32. Menjadi Dewasa

1712 Kata
Hari-hari berlalu begitu saja, gak kerasa aku sudah kelas 3 sekarang, udah jadi senior di sekolah, udah boleh belagu, hahaha! Aku gak sekelas sama Mia, pertemanan kami menggantung begitu saja. Berakhir? Mungkin. Tapi yang kutahu, Kak Adam beneran lagi deket sama dia, cuma aku gak tahu hubungannya sedeket apa. Sialnya, di kelas 3 ini, aku sekelas sama Genta. Dia ngajak sebangku tentunya, dan aku gak mau dong yaa. Untunglah aku masih sekelas sama Ari dan dia mau sebangku denganku. Genta? Dia duduk di depanku, kerjaannya nengok belakang mulu. Rusuh! Entah itu pinjem penghapus, pinjem tip-ex ataupun nyontek jawaban. Sumpah gak jelas banget. Aku sama Ari cuma bisa berlapang d**a aja melihat hari-hari kami diganggu oleh Genta. Tapi, Ari keliatannya gak keberatan sih, soalnya dia akrab sama Genta. Kasian banget emang aku. Lalu, hubunganku dengan Kemal makin baik. Aku bahagia banget pacaran sama Kemal. Sumpah. Dia anaknya baik parah, gak neko-neko. Kami ketemu seminggu sekali, tiap Sabtu siang Kemal akan main ke rumah, lalu Sabtu sore kami akan jalan-jalan. Malemnya, dia pulang ke distrik 15. Selalu begitu. Ada kalanya, kalau Kemal gak banyak tugas, dia bakal kabarin kalau dia mau jemput aku sepulang sekolah. Enak deh, jadwal kencannya jadi makin banyak. “Din?” “Hemm?” “Nyanyi apa?” tanya Ari, Oh iya, aku nih sedari tadi melamun niatnya mau mikir nyari lagu. Kami dapat tugas untuk menyanyi lagu Sunda. “Gue main gitar aja, biar elu yang nyanyi, ya?” ujar Ari, karena memang satu kelompok tuh berdua, teman sebangku. “Yaah, elu mah numbalin gue dong? Kan suara gue gak bagus, Ri!” “Ya apalagi gue?” “Mau nyanyi bareng aku?” Genta menoleh ke belakang, menggangu obrolanku dengan Ari. “Yeee ngaco lu, Gen! Kan pasangannya sebangku-sebangku!” kataku. Oh iya, tiap Sabtu malam juga, Genta selalu kirim bunga dan cokelat buatku. Aku udah bilang ke dia gak usah kaya gitu, tapi... ya tahu lah ya sifatnya Genta yang seperti tokai ini? Mana mau dia denger. Heran aku tuh, padahal cewek adek kelas banyak banget yang suka sama dia. Apalagi anak kelas satu, beuh tergila-gila tuh mereka sama Kakak Tinggi Sang Kapten Basket. Tapi ini bocah satu yaa, masih aja gak jelas ngejar-ngejar. Gak capek apa? Heran deh aku. “Ya emang kenapa kalo aku ikut nyanyi sama kamu?” “Gak boleh Gen!” “Kamu yang bilang gak boleh, bukan Pak Syarif!” serunya menyebut guru Bahasa Sunda. “Tau ah,” Aku dan Ari masih sama-sama merenung. “Es Lilin?” “Terlalu Sunda pisan, Din,” “Emm, Manuk Dadali?” “Gak ah, panjang lagunya,” “Hadeh, apaan? Bogor Lumigar Mekar?” “Terlalu Bogor, Din,” Pasrah deh aku sama Ari, semua lagu usulanku ditolak sama dia. “Bubuy Bulan” usulku lagi. “Gak deh, eh lagu yang tentang perpisahan, apa tuh?” tanyanya. “Apaan?” aku bingung sendiri. Lagu Sunda tentang perpisahan apaan ya? “Udah deh, nanti aja, gue pusing mikirinnya, buat minggu depan ini,” kataku akhirnya, Ari pun mengangguk setuju. Pak Syarif tadi datang hanya memberi tugas untuk minggu depan, soalnya mau ada rapat, gak tau deh rapat apa. “Din?” Genta nengok ke belakang lagi. “Apaan?” “Aku sebenernya udah lama mau ngomong ini, tapi gak sempet mulu,” “Waah? Lo mau nembak si Andin?” Ari heboh sendiri, bikin satu kelas menoleh ke arah kami. Kan aku malu ya. “Apa lu semua liat-liat? Mau gue colok mata lu?” seru Genta, dia sekarang ketua kelas, jadi punya kuasa lah sedikit. Seruan Genta membuat anak-anak mengalihkan pandangannya mepada kami. “Kalian berdua kenapa demen banget sih bikin gue malu?” keluhku. “Ini soal Pak Yogi, Din!” ujar Genta bikin aku panik. Pak Yogi, guru matematika yang waktu itu nanya tempat aborsi, dan aku menyarankannya untuk bertanya pada Genta. Waduh, apa jadinya masalah itu sekarang? Yang aku tahu, pas liburan kenaikan kelas kemarin, Pak Yogi menikah. “Gak di sini, ayok di luar!” ajakku, Genta mengangguk. Aku keluar kelas, Genta menyusul di belakangku. Karena kami sudah kelas tiga, kami sekarang ada di lantai tiga juga. Lantai ini banyak spot rahasia buat 'mojok', kali ini aku dan Genta duduk di belakang kamar mandi, emang ada bangku di sana. “Gimana Pak Yogi?” tanyaku ketika kami duduk bersisian. “Aku mau tanya dulu, kenapa kamu nyuruh dia datengin aku? Salah pula lagi, aku kan di IPA3, kamu saranin dia ke IPA5,” “Heheheh, aku lupa itu, aku ingetnya kelas kita sebelahan, aku kan kemarin IPA4, jadi ya pilihannya 3 atau 5, aku malah keingetan 5,” Genta hanya tersenyum mendengar penjelasanku. “Terus Pak Yogi gimana?” “Ya dia minta tolong, ya aku tolongin,” “Kamu gak nanya dulu dia nyari gituan buat apa?” “Bukan urusan aku itu, Din,” ucap Genta dengan nada tak peduli. “Kamu tahu gak? Ceweknya itu hamil bukan sama Pak Yogi, tapi sama Pamannya si cewek, itu pemerkosaan Gen,” jelasku. “Emm, itu makin melegakan hati aku sih, menurutku anak korban pemerkosaan emang sebaiknya digugurin aja, biar ke si ceweknya gak ada ikatan sama si pemerkosa. Kebayang gak? Udah diperkosa sakitnya kaya apa, eh harus ngurus anaknya juga, anak kan tanggung jawab seumur hidup,” “Tapi itu lebih baik dibawa ke jalur hukum, Gen,” “Apa sih yang mau kamu harepin dari sistem hukum di negara ini?” “Keadilan masih ada, orang baik juga masih banyak, aku percaya itu,” “Yaudah lah, itu urusan Pak Yogi, dia udah dewasa, pilihan yang dia dan ceweknya ambil mungkin pilihan yang menurutnya paling tepat saat itu, yang penting ceweknya tenang, udah, aku sih mikirnya gitu,” ujar Genta. “Kamu, kamu bawa dia ke klinik illegal?” tanyaku. “Nope!” “Terus?” “Mama punya obatnya, harusnya aku punya adik, tapi Mama milih buat gugurin kandungannya pas tahu Papa selingkuh, salah satu masalah kenapa mereka cerai. Aku curi obat punya Mama, kasih ke Pak Yogi, kelar deh,” Aku menggeleng tak percaya melihat bagaimana Genta bisa sesantai itu menceritakan permasalahan keluarganya. Aku beneran yakin sih, ada masalah dengan hatinya. “Aku diundang ke pernikahan Pak Yogi bulan kemarin, aku dateng, dan liat gimana Mbak Sofia bahagia sama Pak Yogi, aku ngerasa ada di jelan yang bener. Pas aku ke pelaminan buat ngasih selamat, Pak Yogi kaya bisikin istrinya soal siapa aku, eh istrinya langsung berkaca-kaca sambil bilang makasi, agak sedikit heboh, sempet dikira aku mantan pacarnya Mbak Sofia,” Aku tersenyum mendengar itu. “Gen, kamu asik loh kalo kaya gini,” kataku, asli, aku pengin hidupku gak diganggu Genta, aku pengin cuma sebatas teman sama dia, tanpa ada perasaan jengkel padanya. “Asik kan? Apalagi jadi pacar coba?” Baru dipuji dikit, udah nyebelin aja dia. Bener-bener deh ah! “Heu, males aku Gen,” “Kamu belum jawab pertanyaan aku, Din,” “Eh? Pertanyaan yang mana?” “Kenapa kamu nyuruh Pak Yogi datengin aku?” tanyanya. “Ohh itu... Pak Yogi dateng ke aku, nanya soal aborsi, ya mana aku tahu, dia kemakan gosip kamu yang bilang aku hamil terus aborsi. Di situ aku kepikiran, kamu bisa-bisanya bikin gosip itu, kamu pasti tahu soal yang kaya gitu, jadi... aku nyuruh Pak Yogi ke kamu deh,” “Untung aku beneran tahu!” Aku tersenyum. “Gen?” “Yak sayang!” “Oh, please! Gak usah panggil sayang-sayang, aku pacaran sama Kemal, jangan rusakin hubungan aku,” “Yaudah, yaudah, kenapa?” tanya Genta. “Aku penasaran, seberapa besar perceraian orang tua kamu mengubah kamu dan Kakak kamu?” “Itu bukan urusan kamu, Din!” Genta langsung berdiri, ia meninggalkan aku sendirian di sini. Aku tahu, mungkin pertanyaanku itu sudah kelewat batas, tapi aku beneran peduli sama Genta. Kali aja, kalau dia bisa berdamai dengan dirinya. Ya dia gak jadi Genta yang nyebelin kaya sekarang. Sedang melamun, aku mendongkak ketika Genta kembali, ia duduk di sampingku lagi. “Maaf ninggalin kamu,” katanya pelan. “It's okay, gak apa-apa, emang pertanyaan aku kelewatan, bener kata kamu, itu bukan urusanku,” “Aku boleh tahu, apa yang bikin kamu suka sama Kemal?” tanyanya. Aku menoleh, menatapnya tak percaya. “Soalnya kalo diliat, aku sama Kemal tuh gantengan aku ya... aku juga jauh lebih tajir. Soal sayang sama kamu, aku yakin aku lebih sayang sama kamu!” Aku tersenyum mendengar itu. “Dari awal, aku emang gak suka Gen sama kamu. Bukan gak suka, tapi gak tertarik, karena dari awal, Mia yang suka sama kamu,” “Ohh balik ke Girl's Code gak jelas yang kamu bahas waktu itu? Duh capek aku! Kaya... si cowok yang ditaksir, dalam kasus ini ya aku, aku gak punya pilihan gitu? Gak adil!” “Ya emang, tapi itu lebih menenangkan hati semuanya,” “Apa? Apa yang bikin kamu mau pacaran sama Kemal?” tanya Genta. “Kemal baik, dia juga bikin aku nyaman, aku sayang sama dia,” “Itu doang?” “Iya, itu doang!” “Kamu tahu kan kamu sama Kemal tuh beda?” Aku mengerti maksud perkataan Genta barusan, dan selama ini aku tak ingin memikirkan itu. “Aku tahu, dan itu bukan urusan kamu!” kataku. “Kalau kamu tahu hubungan kalian cuma buang-buang waktu, kenapa dijalanin Din? Hubungan kalian gak punya masa depan,” “Sok tahu kamu!” seruku, nada suaraku sedikit meninggi. Genta diam, tak lagi menyahuti. “Tahu gak sih Din? Kita tuh kadang dipaksa dewasa sama keadaan. Kaya aku, umur 16 harus bisa dewasa, jadi yang jagain Mama karena Papa pergi sama cewek lain dan Kakakku terlalu pengecut buat ngadepin perceraian orang tua kami. Kadang, menjadi dewasa itu tuntutan, supaya kita jadi lebih baik, bahkan terbaik, bukan cuma buat diri sendiri, tapi juga buat orang yang kita sayang,” ucap Genta, nada bicaranya serius. Aku menoleh ke samping, menatapnya, matanya terlihat sedih saat ini. “Kamu juga perlu Din, menjadi dewasa, buat mencegah hal-hal yang gak diinginkan di masa depan. Jadi dewasa gak bikin jiwa muda kamu hilang kok, malah bagus, bikin jadi lebih bijak.” Aku mengangguk. Genta tersenyum, ia tak berkata apa-apa lagi. Jadi kami hanya diam di tempat ini. Menunggu sampai bel pulang sekolah berbunyi. -tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN