"Hai, Bio." sapa Inka pada Bio yang tampak sibuk membersihkan tempat jualan jus mereka. "Inka!" pekik Bio senang melihat kehadiran Inka. "Apa kaberong cinn?" tanya Bio memeluk Inka dengan aksen kata seperti banci. "Hah?" Inka menatap ke arah Kanz yang memasang ekspresi mual mau muntah. "Apa kabar maksudnya." jelas Bio menepuk bahu Inka pelan. "Oooh, kabarku baik. Bio apa kabar?" Inka melepaskan pelukan Bio. "Luar biasa sangat baik, bekerja menjual jus satu harian sendirian tanpa ada teman yang membantu." Bio melirik ke arah Kanz. Kanz langsung membuang muka ke arah lain saat mengerti arti lirikan Bio padanya. "Sendirian?" ulang Inka. "Iya, tentu saja sendirian. Karena kini temanku sudah beralih menjadi bos besar yang kaya raya, dan temanku yang satu lagi menghilang tanpa jejak s

