Davin segera menghadangnya. Membuat Ambar berdecak sebal. "Apa sih, Dav?" Jika keadaan akan terus seperti ini, sepertinya Davin tidak akan betah. Dia tidak bisa terus-terusan disuguhkan wajah marah oleh Ambar. Padahal belum sehari dua puluh empat jam mereka marahan begini. Laki-laki itu mengembuskan napas, lalu mengambil salah satu tangan Ambar. Menggenggamnya dengan erat. "Aku minta maaf." Ya, seperti itulah sifat Davin. Baik dia salah ataupun tidak, dia akan merendahkan ego supaya keadaan kembali membaik. Dia akan meminta maaf dengan harapan tidak akan ada lagi kerenggangan hubungan. Dengan siapa pun itu. Ambar menghela, memutar bola matanya masih sebal. "Aku itu bingung deh sama kamu, Dav. Sebenarnya kamu itu kenapa sih? Tadi marah, sekarang minta maaf." "Maaf, iya aku tahu tadi uca

