"Mana?" Davin menunjuk Ambar sambil tertawa kecil tanpa suara. Sementara Ambar yang baru ingat bahwa Davin menganggapnya sebagai kupu-kupu cantik itu hanya mencibir. "Dav, lukisan kamu itu bagus-bagus semua. Kamu harus terus melukis ya, biar bisa wujudkan mimpi kamu jadi pelukis," katanya untuk mengalihkan pembicaraan setelah sepersekian detik hanya saling membisu. "Tentu." Melihat anggukan Davin, Ambar tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Aku belum tahu apa cita-cita kamu." Seperti kenyataan yang Davin ketahui, seringkali Ambar menyuruh untuk fokus mengejar cita-citanya sebagai pelukis, sedangkan dirinya sendiri tidak pernah bercerita sekalipun tentang cita-citanya. Ambar menarik napas sambil menengadahkan wajah ke udara, kemudian mengembuskan angin yang tadi dia hi

