Irawan masih ingat benar perkataan Andi, sekretaris cerewetnya beberapa minggu lalu. Pemuda itu dengan sok bijaknya berkata bahwa satu-satunya obat untuk orang yang sedang dilanda jatuh cinta dan saling mencintai adalah menikah. Maka, karena perkataan itulah Irawan semakin yakin bahwa keputusannya memajukan tanggal pernikahan dengan Fawnia memang lah sangat tepat. Terbukti, semalam selepas resepsi Irawan tak mampu lagi menahan hasrat lelakinya pada sang istri. Maka pagi ini, di mana langit masih gelap dan sinar matahari masih enggan menunjukkan taringnya. Irawan tak bisa menahan senyumnya yang mengembang tatkala memperhatikan dengan seksama perempuan cantik yang masih terlelap dengan nyenyak di lengan kirinya. Fawnia. Perempuan manis yang belum genap dua puluh empat jam menjadi istrinya.

