah, senengnya nggak jauh beda sama orang yang habis dapet lotere." "Ini lebih dari lotre, lebih dari togel yang lu pasang dengan empat angka." "Anjir, bikin gue penasaran aja." Hanum tertawa. "Udah, tunggu aja tangan mainnya. Gue bakal jadi orang paling beruntung di dunia. Gue bakal menikah sama orang yang paling gue cintai selama ini. Gue bakal memiliki apa yang seharusnya gue miliki sejak dulu." Wanita itu belum mengerti apa maksud ucapan Nara. "Apaan sih emangnya, Ra? Lu mau nikah." Mereka berdua terus berjalan, lalu berhenti di ujung tangga di lantai dua. "Iya, gue bakal jadi nyonya." "Nyonya apaan? Nyonya tukang jualan cilok?" "Sembarangan aja lu. Lu liat aja nanti," seru Nara. "Udah, ah. Gue mau ke tempat kerja." Wanita itu mengambil jalan ke arah kanan, sedangkan Nara mengambil jalan ke arah kiri. Dia duduk di kursi kerjanya, lalu melihat ke arah dinding kaca di mana Dava berada. Namun sayang, dinding itu dalam keadaan tertutup oleh gorden yang dengan sengaja Dava rentangkan agar Nara tidak bisa melihat ke dalam. Yang namanya kolega kerja, pasti ada saja cara agar mereka bisa terhubung, pergi bersama, berbincang walau hanya seputar pekerjaan. Seperti saat ini, Nara yang ingin menemui Dava pun mencari alasannya. Dia mengambil berkas di atas meja, lalu menemui Dava di dalam ruang kerjanya. Nara mengetuk pintu, lalu membuka pintu setelah dipersilahkan oleh sang pemilik ruangan. Terlihat seorang Dava sedang duduk, matanya fokus pada layar laptop di depannya. Tanpa melihat ke arah Nara, Dava bertanya, "Ada apa?" "Jam sembilan, pak Hartoyo minta kita hadir di rapat bulanan bersama karyawan produksi," jawab Nara sambil memegangi buku agenda di tangannya. Saat ini dia berdiri di depan meja kerja Dava. "Hhmm," respon Dava tanpa bicara. "Pak Bintang meminta agar Pak Dava bisa datang ke restoran dia nanti sore, Pak." "Oke. Ada lagi?" "Nanti siang setelah makan siang kita punya jadwal menemui ibu pak Dava di rumah sakit." Tangan Dava langsung berhenti mengerti ketika Nara berkata demikian. Dia menatap ke arah Nara dengan tatapan yang sama sekali tidak enak dilihat. "Aku hanya memenuhi keinginan ibunya Pak Dava," lirih Nara dengan memasang wajah sendu. "Aku tau, tapi sebelum itu kita harus bicara dulu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN