"Nadira ..., Nadira! Kemarilah! Ini Mamakmu sudah menunggu!" Panggilan berkali-kali dari Bu Ani membuat Nadira semakin panik. Dia masih duduk di ranjang sambil memangku Nafa. "Uda Farhan, perjuangan kita baru akan dimulai. Entah kenapa aku begitu yakin ingin bersatu kembali denganmu. Padahal aku belum memastikan apakah kamu masih berhubungan dengan wanita itu atau tidak. Namun hatiku yang terdalam kini merasakan ketulusan cintamu. Mungkin karena adanya Nafa di antara kita. Sebagai pengikat rasa antara aku dan kamu. Bismilah ...." Nadira meyakinkan diri dalam hati dan kemudian bangkit berdiri. Dengan menggendong Nafa, Nadira melangkah keluar dari kamarnya menuju tempat Mamak dan Ibunya duduk di ruang utama rumah gadang. "Assalamualaikum ..." "Waalaikumsalam." Nadira masih menunduk dan

