Pipi tirus itu mulai memerah saat tamparan lagi-lagi Hanna berikan, cipratan air turut terbawa ketika ia melakukannya. Hanna memandang pantulan dirinya di dalam cermin, wajahnya tampak basah dan memerah, terdengar napasnya yang memburu mengisi kesunyian di dalam toilet. Rona merah itu samar-samar terlihat ketika wajah Bara kembali muncul dalam ingatan, seketika Hanna menangkup kedua tangannya untuk menampung air dan membasahi wajahnya. Ia menggeleng sembari terus menepuk-nepuk kedua pipi yang sudah mulai terasa sedikit perih. "Tidak ... Tidak, pikirkan hal lain, Hanna. Pikirkan hal lain." Kalimat itu terus Hanna ulangi, berharap hal tersebut dapat mengenyahkan pikirannya yang sama sejak 20 menit lalu. Namun, degup jantung yang semakin menggila tiap wajah itu muncul tak bisa Hanna singki

