Part 9

2227 Kata
Ashilla POV "Ini Vin," aku menyodorkan pakaian ganti pada Alvin yang sudah menunggu ku dibawah. "Pakaian sodara gue yang tinggal disini," ucap ku padanya dan itu tidaklah sepenuhnya berbohong. Cakka memang masih bersaudara jauh dengan ku. "Oh, thanks," ucap Alvin lalu ia berganti pakaian di kamar tamu. Meskipun merasa tidak enak pada Cakka namun aku bersyukur Cakka meminjamkan pakaiannya untuk Alvin. Aku juga bersyukur karena Mama dan Papa tidak disini, keduanya pergi ke Singapur pagi ini dan tentu saja hal itu membuat ku merasa lega karena jika Mama dan Papa tau, aku tidak tau harus memberi alasan apa karena pergi dengan lelaki lain selain Cakka. Aku jadi merasa bersalah pada Cakka. "Melamun aja," suara Alvin yang tiba-tiba mengintrupsi pikiranku membuat ku mengalihkan pandanganku menghadapanya. "Lo duduk disini aja dulu, gue buat teh," ucapku. Alvin mengangguk lalu duduk di sofa sambil menungguku membuatkannya teh hangat. "Rumah lo sepi banget," ucap Alvin setelah aku menyiapkan teh untuknya. "Mama sama Papa lagi ke luar negeri soalnya. Bi Asih juga udah tidur jam segini," Alvin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Maaf ya gue ngerepotin," ucapnya. "Apaan sih, santai aja Vin," Lama aku mengobrol dengan Alvin, kami membicarakan banyak hal hingga hujan reda dan Alvin berpamitan pulang. And what else? Aku harus meminta maaf pada Cakka. -- Cakka POV Tidak cukup Shilla membuat ku mencarinya seharian karena ia pergi dengan Alvin, malam ini ia semakin membuat ku kesal karena membawa Alvin kerumah, memintaku meminjamkan pakaian ganti dan yang parahnya ia memintaku untuk bersembunyi agar Alvin tidak tau hubungan apa yang aku dan Shilla jalani. That's weird. And i hate it. Terkadang aku berpikir untuk memberitahu semua orang bahwasannya Shilla adalah istriku. Hah, meskipun dalam konteks yang berbeda. Tapi tetap saja, she's officially mine. Dan dengan bodohnya aku bahkan menerima begitu saja apa yang Shilla ucapkan dan lakukan. Barangkali, jika ia tetap seperti ini aku akan menjadi satu-satunya yang akan terjatuh. Aku mengunci pintu kamar dan berharap tidak ada lagi gangguan, aku berusaha tidak mau tau dengan apa yang Shilla dan Alvin lakukan dibawah dan memutuskan untuk tidur. 1 menit. 5 menit. Namun tetap saja tidak bisa. Mata ini sama sekali tidak bisa terpejam. Sebegitu pedulikah Shilla pada Alvin? Aku sudah menebak kedekatan mereka sejak awal, sejak hari dimana Alvin mengantarkan Shilla pulang aku tau mereka sedang dekat. Mungkin lebih tepatnya Alvin yang mendekati Shilla. Detik-detik berikutnya aku hanya memandang langit-langit kamar hingga suara ketukan dipintu kamar terdengar lagi. Aku sudah hendak mengabaikannya hingga satu pesan masuk membunyikan ponselku. From : Ashilla Kanaya To : Me 'Bukain pintunya, gue tau lo blm tidur' Aku hanya membaca pesan itu. New Message. From : Ashilla Kanaya To : Me 'Kalau lo nggak buka, gue bakal tidur disini sampe lo bukain pintu' Aku menghela nafas dan akhirnya memutuskan membukakan pintu untuk Shilla. "Kenapa?" tanyaku padanya begitu membuka pintu. Shilla memicingkan matanya padaku, "lo marah?" tanyanya. Benar-benar pertanyaan terbodoh yang pernah ku dengar. Aku mengidikkan bahu, "buat apa?" tanyaku. "Karena gue bawa Alvin kesini?" "Ini rumah lo, why not," "Nggak bisa gitu Cakka..." Shilla menghela nafas panjang, "gue minta maaf buat lo jadi nggak nyaman," ucapnya. Aku mengangguk kan kepalaku tak ingin memperpanjang masalah, "dia udah pulang?" "Baru aja," "Ok, lebih baik sekarang lo tidur dan istirahat," ucapku lalu segera menutup pintu dan kembali ke ranjang. Ponsel ku kembali berdering menandakan ada pesan baru yang masuk. From : Ashilla Kanaya To : Me 'Good night' -- Author POV Pagi pagi sekali di hari minggu Shilla sudah bangun karena ia terkena flu. Sepagi ini ia sudah beberapa kali bersin hingga membangunkan Bi Asih. "Bibi buatin wedang jahe ya, Non," ucap Bi Asih kerena melihat Shilla tak henti bersin. "Bunga yang diatas meja kemana Bi?" tanya Shilla pada Bi Asih menunjuk bunga yang Alvin belikan padanya kemarin. Seingatnya ia meletakkan bunga itu di vas dan diletakkan diatas meja dapur dan pagi ini bunga itu menghilang begitu saja. "Nggak tau Non," ucap Bi Asih. Shilla mengernyit, "Cakka udah bangun Bi?" "Oh Mas Cakka pergi jogging Non," Shilla berpikir, mungkinkah Cakka yang membuang bunganya? Ketika Cakka kembali Shilla langsung menghampiri pemuda itu tanpa membiarkan Cakka terlebih dulu duduk. "Dari mana?" tanya Shilla. "Jogging," yang ditanya hanya menjawab sekenanya. "Lo liat bunga diatas meja dapur nggak?" "Gue buang," "Apa?" "Gue buang!" "Kenapa?" "Karena gue nggak suka," ucap Cakka sambil berlalu meninggalkan Shilla. Namun, Shilla masih tidak puas dengan jawaban Cakka, ia pun mengejar Cakka dan tanpa izin, ikut masuk ke kamar pemuda itu. "Iya, kenapa nggak suka?" tanya Shilla memperjelas pertanyaannya. Cakka memandang Shilla lekat, "gue nggak suka karena bunga itu dari Alvin," Shilla mengernyit, "ken---" saat Shilla ingin bertanya kenapa Cakka malah mendekatinya hingga ia mundur beberapa langkah dan merasa gugup setengah mati karena punggungnya terbentur dinding. "Don't ask me why if the answer doesn't truly matter to you," Cakka lalu membukakan pintu kamarnya seolah menyatakan 'silahkan keluar' pada Shilla. "Tapi..." dan entah mengapa Shilla malah lebih kesal karena Cakka seolah mengusirnya daripada Cakka membuang bunga pemberian Alvin. "Lo ngusir gue?" tanyanya. Cakka mengangguk. "What?" "Atau lo mau liat gue ganti baju, huh?" "Hah?" "Non Shilla, wedangnya udah jadi Non," ucap Bi Asih dari luar kamar. "Tuh, gue harus minum wedang buatan Bi Asih. Ok, bye," dan Shilla bersyukur Bi Asih memanggilnya. -- Ashilla POV "Pak Abdul bilang minggu depan udah mulai latihan untuk try out," ucap Ify saat kami-aku, Ify dan Sivia- berada dikantin di jam istirahat. Sepertinya semua rintangan itu sudah didepan mata mengingat sebagai siswa kelas 3, ujian nasional akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. "Kita harus rencanain belajar bersama deh tiap minggu," ucap Sivia. "Gue yakin akhirnya pasti bakalan kebanyakan ngobrolnya dari pada belajarnya," "Tapi boleh juga deh," Saat kami sibuk membicarakan rencana belajar bersama dari arah lapangan basket teman-teman lain berlarian seolah ada sesuatu yang terjadi disana. "Kenapa tuh?" tanya Ify pada seorang adik kelas yang baru saja lewat. "Oh itu, Kak Cakka sama Kak Alvin kelas IPA 2 kecelakaan waktu main basket. Saling bentur, Kak," Apa? Aku buru-buru berdiri dari tempatku, disusul Ify dan Sivia, aku lebih dulu pergi dari kantin menuju ke lapangan saat perlahan semua siswa mulai berangsur pergi karena ternyata Cakka dan Alvin sudah dibawa ke UKS. Aku bahkan tak menunggu Ify dan Sivia lagi untuk tiba di UKS. "Cakka dimana?" tanyaku pada Adit, anggota basket yang baru saja hendak keluar. Adit menunjuk pada tirai pertama, aku langsung berlalu setelah berterima kasih pada Adit. Namun langkah ku terhenti, karena mendengar suara lain dari dalam bilik. Suara Alika. "Gue bantu duduk ya," ucap Alika yang terdengar dengan jelas ditelinga ku. "Umm," dan gumaman Cakka. Aku tersenyum sinis dan tanpa meminta izin lebih dulu masuk begitu saja ke bilik dimana Cakka berada. Keduanya dengan bersamaan menoleh ke arah ku, tadinya aku sudah panik luar biasa namun sepertinya Cakka baik-baik saja ia bahkan bisa duduk dibantu Alika yang memegang pinggangnya. Menarik sekali. "Shilla?" panggil Cakka. Aku duduk dipinggir ranjang setelah Cakka sudah berhasil duduk. Kupandang wajahnya lekat-lekat, "i have crush on you," ucapku. Tak ku pedulikan Alika yang bahkan terkejut dengan apa yang ku ucapkan. Cakka menaikkan alisnya seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja aku katakan. Baiklah, aku ingin membuatnya lebih jelas, aku cemburu Alika berada di dekat Cakka. Mungkin Cakka berpikir aku hanya asal bicara namun aku yakin bahwa yang ku rasakan saat ini adalah rasa cemburu. Dan aku berharap dengan aku mengatakan ini pada Cakka dihadapan Alika, ia akan segera menjauhi Cakka. Aku juga tidak bisa menyebut ini rasa suka atau bahkan rasa cinta, karena ku pikir perasaanku tidak sampai sejauh itu. "You're lying," ucap Cakka. Apa? "No, i'm not," Sementara itu, Alika tampak tidak yakin dengan apa yang di dengarnya. "Kalian bukannya udah pacaran?" tanya Alika. Oh s**t. Aku lupa tentang pandangan orang lain terhadap hubungan ku dengan Cakka. Aku tersenyum padanya, senyum terlebar yang pernah ku lakukan pada Alika, "he's not even my boyfriend but he's still mine," ucapku. Dan aku bersyukur Cakka tidak protes. Alika tampak mulai kesal dan akhirnya pergi dari hadapan ku dan Cakka. Aku tak bisa memungkiri bahwa ada rasa puas yang ku rasakan karena kepergian Alika, itu mengartikan aku berhasil membuatnya jengkel. -- "You have crush on me, huh?" Cakka kembali menggoda ku begitu kami tiba di rumah, sejak pulang sekolah hingga saat ini. Cakka terus saja menggoda ku. Mengulang kalimat yang ku katakan padanya ketika di UKS. "Apaan sih! Lo yang bilang kalau gue harus berusaha suka sama lo," ucapku protes. "Itu diluar yang gue bayangin," ucapnya. "Kenapa? Lo khawatir perasaan Alika?" Cakka terkekeh, "we're just friend," Bullshit. She has crush on you. "Lo pikir dia juga anggep lo temen?" Cakka mengangkat alisnya, "apa menurut lo Alvin juga nganggep lo temen?" "Kenapa jadi Alvin sih?" "Karena yang gue liat lo lebih dekat sama Alvin dari pada gue sama Alika," Aku bahkan tak berpikir seperti itu. "Tapi tetap aja beda, gue nggak punya perasaan apapun sama Alvin," "Jadi lo pikir gue punya perasaan ke Alika?" Ok, that's the point. "Ok," Tapi, aku jadi teringat kalau Alvin juga mengalami kecelakaan atau sebenarnya yang terjadi Cakka dan Alvin tidak sengaja membenturkan tubuh dan wajah mereka hingga keduanya mengalami luka fisik. Dan aku lupa menjenguk Alvin di UKS karena terlalu fokus mengusir Alika. Astaga. Cakka terkekeh, "but you're cute when you get jelous," Aku hanya mendengus sambil berlalu masuk kedalam kamar. Lalu aku mengirimkan pesan pada Alvin. To : Alvin From : Me 'You ok?' Send. Setelahnya aku memikirkan bagaimana kisah ini akan berakhir, mungkinkah aku dan Cakka akan saling jatuh cinta? Atau aku akan jatuh cinta lebih dulu dan kisah ini berakhir dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan? Entah lah, aku hanya bisa menduga-duga. Ponsel ku berdering menandakan ada satu pesan baru yang masuk. Aku baru saja berpikir itu pesan balasan dari Alvin namun ternyata itu adalah pesan dari Cakka. From : Cakka Bhakti To : Me 'Don't worry. You shouldn't doubt my feeling for ya, it's the only thing i'm sure of' Aku mengedipkan kelopak mataku berkali-kali, ini benar pesan dari Cakka yang seolah menjawab keraguan dalam benakku. Bagaimana dia bisa tau? -- Author POV Rencana untuk belajar bersama akhirnya terealisasikan di minggu ke dua sejak di rencanakan. Rumah Ify menjadi tempat mereka belajar mengingat rumah Ify memiliki gazebo yang cukup luas dihalaman belakang. Belajar bersama ini mereka lakukan untuk mendukung kegiatan belajar mengejar di sekolah juga membantu mereka untuk lebih muda kedepannya menjawab soal-soal ujian karena beberapa bulan lagi ujian nasional akan dilaksanakan. "Ini gimana sih? Litium itu ada digolongan berapa sih? Bilangan oksidasinya berapa?" tanya Ify sambil menyodorkan buku Kimia nya pada yang lainnya setelah beberapa menit lalu mereka mulai membahas soal. "Cari di buku kelas 11 coba," ucap Sivia yang langsung menyerah. Sementara yang lainnya masih mencari jawaban, Cakka membuka buku tulisnya dan berucap, "litium ada di golongan IA logam alkali, bilangan oksidasinya itu +1, itu udah ketentuan coba lo liat dulu zat yang akan dihitung bilangan oksidasinya kalau mis...." seterusnya Cakka terus menjelaskan kepada Ify dengan sabar, beberapa kali Ify mengernyit dan kembali bertanya sampai ia benar-benar paham. Shilla melirik Cakka yang masih fokus dengan penjelasannya dalam hati Shilla mengagumi Cakka yang ia akui lebih pintar daripada dirinya yang memang hanya menyukai mata pelajaran seperti Seni Budaya, Bahasa Inggris dan Kewarganegaraan. Cakka terlihat berkali-kali lebih mempesona saat ini. "Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya suhu rata-rata bumi. Pemanasan global terjadi akibat efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh gas-gas rumah kaca," ucap Cakka ketika mereka lanjut membahas soal Biologi. "Polutan nya apa aja?" tanya Gabriel. "Karbon dioksida, metan, nitrat oksida, hidrofluorokarbon sama klorofluorokarbon jumlah gas-gas ini juga bakal meningkat setiap tahun di atmosfer akibat berbagai aktivitas manusia," "Kalo pengertian presipitasi apa? Itu masih sekitar bagian pemanasan global," "Presipitasi adalah peristiwa jatuhnya air baik dalam bentuk cair maupun beku dari atmosfer ke permukaan bumi," "Ok, thanks," ucap Sivia. Hingga mereka mulai merasa bosan karena sudah menghabiskan satu jam pertama dengan belajar dengan serius, akhirnya Ify menawarkan untuk istirahat. "Pada mau minum apa nih?" tanya Ify. "Gue hot chocolate," Sivia yang pertama kali buka suara untuk menjawab pertanyaan Ify. "Gue lemon tea nggak pake es," sambung Gabriel. "Gue air puti----h..." ucap Cakka dan Shilla berbarengan. Mereka saling bertatapan lalu saling diam, salah tingkah. "Cie, kompak banget," cetus Sivia. "Yaudah, kamu Yo?" lalu Ify mengarah ke Rio. "Aku bantuin kamu buat minum aja," ucap Rio. Sivia hanya terkikik geli melihat keduanya. Begitu kepergian Ify dan Rio keheningan menyelimuti ke empatnya. Sivia yang lebih dulu memecahkan keheningan dengan berkata ingin pergi ke toilet. "Gue ikut!" ucap Gabriel. "Apaan sih ikut-ikut kayak anak kucing," protes Sivia. "Terserah gue lah," "Iya serah lo!" lalu keduanya pergi meninggalkan Cakka dan Shilla. Shilla melirik Cakka, "perasaan gue aja atau emang Sivia dan Gabriel pergi karena nggak nyaman disini?" tanyanya. Cakka mengidikkan bahunya, "they give us space," "Buat apa?" "Karena sejak tadi lo sama sekali nggak bicara apapun," "Gue?" "Yeah," "Perasaan mereka aja kali," "You are," Shilla jadi merasa aneh sendiri dan akhirnya menyadari bahwa ia memang tidak bicara apapun sejak awal. "Kenapa?" tanya Cakka. "Apa?" Shilla mengernyit tak tau arah pertanyaan Cakka. "Lo kenapa?" "Nggak kenapa-napa," "Lo yakin?" "Iya," Saat itu ponsel Shilla berdering, keduanya sama-sama menoleh ke arah ponsel Shilla yang terletak diatas meja . Alvin Calling... Keduanya saling berpandangan dengan tatapan canggung saat Shilla hendak mengambil ponselnya, Cakka mencegah tangannya dengan memegang pergelangan tangan Shilla. "Ap---" ucapan Shilla terpotong karena Cakka menarik tangannya hingga wajahnya berada sangat dekat dengan Cakka. "Answer and i'll kiss you," ucap Cakka yang lebih seperti ancaman untuk Shilla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN