Part 6

1483 Kata
Ashilla POV Perjalanan Bandung-Jakarta kemarin malam ternyata cukup menguras tenaga ditambah lagi paginya aku harus kembali sekolah. Akhirnya pagi ini kepala ku pusing saat hendak pergi ke sekolah. Selama di perjalanan menuju sekolah aku hanya banyak diam, begitupun dengan Cakka tapi aku tau Cakka sesekali melirik ku dari sudut matanya. Mungkin dia pikir aku lagi badmood. "Cepet turun," ucapanya yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Ah, ternyata kami sudah tiba di parkiran sekolah. Aku mengangguk, mengiyakan, kenapa sih dia nggak bisa romantis sedikit, buka pintu kek, eh tapi emang kami ini ada apa? "Hai Cakka," Cakka yang baru saja duduk dibangkunya disambut oleh sapaan Alika. Aku tidak bisa mengabaikan sapaan itu karena aku tepat berada disamping Cakka. "Hai," balas Cakka sambil tersenyum tipis. "Libur kemarin kemana?" tanya Alika. "Jalan- jalan ke Bandung sama Shilla sama keluarga dia juga," dari sudut mataku aku dapat melihat sudur bibir Alika yang berkedut. "Oh," ucap Alika dengan membentuk vocal 'O' dibibirnya. "Yaudah Kka, gue balik ke bangku gue ya," ucapnya lagi yang dibalas Cakka dengan anggukan. Good job. Sepanjang pagi aku dan Cakka sama sekali tidak saling bicara, aku juga malas memulai pembicaraan lebih dulu, begitu bel istirahat berbunyi aku langsung pergi bersama Ify dan Sivia ke kantin jadi tak ada kesempatan bagiku dan Cakka untuk bicara. "Eh Cakka kemana?" tanya Ify saat kami duduk dikursi kantin. "Gak tau deh," jawabku, sejujurnya aku memang tidak tau dia kemana begitu bel istirahat berbunyi. "Lo bedua berantem?" "Enggak," "Terus?" "Ya nggak ada," "Yakin?" "Iya Fy," "Keliatan kayak lo dan Cakka lagi berantem," Saat itu ada seorang anak kelas 10 yang memanggil Sivia ke kantor guru, Shilla merasa beruntung karena akhirnya ia terbebas akan pertanyaan tentang Cakka. "Ngapain?" tanya Sivia. "Ngambil surat izin Kak, surat izin study tour," ucap siswi itu yang membuat Sivia bergegas pergi. Berarti, ucapan Mama tentang study tour itu benar. * Cakka POV Aku benar-benar tidak tau apa kesalahan yang ku perbuat hingga sepagi ini Shilla sama sekali tidak mengajakku bicara. Dan saat diperjalanan pulang akhirnya ia angkat bicara karena aku tidak langsung membawanya pulang. "Mau kemana sih?" tanyanya, terselip nada kesal disuaranya. Aku menghela nafas kesal, "lo kenapa sih?" tanya ku akhirnya. "Kenapa?" Ia balik bertanya. "Gini deh, gue ada salah sama lo?" "Salah apa?" Dia kenapa lagi sih, gue nanya dan dia balik nanya. Kenapa cewek susah banget dingertiin? "Dari tadi lo diem aja? Lo sakit?" "Enggak," "Terus?" "Nggak ada! Kenapa nggak langsung pulang sih?" Aku menghela nafas panjang, "lusa Mama ulang tahun," ucapku, mengalihkan percakapan. "Mama minta kita dateng ke rumah," sambungku. "Ngapain?" tanyanya yang membuat ku mengernyit. "Makan malem katanya, yah gitu sambil syukuran ulang tahun Mama," "Hmm," Shilla diam sejenak lalu... "Eh, tapi gue belum siapin kado. Yaudah, ini langsung aja ke mall," ucapnya semangat, mendadak aku menekan pedal rem. Cewek gini banget modelnya, moodnya cepet banget berubah. "Kok ngerem mendadak si lo mau gue mati ya?" lanjutnya dengan nada marah. "Eh, sorry-sorry, " "Lo mau kan nemeni gue beli kado?" "Iya iya," dan saat itu juga Shilla sudah berubah menjadi Shilla yang cerewet. Kalau tau begini, bagusan dia yang pendiem deh. * Aku lebih seperti seorang anak yang mengintilin Ibunya sekarang. Shilla berjalan tepat didepan dan aku berada tepat dibelakangnya. Penyebabnya karena Shilla yang terlalu bersemangat membeli kado untuk Mama. Atau sebenarnya dia tidak percaya diri berjalan berdampingan dengan ku? Saat aku masih memikirkan itu tiba-tiba Shilla menarik tanganku dan menunjuk ke arah gaun yang dipajang di sebuah mannequin. "Cakka, liat... Ini bagus gak?" tanyanya. "Bagus," ucapku. "Tapi... Sepatu aja deh," ucapnya lagi memutuskan sendiri lalu mengajakku pergi ke toko lain. Kupikir selera Mama dan Shilla sama saja, ia memilih heels yang cukup rendah dengan warna gelap seperti sepatu Mama kebanyakan. Ku pikir Mama pasti akan menyukai pilihan Shilla. Namun raut wajah Shilla tiba-tiba saja berubah saat kami tiba dikasir. "Mampus gue!" ucapnya lalu memandangku dengan tatapan terkejut. "Kenapa?" Aku bertanya. "Dompet gue ketinggalan," ucapnya. Ingin rasanya aku tertawa saat melihat perubahan wajah Shilla itu. Meskipun tak habis pikir dengan kecerobohannya yang entah sudah keberapa kali, bagaimana mungkin dia bisa melupakan benda yang sangat penting, bagaimana jika saat ini aku tidak ada? "Gue pinjem uang lo ya?" ucapnya memelas. Aku ingin berkata 'gue juga nggak bawa uang cash,' karena sebenarnya aku juga tidak mempunyai uang cash sebanyak belanjaan yang saat ini sudah ditotal, namun aku tak tega melihat wajah Shilla yang jadi tampak begitu lesu. "Bisa debit Mbak?" tanya ku pada Mbak kasir mencari solusi. "Bisa Mas," dan Shilla tampak begitu lega. * Ashilla POV "Gue bakal bayar, tenang aja," kataku, saat kami memasuki pekarangan rumah mengingat aku jadi berhutang pada Cakka karena perihal dompet ku yang ketinggalan saat belanja. Ku akui, aku memang sangat ceroboh untuk urusan satu itu. "Yaudah nggak apa-apa," balas Cakka, sepertinya dia tidak keberatan dengan itu. "Nggak bisa gitu dong, gue bayar pokoknya," ucapku lagi masih ngotot. "Yaudah, uang gue kan uang lo juga," What? "Pokoknya gue ganti, titik," ucapku tak terbantah. Cakka mengangguk-anggukkan kepalanya, "yaudah, terserah," ucapnya akhirnya. "Btw, lo udah beli kado?" tanyaku. "Udah," jawabnya. Aku mengernyit. "Kapan? Kok gue gak tau?" "Udah lama di beli," "Kado apa?" ke-kepo-an ku mulai muncul. "Tas," Hahaha... Memikirkan Cakka yang membeli tas di toko tas membuatku ingin tertawa. Dia pasti terlihat sangat cantik di mata Ibu Ibu di dalam toko itu, membayangkan itu aku jadi geli sendiri. "Yang beli Alika, dia juga beli kado buat Mama. Baik yah dia," Apa? Mendengar itu rasa geli ku sirna berganti dengan rasa jijik. Ih, kenapa sih pake sebut-sebut nama Alika? Lagian kenapa harus dia sih? "Oh," kataku singkat dan berlari kecil menaiki anak tangga. CAKKA NYEBELIN! * Author POV "Gue tunggu setengah jam lagi, nggak pake telat," ucap Cakka saat mereka baru sampai didepan kamar masing-masing. Cakka kesebelah kanan dan Shilla ke sebelah kiri. Mama dan Papa Shilla sedang pergi dinas keluar kota, maka dari itu malam ini mereka akan makan diluar mengingat Shilla tidak bisa memasak dan juga menghindari kejadian dulu waktu jarinya teriris saat Cakka menyuruhnya masak. Kejadian itu membuat Cakka tidak lagi menyuruh Shilla memasak, mungkin makan diluar lebih baik. Lebih simple, dan bermutu. "Iya, cerewet banget sih," dan setelah itu Shilla buru-buru masuk kedalam kamarnya. Tidak berlama-lama Shilla langsung menanggalkan satu-satu pakaiannya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ia berencana berendam sebentar sebelum bersiap-siap, namun lantai kamar mandi yang licin membuat langkah Shilla tidak seimbang dan---- "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..." teriaknya karena terpeleset hingga membuat tubuhnya membentur lantai. Sementara itu Cakka didalam kamarnya mendengar dengan jelas teriakan Shilla, ia bahkan belum melakukan apapun saat mendengar teriakan itu dan langsung buru-buru keluar kamarnya menuju kamar Shilla. "Shill, kenapa?" tanyanya diantara suara ketukan pintu. "Cakkaaa... Tolongin gue, gue dikamar mandi, kaki gue terkilir," Cakka yang mendengar itu semakin panik dibuatnya tanpa meminta izin si pemilik kamar Cakka langsung saja masuk kedalam. "Jangan masuk," teriak Shilla dari kamar mandi tepat saat Cakka hendak memutar knop pintu kamar mandi. "Gue nggak pake apa-apa," lanjutnya. Ditempatnya Cakka menghela nafas lalu berjalan ke rak handuk mengambil handuk milik Shilla. "Gue nggak bakal liat apa-apa," ucapnya meyakinkan Shilla. Dan dengan perlahan ia membuka pintu kamar mandi dengan kepala yang mendongak dan sebelah tangan yang menutup matanya. "STOPP!!" teriak Shilla yang membuat Cakka menghentikan langkahnya. "Kenapa lagi?" "Udah deket, sini anduknya," Shilla mengulurkan tangannya dan menyambar handuk yang berada ditangan kanan Cakka dan dengan tergesa ia lalu melilitkannya ditubuhnya. "Udah belum?" "Udah," begitu Shilla berucap sudah barulah Cakka membuka matanya dan berbalik arah menghadap Shilla. "Kok bisa jatuh sih?" Ia mendengus lalu dengan perlahan membantu Shilla keluar dari kamar mandi dengan menggendongnya ke ranjang. "Licin banget lantainya," ucap Shilla setelah meringis beberapa kali. "Yang mana yang sakit?" tanya Cakka. "Kaki gue lah," "Udah dibantuin juga," "Yaudah makasih," Setelah meletakkan Shilla diatas ranjang, Cakka berjalan kearah lemari gadis itu. "Lo mau ngapain?" tanya Shilla mengernyit melihat Cakka. "Ambil baju lo, emang lo udah kuat jalan? Atau mau kasih liat gue sedikit?" ucapnya dengan nada kesal dan tanpa menunggu jawaban Shilla, Cakka pun mengambil setelan piyama milik Shilla. "Cowok nyebelin!" ucap Shilla pelan. "Gue denger pujian lo itu, thanks," Cakka lalu meletakkan pakaian Shilla itu diatas ranjang Shilla. Pipi Shilla merona setelahnya karena Cakka juga meletakkan celana dalam dan branya bersamaan dengan piyamanya. "Lo bisa pake sendiri? Atau mau gue pakein?" tidak hanya sampai disitu, Cakka bahkan melontarkan kalimat godaan yang semakin membuat Shilla semerah tomat. "Apaan sih, yang sakit kan kaki gue bukan tangan gue!" "Yaudah sana pergi," ucap Shilla mencoba mengusir walaupun sebenarnya ia hanya ingin Cakka pergi karena merasa malu. "Oke," Shilla mencoba berdiri untuk mengambil pakaian yang diletakkan Cakka diatas sprei namun tiba-tiba dengan sengaja Cakka lewat dari depannya lalu menarik ujung handuknya hinggat terlepas dan jatuh kelantai, tanpa berhenti ataupun menoleh lagi Cakka pun berjalan keluar dari kamar Shilla dan membanting pintu dengan suara tawa yang terbahak-bahak. Sementara ditempatnya Shilla sudah kehilangan satu-satunya kain yang menutupi tubuh telanjangnya dan penyebabnya adalah ulah iseng Cakka. "Cowok b******k! Gak tau diri! Mata keranjang! Omessssss!" teriak Shilla histeris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN