25. Penentuan

1342 Kata
Tim basket lolos lagi, kali ini kami ada di semi final, melawan salah satu sekolah yang dua tahun lalu membawa pulang piala Wali Kota, dan tentu saja, pertandingan kali ini bukan lah sesuatu yang mudah untuk semua anggota tim. Jadwal Kemal sedang kosong, makanya dia ikut sama aku ke Gor, dan seperti kemarin, dia juga jadi koordinaror supporter bersama Orion. Kalo aku ya kaya biasa, ikutan rame-ramean aja, teriak kalau pada teriak, ikut nyanyi pokoknya terserah koordinator aja. Terserah Kemal, hehehehe. Melirik ke lapangan, sebelum pertandingan ya seperti biasa, ada hiburan-hiburan gitu, tapi untuk kali ini gak ada modern dance, gak ngerti kenapa, jadi ya panitia penyelenggara hanya memutar musik di sela-sela waktu kosong. Di lapangan, terlihat Gaftan dan Coach Pandu memberi instruksi dan lain sebagainya, ketika officials meminta mereka masuk, kaget juga aku pas tahu yang dikeluarkan untuk lomba kali ini beneran yang jago-jago; Gaftan, Genta, Kiki, Rezan dan Chandra. Wah kacau sih ini, berarti Coach Pandu gila-gilaan. Biasanya, pemain inti itu hanya keluar 3, Gaftan sudah pasti karena dia kapten, dan nanti tuh yang lain tuker-tukeran sama pemain cadangan saat pergantian pemain. Ini kalau pemain inti keluar semua, pas ganti pemain siapa yang masuk? Kan kalau capek semua ya berabe. Tim supporter langsung menyanyikan Mars Sekolah seperti biasanya, dan aku tetep aja selalu merinding mendengarkan lagu sekolahku dinyanyikan begini. Di seberang sana supporter lawan yang tidak sebanyak kami, mereka bersorak tapi tidak terlalu terdengar sedangkan Mars Sekolah, bahkan yel-yel semangat pun terdengar lantang. Tapi, ngeri juga sih kalau kalah, malu, heheheh. Emang sih setiap pertandingan itu ada kalah dan ada menang. Cuma, gengsi kali ya? Siswa satu sekolah udah diturunin buat jadi penyemangat lomba terus kalah? Ya kali~ Ramainya para supporter dan posisiku yang agak ke belakang membuatku tidak tahu banyak kondisi di bawah sana, tapi yang kelas seruan semangat dari ke dua belah pihak masih terus terdengar. Aku mencoba berjinjit, agar bisa melihat papan skor, ternyata kami ketinggalan, gak jauh sih, cuma ini pertama kalinya dalam lomba musim ini. Menit demi menit berlalu, para supporter akhirnya duduk ketika interval ke dua yang memang biasanya cukup lama. Saat duduk begini, aku bisa melihat jelas poin perolehan sementara, 47-56 kami tertinggal 9 angka, dan menurutku itu jarak yang lumayan. Ketika peluit berbunyi dan pemain diminta masuk kembali ke dalam lapangan, semua tim inti duduk di bangku cadangan. What? Ini stratgi apa yang dimainkan Coach Pandu? Padahal ini akan masuk ke babak akhir. Kok yang main bukan pemain inti sih? Supporter kembali berdiri, membuat pandanganku kembali terhalang seperti tadi. Bikin kesel sendiri karena aku kan mau liat jalannya pertandingan, bukan cuma teriak-teriak doang. Tak mengetahui apa yang terjadi, ternyata 10 menit sudan berlalu begitu saja dan aku tesenyum melihat papan skor, sudah 59-63 kami berhasil mempersempit selisih nilai. Good! Dan sepertinya tadi sudah sempat terjadi pergantian pemain. Gaftan, Genta dan Chandra sudah kembali ke lapangan. Babak terakhir di mulai, aku kembali gak bisa liat ke depan, namun aku merasa Gor makin penuh sesak, dan teriakan semangat untuk Pemuda Pertiwi terdengar makin kencang. Aku mencoba melihat ke kiri dan ke kanan, ternyata ada murid sekolah lain yang ikut menyemangati sekolah kami, tak hanya itu tapi, mereka mengejek sekolah lawan, membuat suasana menjadi gaduh seketika. Aku keluar dari barisan, berjalan ke depan untuk melihat situasi terkini, karena mendadak semua supporter sekolahku hening, hanya sekolah yang baru bergabung ini saja yang berteriak tak jelas, meneriakan kata-kata yang tak pantas kepada tim lawan. Aku melirik papan skor, ternyata kami sudah unggul saat ini, seluruh tim inti sudah berada di lapangan, namun supporter sekolahku tetap diam. Ini ada apa sih? Lalu, ketika peluit ditiup dan dinyatakan sekolah kami menang, segerombolan anak sekolah lain ini meledek habis-habisan sekolah lawan, memancing emosi mereka yang membuat tiba-tiba saja, para supporter yang ada di seberang sana turun ke lapangan juga tribun kami, menghajar anggota tim basket dan beberapa supporter yang ada di depan. “Sini kamu!” aku kaget ketika aku ditarik mundur ke belakang, ketika aku menoleh, ternyata Kemal yang menarikku, lalu terdengar teriakan Orion. “Keluar, keluar semua lewat pintu samping! Jangan ada yang kepancing! Kita mau diadu-domba, keluar! Semua keluar sekarang!” teriakan Orion terdengar sangat kencang, membuat bulu kuduk-ku berdiri. Kemal sendiri masih menarik tanganku, membawaku keluar dari gedung lewat pintu samping, tangaku ia pegang erat-erat. Dan ketika kami berada di luar bangunan, ia memeriksaku. “Kamu gak apa-apa kan?” tanyanya, nada suaranya terdengar khawatir. “Gak apa-apa, emang itu kenapa sih?” “Tunas Pemuda, emang begitu, suka bikin ulah. Aku udah suruh Orion buat diem pas liat seragam mereka masuk, eh si kampret malah terus nyanyi, mereka jadi tahu yel-yel kita, nada yel-yel kita dipake buat ngeledek tim lawan seolah-olah kita yang disrespect lawan, mau bikin kita ada musuh sekaligus di diskualifikasi,” “Kok gitu?” tanyaku bingung, “Cabut aja yuk? Aku jelasin di tempat lain,” ajak Kemal. “Itu yang lain gimana? Anak tim basket yang digebug-in? Anak-anak yang sempet diserang?” “Ada Coach Pandu, ada perwakilam guru, ada Orion sama Ricco juga, nanti urusan mereka yang lapor sama Adam,” “Kak Adam?” “Yap, dia jadi Dir-Jen kan emang buat ngurusin yang ginian juga. Yok, Din!” lagi-lagi Kemal mengajakku pergi. “Oke-oke, ayok kita pulang,” Berjalan ke arah parkiran, aku melihat beberapa pasang mata yang melirikku seperti sebuah mangsa buruan. Aku melirik Kemal, ia terlihat tenang, merangkul bahuku dengan santai, membuat beberapa orang tadi membuang muka. Astaga, ini apaan lagi sih? Ketika di parkiran, sebelum berangkat Kemal membuka bagasi motornya, mengeluarkan sebuah jaket dan memberikannya padaku. “Pake nih,” “Biar apa?” tanyaku. “Biar pas di jalan gak ada yang tiba-tiba lempar batu pas liat logo sekolah Pemuda Pertiwi di seragam kamu,” “Ohhh, oke-oke,” aku langsung menurut, memakai jaket berwarna biru navy ini. Ketika semua sudah siap, aku naik ke boncenhan dan Kemal pun melajukan motornya. Memulai kebiasaan baru, sekarang kalau dibonceng aku pasti memeluk pinggang Kemal dari belakang, sesekali, Kemal tiba-tiba mengelus tanganku lembut. Motor Kemal membelah jalanan sore ini, udara hari ini lumayan bagus, gak terlalu terik, matahari sedikit tertutup awan, jadi lumayan adem. Asik menikmati udara sore, eh tiba-tiba motor berhenti. “Kenapa?” tanyaku. “Makan yuk? Aku laper,” ajaknya, aku langsung mengangguk. Dan memang sih, ini motor berhentinya di depan warung bakso, hehehe. Memesan bakso dua porsi dan dua gelas es jeruk, aku dan Kemal duduk di bangku yang agak pojok. Baru ketika p****t Kemal menyentuh kursi, aku langsung menagih penjelasan. “Apa tadi? Lanjutin ceritanya!” pintaku. “Iyaa, kita diem di akhir-akhir tuh biar officials liat dan denger kalau yang teriak-teriak maki-maki tuh bukan sekolah kita, jadi mereka gak punya alasan buat diskualifikasi kita nanti. Terus, Tunas Pemuda emang habis ini tuh main, lawan sekolah negeri, mungkin mereka gak mau kita ada di final karena mereka takut sama kita, soalnya ini tahun pertama Pemuda Pertiwi ikutan piala Wali Kota, dan bisa melaju sampai semi final, bahkan final. Kita kan biasanya ikutnya DBL, atau BBL,” jelas Kemal sambil menyebutkan dua nama turnamen basket yang terkenal. “Ohhh gitu,” “Mereka juga pasti jiper, sekolah kita supporternya banyak. Mereka ya cuma segitu doang, jadi mereka bikin ulah gitu. Padahal lawan sekolah kita tadi, Sekolah Harapan Persada, mereka tuh baik-baik, selalu fair-play, kaya tadi aja, gak ada pelanggaran kan? Supporter mereka tiba-tiba maju ya karena diledek, keras loh mereka, sumpah, lebih keras dari lingkungan Pemuda Pertiwi. Sekolah Harapan Persada kan khusus cowok doang, sama sih Tunas Pemuda juga,” Aku ngeri mendengar penjelasan itu. Sumpah sih, tanding basket doang masalahnya ampe bisa sebegininya. Obrolan kami terputus, bakso pesanan kami datang dan tentu saja aku dan Kemal langsung menyantapnya. Enak banget, sore-sore yang adem, makan bakso yang anget. Pas banget lah. “Kamu mulai besok aku anter-jemput ya, Din?” ucap Kemal di sela-sela kunyahannya. “Eh? Kenapa gitu?” “Bahaya naik Bus, aku ngeri kamu tiba-tiba diserang. Sampai sebulan setelah pertandingan, aku bakal terus anter jemput kamu,” Aku bengong. Edun lah, udah kaya princess aja nih aku. *** Tbc~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN