Mohan menghentikan ciumannya, melepaskan bibir Inka yang tampak membengkak. Ia menangkup wajah mungil Inka dengan kedua tangan besarnya. "Inka, sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Mohan kaget saat melihat dengan jelas wajah Inka dan kedua matanya yang basah penuh airmata. Inka menggeleng. "Aku tidak apa-apa Mohan." "Tidak apa-apa, lalu kenapa menangis?" "A—aku hanya terharu, dan masih tidak percaya dengan semua ini. Jika kita akan kembali bersama." ucap Inka tersenyum. "Aku juga sayang, sama sepertimu aku pun masih tidak percaya jika kamu memilihku. memilih kembali bersamaku, memilih kembali bersama pria berengsek ini." ucap Mohan menepuk dadanya cukup kuat. Inka memegang tangan Mohan yang memukul dadanya tadi, dan sebelah tangan Inka yang lain mengelus-elus d**a Mohan lembut. "J

