Saat naik kelas 2 SMA kami tidak satu kelas lagi. Aku duduk sebangku dengan Vika dia anak yang baik tapi kadang dia sangat mengganggu dan juga menyebalkan, dia sangat pandai dalam bahasa inggris, tapi aku sangat ingin mengalahkan dia dan aku yakin aku lebih pintar daripada dia. Pada suatu hari ada perlombaan tingkat SMA salah satu perlombaannya adalah tari tradisional, aku sangat senang ketika mendengar adanya perlombaan tersebut. Para peserta dipilih dari siapa saja yang dapat menari dengan lemah gemulai akan menjadi salah satu peserta yang dilombakan. Aku berlatih dengan keras dan berharap dapat lolos dan mengikuti perlombaan tersebut, aku lolos dalam babak pertama dan didapatkan 4 orang yang lolos yaitu Refika, Sofie, Kinanti dan Aku. Tetapi hanya 3 orang yang akan dilombakan. Aku semakin giat berlatih dan berharap aku sangat ingin mengikuti perlombaan tersebut. Penentuan pun dimulai, kami berkumpul dan menunggu hasil dari guru. “Siswa yang akan mengikuti perlombaan adalah Refika, Sofie, dan…” Jantungku berdetak lebih kencang, kepercayaanku pun menurun dan berpikir bahwa Kinanti pemenangnya, tidak mungkin dia memilihku apalagi dengan bentuk tubuhku yang tidak cocok bagi seseorang penari. “Siska!!!” “Alhamdulillah… horee!!!!” ucapku bahagia, aku langsung berpikir bahwa usahaku selama ini tidak sia-sia. Pemberitahuan itu sangat memberiku semangat untuk terus berlatih tanpa lelah, bersama teman-temanku yang selalu menyemangatiku. 2 hari latihanku terus berlalu dan melakukan dengan baik dan sebisaku. Lalu temanku Sofie yang juga satu kosan denganku memberitahukan sesuatu padaku. “Sis, katanya kamu mau diganti sama Kinanti??” Ucapnya. “Ndak tau aku, aku juga belum diberitahu” Ucapku. Aku sedikit syok mendengarnya, kenapa bukan bu guru yang memberitahuku pertama kali, kenapa harus temenku. Keesokan harinya aku berlatih seperti biasa dengan temanku dan aku mulai sangat bersemangat, tiba-tiba aku mendapatkan pesan dari bu Cika isi pesannya seperti ini “Siska, bu guru minta maaf kayaknya Siska fokus buat wisuda dulu” aku sudah menduga bahwa aku tidak terpilih tetapi ini sangat memalukan bagiku apalagi pengumuman dipilihnya aku di depan semua guru yang hadir, lalu aku membalas “iya bu..”, bu Cika pun membalas lagi “sekali lagi bu guru minta ma’af..”. Aku hanya terdiam membaca pesan dari bu guru, hal itu membuatku patah hati dan aku merasa sangat sulit bernafas. Aku langsung tertidur di sebelah Refika, menutup diriku dengan selimut dan aku mencoba tertidur sambil terus memikirkan apa yang dikatakan dari guruku. Rasanya dadaku sangat sakit seperti batu dan aku tidak bisa menahan tangisan ini. Aku pun menangis tanpa mengeluarkan suara aku meneteskan air mata tanpa mengganggu Refika yang sedang tertidur, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaanku tetapi bagi setiap orang yang sering merasakan kegagalan akan mengerti hal itu sampai akhirnya aku tertidur pulas. Keesokan harinya aku melakukan segala hal secara normal seakan-akan tidak terjadi sesuatu padaku, dan aku yakin mereka pasti sudah tau bahwa aku sudah digantikan. Aku tidak tau apa amanah dari cerita ini karena ini hanya sebuah kesalahan paham, mungkin amanahnya adalah jangan menyerah tapi jika mungkin kalian bisa menyimpulakan dari cerita ini.