Suasana hening dan canggung memenuhi ruangan itu, para kru dan juga Bara tampak duduk melingkar hendak berdiskusi. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, karena mereka tahu akhirnya akan seperti apa. Di sisi lain, Hanna yang baru pertama kali bertemu dengan orang-orang yang akan bekerja sama dengannya, tentu saja dibuat bingung. Terlebih ketika mereka tampak enggan menatap Bara, pandangan Hanna beralih pada Bara yang terlihat sibuk dengan tablet di tangannya. Mereka telah berada di ruangan ini selama kurang lebih 25 menit, tetapi masih tidak ada yang mau mengeluarkan suara. “Sepertinya Anda harus memberikan mereka ruang untuk bernapas, Tuan Sakha.” Bara menoleh kala nama marganya disebut, dia mengernyit. “Ruangan ini luas. Jika mereka masih tidak bisa bernapas, mereka bisa pergi.”

