Kemal sudah kembali, dan sumpah ya, ini di meja makanku penuh banget sama oleh-oleh. Dia gak cuma beliin buat aku, tapi buat sekeluarga. Buat Papa, Mama, Kak Adam, bahkan ada juga buat Chiro, anak kucing yang ngikutin Kak Adam pulang pas dia ke warung beli rokok.
“Ihh keren ini,” seru Papa sambil mengacungkan cincin yang bertahtakan batu berwarna hijau. Batu apa pula itu aku gak tahu.
“Ada dua gak Pa? Adam mau!” sahut Kak Adam.
“Dih? Kakak pake begituan kaya engkong-engkong nanti!” tegurku.
“Sirik aja!”
Kulihat Kemal tertawa, begitu juga Mama. Kalau Mama sih happy banget, Kemal bawain kain bagus banget, buat sekeluarga kita, bahkan Mama udah semangat buat bawa kain itu besok ke tukang jait.
“Sini yuk!” aku menarik Kemal ke ruang tamu, meninggalkan hiruk-pikuk meja makan yang heboh karena oleh-oleh darinya.
Chiro, anak kucing-nya Kak Adam, mengikuti kami. Begitu duduk, Kemal memangku kucing berwarna abu itu.
“Kamu sehat?” tanyaku,
“Ehmm? Sehat, kenapa nanya begitu?”
“Kamu keliatan kurusan, matanya juga lebih gelap,”
“Ya kan di sana aku kebanyakan begadang,”
Aku mengangguk.
“Makan yang banyak ya sayaang, kurusan tau kamu,”
“Iyaa siap!” katanya.
“Mal! Thanks ya!” Kak Adam ikut nimbrung. Hih! Dia gak tahu apa ya? Aku tuh pengin berduaan sama Kemal. Kenapa sih dia ganggu mulu?
“Yo'i, Dam!”
“Kak, lo sana gih, gue mau ngobrol berdua sama Kemal,” kataku, tapi kayaknya Kak Adam pura-pura budeg.
“Hih! Ngeselin!” seruku.
Kemal hanya tersenyum. Kak Adam tuh ya, padahal dia tuh sibuk sama HP-nya sendiri. Kan kalau main HP mah kan bisa di kamar yaa? Ngapain juga recokin aku di sini.
“Dek, Jum'at tanggal merah, ikut gue yuk!” ajak Kak Adam tiba-tiba.
“Ke mana?” tanyaku.
“Bandung, gue janjian sama dosen buat bimbingan, sekalian jalan-jalan, mau gak lu?” tanyanya.
“Kem? Kamu ikut yuk?” aku malah mengajak Kemal.
“Iya Mal, ikut aja yuk? Main kita ber-tiga.” Kak Adam ikut menambahkan.
“Oke, yuk!”
“Sip! Jum'at pagi yeee?”
Kemal mengangguk, dan aku langsung tersenyum senang. Asik nih kayaknya. Nanti, tinggalin aja Kak Adam sama dosennya di kampus, aku sama Kemal jalan-jalan berdua deh.
Duh, jadi gak sabar! Hohoho!
****
“Andin sorry!” aku menoleh mendengar itu. Agak kesal saat melihat kenapa Panji meneriakkan kata sorry.
Baru saja, ia menumpahkan cat warna hitam di spot yang harusnya jadi matahari. Aku melongo melihat itu, dongkol banget dalam hati.
Astaga dragon, udah kaga ikutan gambar, giliran proses warnain malah bikim kacau. Mau murka aku rasanya.
“Kenapa?” Genta yang sepertinya mendengar teriakan Panji, langsung ikut nimbrung di halaman, padahal sebelumnya ia ada di dalam. Memantau latihan drama di ruang tamu rumahnya.
“Ini Gen, gak sengaja cat hitamnya kesikut sama gue, tumpah,”
“Ya lu gila-gila aja, cat item disimpen di tengah begitu, terus gimana?” ujar Genta.
Panji hanya bisa menggeleng, kalo aku sendiri sih asli udah capek. Itu udah rusak banget dan masalahnya bagian lain udah dikasih warna. Aku tuh sengaja matahari disisain terakhir, biar warna kuning yang menggambarkan matahari pagi sesuai cerita gak keusik warna main. Kuning kan sensitif banget soalnya.
“Din, gimana?” tanya Genta, ia melirik perihatin padaku.
“Tampil drama kan masih lama, bikin baru aja kali ya?” usul Daniel seenak jidad, dia gak tau apa perjuanganku sendirian gambar di kain sebesar ini? Terus seenaknya ditumpahin cat sama Panji, dan dia pengin ganti?
“Din?” panggil Genta karena sedari tadi aku belum bereaksi apa-apa.
“Minta kain lap Gen, sama lo berdua, pergi dulu yang jauh!” kataku sambil menunjuk Panji dan Daniel.
Genta berlari ke dalam rumah lewat pintu samping, Daniel dan Panji masuk ke ruang tamu, nonton anak-anak kayaknya. Tak lama, Genta kembali dengan beberapa lembar kain lap.
“Ini, sayaang!”
“Makasih, Gen!” kataku tanpa banyak protes, udah gedek juga Genta manggil sayang mulu.
Berlutut di dekat tumpahan tinta, aku menyerap tinta tersebut dengan kain lap. Karena tumpahannya banyak banget, kuminta Genta buat ambil kain lap lagi. Sampai akhirnya tinta hitam tersebut menjadi noda hitam yang lumayan tipis di atas backgroud. Cuma ya masih kesel aku, jadi kaya tompel!
Gak tau kenapa, aku mendadak pengin nangis, tapi ya kutahan aja. Soalnya kaya bocah banget aku beginian aja nangis.
“Nih Gen, makasi ya!” Kuserahkan padanya kain lap yang berlumuran cat hitam itu. Lalu setelahnya menuangkan cat putih banyak-banyak. Dengan kuas baru, kuratakan cat putih tersebut di atas cat hitam, tapi gak bisa, gak bisa ketutup. Warnanya sekarang malah jadi nyampur.
Air mataku menetes. Sumpah, ini gak lucu banget sih, kenapa aku tiba-tiba nangis coba?
“Eh? Andin? Kamu kenapa?” Genta yang sudah kembali mendekatiku, ia sadar aku menangis. Langsung saja kuseka air mataku.
“Engga, gak apa-apa,” kataku.
“Udah, tinggalin dulu aja,” Genta menarikku. Tapi bukannya bergabung dengan anak-anak, ia malah mengajakku masuk lewat pintu samping, kemudian menyuruhku duduk di kursi ruang makan.
“Tunggu sebentar yaa?” ucap Genta, aku hanya mengangguk.
Beneran cuma sebentar, Genta kembali dengan dua cup es krim. Dua-duanya berwarna biru, rasa vanilla.
“Nih, biar gak sedih lagi,” katanya sambil mendorong dua cup es krim itu padaku.
“Makasi,” kataku lalu membuka cup yang pertama, menyendok es krim tersebut dengan sendok yang sudah tersedia.
“Udah, kalo kamu capek bikin baru, kita bayar orang aja buat gambar, oke? Jangan dibikin pusing, aku gak mau kamu sedih,”
Aku tak menyahuti ucapan tersebut.
“Aku pesen makanan buat anak-anak dulu ya? Udah mau kelar latihan, kamu di sini dulu aja, abisin es krim-nya.”
Kali ini aku mengangguk. Genta tersenyum, lalu ia pun beranjak dari kursi yang didudukinya, menuju ke ruang tamu.
Sendirian, aku membuka ponselku. Mengirim pesan pada Kemal. Katanya dia hari ini yang akan menjemputku pulang latihan drama. Soalnya, malam ini Kemal bakalan nginep di rumah, besok pagi kami akan pergi ke Bandung.
Aku tersenyum. Mood-ku bagus kembali mengingat rencana kami besok.
Di ruangan lain, aku mendengar beberapa temanku sibuk beberes ruangan. Tak lama mereka tenang, mungkin makanan pesanan Genta sudah datang.
Sekian menit sendirian di ruang makan. Aku bosan, jadi aku keluar lewat pintu samping, ternyata rumah sudah sepi, dan ada Mbak-nya Genta yang sedang merapikan beberapa spot yang luput dibereskan oleh anak-anak.
“Hallo, Mbak,” sapaku.
“Astagfirullah! Kaget mbak, Non.”
“Kok Mbak tumben ada malem-malem? Aku tahunya Mbak dateng hari Selasa sama Jumat doang,” tanyaku sambil mengajak ngobrol, bete soalnya sendiri. Kemal belum dateng.
“Ibuk hari ini gak pulang, ada kerjaan di luar kota. Tiap Ibu pergi, saya disuruh nginep, Non. Jagain Mas Genta “
“Oh gitu, Mbak,”
“Kok Non belum pulang? Yang lain udah pulang,”
“Nunggu dijemput Mbak, belum dateng,” kataku.
Lalu, Mbak yang aku gak tau namanya siapa ini pun pamit ke dalem ketika Genta keluar. Dia sudah berganti baju, pakai celana chinos pendek dan kaus warna abu-abu.
“Kenapa di sini?” tanyanya.
“Emang kenapa?”
“Aku cari tadi di ruang makan, gak ada,”
“Bosen!” kataku.
Lalu aku berbalik, meninggalkan Genta. Kembali ke background yang rusak ini. Sedih banget sumpah, hasil karyaku, yang niatnya dibantuin orang, malah jadi dirusak. Hih!
Aku menoleh ketika pintu pagar rumah Genta terbuka, sebuah motor masuk, Kemal. Kulihat Genta sok akrab gitu.
Asli, heran deh aku sama cowok. Otak mereka tuh gimana sih berjalannya? Kok ya mau masih saling ketemu begitu, padahal kan waktu itu katanya Genta datengin Kemal, nonjok-nonjok gak jelas.
“Hey? Lagi ngapain kamu?” tanya Kemal, ia berjalan mendekat ke arahku yang sedang berlutut di 'tompel' background-ku.
“Ini sayang, ketumpahan cat item sama temen,” kataku.
“Ini contoh gambarnya mau kaya apa emang?”
“Bentar Bang, gue ada, Andin udah pernah bikin,” Genta nyamber aja kaya guntur, ia langsung berlari ke bagian dalam rumah,
“Sedih tau aku,” kataku ketika hanya berdua bersama Kemal.
“Sedih kenapa?”
“Iya, gambaran aku dibeginiin.”
“Ya kan temen kamu juga gak sengaja sayaang, gak apa-apa, bisa kok dibenerin,” ujar Kemal dengan nada menenangkan.
“Iya emang?” tanyaku, Kemal mengangguk sambil tersenyum.
Genta kembali, membawa selembar kertas gambar yang aku buat waktu pertama kami rapat soal drama, dia masih menyimpannya ternyata.
“Ini Bang gambaran Andin,” ujar Genta sambil mengulurkan kertas tersebut pada Kemal.
“Ini setting waktunya pagi ya?” tanya Kemal.
Aku dan Genta mengangguk berbarengan. Kulihat Kemal tampak berfikir sebentar. Lalu tersenyum.
“Kalo dibikin setting waktu jadi sore bisa gak?” tanyanya.
“Bisa aja sih Bang,”
“Yaudah, suruh ganti jadi sore yaa. Sayang kamu minggir, sini aku betulin,”
Menurut, aku menepi, lalu kulihat Kemal mencampur beberapa warna ke dalam kaleng cat yang sudah kosong, mengaduknya dengan kuas baru. Setelah itu, ia menggambar matahari, gak bulet kaya sketsa awalku, tapi terlihat cukup jelas kalau itu matahari berwarna jingga persis dengan yang ada di langit sore. Kemal juga menambahkan awan-awan catton-candy yang memang biasa ada di langit.
Hasilnya jadi cantik.
“Gimana?” tanya Kemal.
“Keren Bang!” seru Genta.
Asli sih, selama ini aku gak tahu kalau Kemal jago gambar. Ya ampun, makin cinta aku sama makhluk satu ini. Luar biasa banget. Seneng!
“Udah ya, jangan sedih lagi,” ucapnya pelan dan aku tersenyum kecil.
Kemal lalu berdiri, ia mengulurkan tangan agar aku berdiri juga.
“Jangan dilipet dulu ya, Gen. Masih basah itu, biarin angin-anginin aja, gak hujan juga kayaknya malem ini,”
“Siap Bang!”
“Yaudah, gue sama Andin balik ya?”
“Oke Bang! Siap, hati-hati ya Bang, jagain dulu ya jodoh gue-nya!”
Kemal diam, ia hanya tersenyum mendengar omongan gak jelas Genta. Aku juga sama, gak meladeni Genta karena tahu dia kalau ditanggepin malah kesenengan.
Aku naik ke boncengan motor Kemal, ketika motornya melaju, aku memeluknya erat.
“Makasi ya sayaang, udah bantuin background aku,” kataku mengajak ngobrol biar gak diem sepanjang perjalanan.
“Sama-sama sayangku! Kalo bisa mah pasti aku bantuin, apapun itu,” ujar Kemal lembut, ia mengelus tanganku pelan.
“Kamu malem ini nginep kan?” tanyaku.
“Iyaaa, dong!”
“Tidur di kamar aku?”
“Hahaha ngaco aja, ya sama Adam lah,”
“Ihh gak asik!”
“Emang yang asik tuh yang gimana?” ujar Kemal dengan nada menggoda.
Aku tersenyum. Ya aku juga gak tahu, tapi kan ya, gimana ya... aku tuh maunya deket-deket Kemal terus. Maunya berdua gitu.
Nyaman soalnya sama dia tuh.
-tbc-