Lagi-lagi suara operator yang terdengar, Hanna melempar ponselnya sembarangan. Ia mengembuskan napas kasar, sembari memandang lelah pada langit-langit kamar. Pikirannya berkecamuk liar, seolah tak membiarkannya berisitirahat dengan tenang.
Waktu 48 jam telah berlalu semenjak Mario pergi, dan kini pria itu begitu sulit untuk dihubungi. Hanna tidak tahu keberadaan Mario, berapa kali pun ia menghubungi dan mengirim pesan, tak ada satu pun yang dibalas.
Saat ini, Hanna masih berusaha keras agar pembatalan kontrak kerja samanya disetujui Bara. Meski ia harus menanggung malu, dan bersabar menghadapi tingkah Bara yang semakin menyebalkan.
Hanna membalikkan posisinya, tidur meringkuk sembari memeluk lututnya sendiri. Berlama-lama di sini, justru menambah beban pikirannya. Hanna tidak bisa berpikir jernih selama hatinya tidak tenang, kembali ia mengambil ponsel yang tergelatak tak jauh darinya.
Tanpa alasan yang jelas, Mario pergi. Pria itu benar-benar berniat meninggalkannya di sini, bahkan di kamar hotelnya pun tidak ada. Pegawai hotel yang tanpa sengaja melihat Mario terakhir kali mengatakan, pria itu pergi dengan membawa koper.
Kembali suara napas yang dikeluarkan Hanna, terdengar jelas mengisi kesunyian ruangan. Memikirkan segala kemungkinan yang ada membuat Hanna tak tahan lagi, ia duduk lalu terdiam beberapa saat sebelum turun dari ranjang.
Paspor dan beberapa benda penting lainnya masih berada di dalam dompet, tetapi tidak ada uang cash yang tersisa banyak. Bila memang Mario berniat meninggalkannya, maka Hanna akan mencari keberadaan pria itu di mana pun berada.
•
"Kamu sudah kehilangan akal?! Apa ini, Bara?!"
Suara keras wanita itu terdengar memenuhi ruangan, beberapa orang yang berada di ruang yang sama tampak canggung dengan keadaan yang dibuat oleh ibu dan anak itu.
"Lihat ini! Karena kecerobohan mu, perusahaan hampir saja terkena masalah besar!" Kertas-kertas itu dilempar dan jatuh kala menyentuh dadanya.
Amira melenguh, dia memijit pelipisnya yang terasa pening. Wanita itu seolah tersadar dan menoleh ke arah meja rapat, seketika rasa bersalah muncul.
"Kalian boleh pergi, dan jangan biarkan hal ini terdengar sampai ke luar."
Sekitar empat orang karyawan itu bergegas pergi dari sana, meninggalkan keheningan di antara Amira dan Bara. Di sisi lain, Sam yang berdiri tak jauh dari sana memilih untuk tetap berada di ruangan itu.
"Periksa lagi dan kirimkan berkasnya segera ke ruangan ku," ucap Amira sebelum berlalu dari sana.
Bara terdiam, kedua tangannya terkepal kuat dengan napas memberat. Gemuruh hebat di dalam hati perlahan meluap dan akhirnya meledak, Bara berteriak sampai memperlihatkan urat di sekitar lehernya.
Napas pria itu memburu, seiring dengan ledakan emosi yang baru keluar. Dia mengembuskan napas seraya mengusap wajahnya kasar, setelah dirasa tenang barulah dirinya berjongkok untuk memunguti kertas-kertas yang bertebaran di sekitarnya.
Setelah memastikannya rapi kembali, Bara keluar dari sana dan berjalan menuju ruang kerjanya. Membaca ulang berkas-berkas ditangannya, kemudian meletakkan berkas tersebut di meja.
"Panggilkan ketua tim bagian pemasaran ke ruangan ku sekarang," titah Bara seraya memejamkan mata.
Sam mengangguk, dia melirik ke arah Bara yang terlihat kesal. Baru saja kakinya hendak melangkah, suara Bara kembali membuatnya terdiam.
"Tidak perlu, aku akan memanggilnya sendiri. Kau kembalilah ke tempatmu," ujar Bara.
Dia berdiri, kemudian berlalu dari sana.
•
"Masuk!" sahut seseorang di dalam sana.
Bara membuka pintu di depannya dengan perlahan, wajah masam wanita yang duduk di balik laptop menyambutnya langsung. Bara berdeham canggung sebelum mendekat, beberapa dokumen dan sampel produk yang berada di atas meja mengalihkan perhatiannya.
"Saya akan pergi ke lab untuk mengecek langsung," ungkap Bara setelah beberapa detik terdiam.
"Tidak perlu, Mama sudah mengeceknya sebelum pergi ke sini."
Balasan dari wanita yang mengenakan hijab merah di depannya, sontak membuat Bara bungkam. Merasa bodoh dengan ucapan yang diajukannya, padahal sampel produk di meja sudah menjadi bukti.
Satu bunyi dari tekanan pada keyboard menjadi akhir dari fokus Amira pada laptop, tatapan serius diberikannya langsung kepada putera bungsunya.
"Kamu tahu apa kesalahanmu? Belum ada perintah untuk memasarkan produk, tetapi kamu dengan cerobohnya mengirimkan produk ke produsen?" tanya Amira.
Kepala Bara tertunduk, menyadari kesalahan fatal yang telah dibuatnya.
Amira menghela napas, dia melepas kaca mata kerja sebelum memijit batang hidungnya perlahan.
"Mungkin kamu terlalu keteteran dengan tugas-tugas ini, sehingga melakukan kesalahan. Mama tidak ingin memaksamu, katakan saja dan biarkan Mama terjun langsung ke perusahaan."
Keheningan yang melanda membuat Amira heran, terlebih lagi ketika tak melihat ada gerakan dari Bara yang terus menunduk di depannya. Kekhawatiran yang tiba-tiba muncul membuatnya bergegas berdiri dan menghampiri Bara.
"Bara, maaf. Mama malah menegurmu di depan orang-orang, apa kamu marah?" tanya Amira.
Kekhawatirannya bertambah saat tak ada tanggapan, Amira meraih wajah Bara untuk kemudian membantunya mendongak. Seketika matanya membulat, wajah pucat Bara dengan keringat dingin telah meruntuhkan segala pertahanan Amira.
"Bara?! Ada apa? Kenapa wajahmu pucat?"
"Aku baik-baik saja, hanya saja perutku terasa kembung dan perih. Mama tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya dengan baik." Bara berujar dengan lemah, dia hendak meninggalkan ruangan sebelum tangan sang mama menahannya.
Amira membawa Bara untuk duduk di sofa yang telah disediakan untuk tamu.
"Tunggu di sini, Mama akan membiarkanmu air hangat."
"Tidak perlu, aku sudah minum obat." Bara menahan tangan sang mama yang hendak pergi.
Amira menghela napas, kemudian duduk di samping Bara.
"Kamu makan sesuatu di luar setelah sarapan tadi?" tanyanya memastikan.
Sikap diam Bara seolah membuktikan kebenaran ucapannya.
"Ma, mengenai model untuk produk baru ..." Bara sengaja memberi jeda perkataannya, untuk melihat ekspresi sang mama.
"Ada apa? Katakan saja? Apakah ada masalah?"
Bara menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. "Tidak ada," ucapnya.
Dia berdiri. "Bara akan kembali ke ruangan," lanjut Bara sebelum memutuskan untuk pergi dari sana.
•
"Siapa yang memerintahkan kalian untuk mengirim produk ini kepada mereka?!"
Suara keras Bara memenuhi seisi ruangan, tiga orang karyawan tampak terperanjat mendengarnya dan tak berani mengangkat kepala.
Bara menghela napas seraya mengusap wajahnya kasar, dia menatap karyawan itu satu persatu.
"Apa perlu aku bertanya langsung kepada mereka?"
"A... Anda yang memberi perintah!" jawab salah seorang karyawan dengan cepat.
Bara mengernyit, wajahnya seolah menampakkan ketidakpercayaan.
"Kemarin sore ketika saya bertanya mengenai produk yang hendak launching untuk tahun ini, saat itu Anda langsung meminta saya untuk memasarkan produknya langsung. Maka dari itu, kami segera melakukannya."
Tak ada yang berubah pada ekspresi Bara, pria itu tengah sibuk membawa ingatannya pada kemarin sore. Kemarin, dirinya memang tidak terlalu fokus. Semenjak kehadiran Hanna, Bara akui dia terlalu bersemangat ingin bertemu dengan perempuan itu, sampai-sampai fokusnya memudar.
Tanpa sadar Bara mengembuskan napas kasar, menyadari kesalahan ini memang bermula darinya.
"Kalian boleh pergi," titahnya.
Ketiga karyawan itu bergegas pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Bara dalam kekesalannya sendiri. Dia mengambil napas panjang, sebelum meraih ponsel dan mulai menghubungi nomor yang dituju.
Cukup lama Bara menunggu sampai panggilan pun terhubung, dia berdeham mencoba mempersiapkan segala mungkin yang akan terjadi.
•
"Saya ingin menemui Tuan Bara Sakha," ucap Hanna ketika tiba di meja resepsionis.
Ya, ia memutuskan untuk datang ke perusahaan Bara sesuai yang pria itu katakan pagi tadi. Di siang hari yang panas dengan mengenakan Hoodie hitam, dan masker yang menutupi hidung dan mulutnya.
"Apa Anda sudah memiliki janji, Nona?"
Hanna mengangguk cepat, ia terus memandang sekitar. Berharap Bara muncul dan mereka bisa bicara di tempat lain, dirinya sedikit tidak nyaman di sini.
Sepertinya Dewi keberuntungan tengah berpihak kepadanya, karena tak berapa lama Bara keluar dari lift dan tampak berjalan dengan terburu-buru. Tanpa menunggu lama, Hanna bergegas menghampiri.
"Tuan Sakha!" sapanya.
Bara melirik sekilas, pria itu terlihat terkejut melihat keberadaan Hanna di sini. Namun, setelahnya dia kembali sibuk berbicara dengan orang di seberang telepon.
Hanna memilih untuk menunggu, ia mengikuti langkah terburu-buru Bara yang berjalan keluar dari kantor. Sampai akhirnya, mereka tiba di depan sebuah mobil hitam.
Cengkeraman kuat pada tangannya membuat Bara harus mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil, dia menoleh dan mendapati Hanna yang berdiri tepat di belakangnya.
"Ada apa? Aku harus pergi," ucapnya.
"Kita perlu bicara," balas Hanna dengan ekspresi memelas.
Bara menghela napas, dia kembali berbicara beberapa kata sebelum memutus sambungan telepon.
"Nanti saja, aku memiliki urusan yang mendesak."
Hanna kembali menahan tangan Bara yang baru saja pria itu lepas cengkeraman tangannya.
"Ini juga mendesak, kau harus bertanggungjawab!" seruan Hanna sontak saja mengundang perhatian orang-orang di sekitar.
Seketika mereka menjadi pusat perhatian, Bara tertunduk malu, dia melirik tajam pada Hanna yang tampak canggung dan terkejut.
"Masuklah," titah Bara menunjuk mobil dengan gerakan dagu.
"Kau kira aku sopir pribadimu?"
Pertanyaan Bara menghentikan gerakan tangan Hanna yang hendak membuka pintu belakang mobil, perempuan itu menatap bingung pada Bara.
"Kau memintaku untuk duduk di depan?" ulang Hanna memastikan.
Bara tertegun, tersadar oleh perkataannya sendiri. Gerakannya begitu cepat saat menghubungi sebuah nomor, dengan dua kalimat saja panggilan pun diputus secara sepihak olehnya.
Tak berapa lama, seorang pria muncul dengan napas yang tersengal-sengal.
"Ada ada, kau memanggilku?" tanyanya dengan nada tak jelas.
Gantungan dengan kunci mobil itu melayang dan segera ditangkap Sam, dia memandang bingung pada Bara yang telah masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Seolah mengerti, bergegas pria itu ikut masuk melalui pintu kemudi. Namun, berhenti sejenak untuk memberi kode kepada Hanna yang terdiam di sana.
•
Hanna yakin lehernya akan terasa sakit ketika bergerak nanti, pasalnya selama perjalanan di dalam mobil ini dirinya sama sekali tidak bergerak. Lebih tepatnya, suasana canggung membuatnya kesulitan untuk sekadar ingat untuk menoleh.
Dua orang pria yang duduk di depannya, tampak tenang seolah suasana seperti ini tidak masalah untuk mereka. Tapi Hanna merasa tersiksa, tersiksa sampai bernapas saja terasa sulit. Bila bukan karena Mario, Hanna enggan menyelesaikan ini seorang diri dan menemui Bara langsung.
"Apa yang kau maksud dengan perkataan mu tadi? Bertanggung-jawab untuk apa?"
Keheningan itu akhirnya pecah, kala Bara mengeluarkan suara. Namun, sayangnya dengan pertanyaan yang ingin Hanna hindari.
"Tuan Sakha, saya rasa mengenai kontrak kerja sama kita. Sepertinya saya keliru sehingga tidak membaca isi kontrak seluruhnya, karena itu ...."
Hanna menggigit bibir bawahnya, merasa malu tiba-tiba.
"Tidak bisa," balas Bara penuh penekanan.
"Apa?" Hanna sedikit terkejut ketika pandangan mereka bertemu, Bara menatapnya melalui kaca spion depan.
"Tidak ada pembatalan kontrak dalam isi suratnya. Jika itu yang hendak kau katakan, percuma saja datang membujukku."
Hanna membatu, masalah besar benar-benar telah datang kepadanya. Tanpa membalas perkataan Bara lagi, ia dengan cepat mengeluarkan ponsel yang sedari tadi berada di dalam saku Hoodie nya.
Pesan yang dua hari lalu dirinya kirimkan kepada Mario, masih belum mendapatkan balasan dari pria itu. Hanna benar-benar kesal, ia ingin sekali menangis dan berteriak. Wajahnya sudah memerah menahan kekesalan yang sepertinya sudah tak terbendung lagi, seperti menahan tangis itulah ekspresinya saat ini.
"Sialan," desis Hanna.
Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara rambutnya yang tak terikat sempurna.
Di sisi lain, bukan hanya Sam yang terkejut, bahkan Bara hampir saja melayangkan perkataan balasan kepada Hanna. Andai saja tidak melihat pundak mungil itu tampak gemetar, tak berapa lama isak tangis pun terdengar.
Baik Bara maupun Sam, tidak tahu harus apa. Mereka memilih fokus pada jalanan di depan sana, Bara bergerak gelisah, seolah ingin melakukan sesuatu untuk menenangkan suara tangis itu.
Sam melirik sekilas, dia tersenyum miring kemudian berdecak.
"Menenangkan seorang perempuan yang menangis saja tidak bisa, lalu bagaimana kau mau mendekatinya?"
Bara memicingkan matanya tajam, bersiap melayangkan pukulan sebelum Sam melanjutkan perkataannya.
"Kau bahkan tidak bisa duduk bersamanya di dalam mobil berdua saja, karena itu kau memintaku untuk menemani, 'kan?"
Bara termenung, perkataan Sam memang benar adanya. Bukan tidak ingin, hanya saja mengingat mereka tidak memiliki hubungan apa pun membuatnya enggan berbuat sesuatu yang akan mengundang kesalahpahaman.
Pandangannya beralih ke luar, memandang gedung-gedung tinggi di balik kaca mobil. Andai saja kejadian lima tahun lalu itu tidak terjadi, mungkin mereka tidak akan menjadi asing seperti ini.
Takdir terkadang mempermainkan manusia untuk melihat seberapa sabarnya dalam menghadapi masalah, waktu yang telah mendewasakan. Seseorang yang dulu begitu tergila-gila pada cinta, kini terlalu takut cinta akan melukainya balik.