Bab 10. Kedatangan Erika

1011 Kata
Mata Farhan melebar melihat seseorang yang sangat dikenalnya, saat ini berada di halaman rumahnya. "Erika ...!' Farhan menggeram. kedua tangannya mengepal. Matanya menatap nanar pada wanita yang telah menjadi kekasihnya sejak tiga tahun yang lalu. Napas Farhan memburu. Kecemasan tingkat tinggi merajai perasaannya kini. Bagaimana tidak. Erika datang saat keluarga besar Nadira sedang berkumpul di rumahnya. Mamak dan ibu mertuanya juga ada di sini. Apa yang akan dia jelaskan nanti? Dia yakin Erika akan nekad. Perempuan itu keinginannya selalu harus terpenuhi. Termasuk agar dirinya segera menceraikan Nadira. Sementara Nadira membelalakkan matanya kala melihat wanita yang sangat persis dengan foto-foto yang di kirim orang tak dikenal ke ponselnya. "Apakah wanita ini yang selalu menerorku akhir-akhir ini?" pikir Nadira dalam hati. Erika masih berusaha untuk masuk ke dalam. Namun security masih belum mengizinkannya. "Mbak Erika, di dalam sedang ada acara keluarga besar Bu Dira. Saya mohon Mbak pulang saja!' "Kurang ajar kamu, Ya! Kamu lupa siapa saya? Sampai detik ini saya masih kekasihnya Farhan!" sahut Erika lantang. Membuat hampir semua orang di teras mnoleh ke arah Erika. Termasuk Mamak dan Bu Ani. "Nona siapa? Kenapa bicara seperti itu?" Mamak Sutan Sati yang merasa terganggu dengan ucapan Erika lantas menghampiri wanita yang mengaku sebagai kekasih Farhan itu. "Mak, sudahlah. Jangan ikut campur. Sebaiknya kita masuk saja!" Nadira yang masih ingin menutupi aib suaminya, mengajak Mamak Sutan Sati masuk. Namun laki-laki paruh baya itu justru melangkah menghampiri Erika. Melihat hal itu, Farhan semakin gelisah. Wajahnya memucat. Nadira melirik suaminya yang terlihat panik. Perlahan Nadira mendekati suaminya. "Uda ... bagaimana ini? Tolong cegah perempuan itu. Jangan sampai membuat malu keluarga besar Mamak!" bisik Nadira dengan penuh penekanan. Farhan bingung. Benar apa yang dikatakan Nadira. Erika akan membuat malu dan hancur keluarga istrinya. Diam-diam hati Farhan menghangat, saat mengetahui Nadira masih menutupi kesalahannya di depan keluarga besarnya. "Siapa kamu sebenarnya? Berani--beraninya mengaku-ngaku sebagai kekasih menantu saya?"Mamak Sutan Sati mengulang kembali pertanyaannya. Raut wajahnya nampak mulai emosi. "Hello ... Bapak tua, Dengerin, ya! Saya ini sudah tiga tahun menjadi kekasih Farhan. Tapi sayangnya, perempuan yang bernama Nadira itu telah merebutnya dari saya. Tapi nggak apa-apa, toh sebentar lagi mereka akan bercerai!' "Apaaa? Bercerai?" Suara Mamak Sutan Sati menggelegar. "Erika! Jangan bikin kegaduhan di rumahku! Cepat kamu pergi dari sini!" Farhan berteriak mengusir Erika. Para sanak family yang hadir satu persatu keluar ingin melihat apa yang terjadi. Diantara mereka ada yang saling berbisik membicarakan kedatangan wanita berbaju yang berbeda dengan semua yang hadir saat ini. Semua wanita di keluarga besar Nadira menutup aurat dengan memakai hijab serta pakaian yang tidak menampakkan lekuk tubuh. Sementara Erika memakai baju ketat yang sangat pendek, dengan riasan wajah tebal dan sangat mencolok. Di saat ketegangan terjadi, Erika tiba-tiba menyerobot masuk dan menghampiri Farhan. "Sayang, kamu tidak akan melanggar janjimu, kan?" Erika menatap mesra dan lekat kekasihnya itu. Tangannya mulai menyentuh lengan Farhan. Nadira yang berada tak jauh dari Farhan, hatinya terasa bagai diremas melihat sikap mesra Erika pada suaminya. "Jaga sikapmu, Erika!" Erika tersentak dan marah ketika Farhan menepis tangannya dengan kasar. Sementara Bu Ani yang sejak tadi menyaksikan keributan itu. Merasa sangat malu. Air matanya mulai berjatuhan mendengar bisikan-bisikan para tamu yang membicarakan anak dan menantunya. "Beginilah ujiannya kalau punya suami tampan dan kaya. Banyak perempuan penganggu. Lebih bagus kita, walau tidak kaya, tapi suami setia." "Laki-laki kalau punya uang banyak, pasti selingkuhannya di mana-mana, ya nggak?" "Kasian Bu Ani dan Nadira, selama ini dibohongi sama si Farhan itu." "Ooo ... seperti ini rupanya kelakuan menantu yang di bangga-banggakan itu." Telinga Bu Ani semakin panas. Dadanya semakin bergemuruh. Anak dan menantunya diperbincangkan di depan matanya sendiri. Nadira tak tega melihat Bu Ani yang terus menangis. Perlahan dia menghampiri Ibunya. "Bu, kita ke dalam saja, yuk!" bisiknya seraya meraih lengan Bu Ani dan membawanya ke dalam. Saat di dalam, Nadira menghubungi salah satu security lewat ponselnya. "Pak, tolong usir perempuan itu secepatnya!" Sebenarnya Nadira pun saat ini ingin menangis sekencang--kencangnya. Sungguh dia merasa sangat dipermalukan oleh perempuan itu. Namun sekuat tenaga Nadira menahan agar bulir bening itu tak jatuh di pipinya Ketegangan semakin menjadi di luar. Erika mulai memperlihatkan foto-foto mesranya bersama Farhan, pada Mamak Sutan Sati. "Erika! Pergi kamu dari sini!" usir Farhan gemetar. Namun sebisa mungkin ia menahan tangannya agar tak melukai Erika yang semakin membuatnya emosi. Wajah Mamak Sutan Sati memerah melihat foto-foto yang ditunjukkan oleh Erika. Amlop coklat besar yang dibawa perempuan itu berisi banyak foto-foto Farhan dan Erika. Erika juga memperlihatkan pada para tamu yang berada di luar. Farhan semakin tampak panik. Dia memberi kode pada salah satu security agar mengusir Erika. Dua security melangkah menghampiri Erika. "Asal kalian tahu, Farhan itu seharusnya sudah menceraikan istrinya yang kampungan itu setelah anaknya lahir." Erika berkata lantang seolah-olah hendak memberi pengumuman pada mereka yang hadir. "Menceraikan? Apa maksud kamu?" teriak Mamak Sutan Sati. "Nona sebaiknya pergi dari sini!" Tiba-tiba dua orang security menarik paksa tangan Erika dan membawanya keluar. Erika menyempatkan diri memberikan amplop coklat besar itu pada Mamak Sutan Sati sebelum melangkah keluar gerbang. "Silakan anda lihat sendiri salinan surat perjanjian mereka di dalam amplop ini!" Mamak Sutan Sati meraih amplop itu dengan wajah emosii Wajah Farhan semakin memucat melihat amplop coklat itu "Apa benar Erika punya salinan surat perjanjian itu?"pikirnya dalam hati dengan rasa cemas yang luar biasa. Entah kenapa saat ini dirinya sangat takut kehilangan Nadira dan Nafa. Dalam hatinya Farhan tak henti-hentinya menyesali diri. Kenapa tidak sejak dulu saja dia tinggalkan Erika. Wanita yang selalu membuat dirinya susah. Wanita manja yang taunya hanya uang, perhiasan dan barang-barang mewah. Dua security terus memaksa Erika untuk pergi. "Farhan! Aku tunggu janjimu!"Teriak Erika lantang sebelum wanita itu menghilang di balik gerbang. Mamak menatap murka pada Farhan. Tangannya menggenggam erat amplop coklat yang tadi diberikan oleh Erika. Tubuh Farhan gemetar. Apa yang akan dia katakan jika benar salinan surat perjanjian itu ada di dalam amplop coklat itu. Bagaimana caranya dia menjelaskan nanti pada Mamak dan ibu mertuanya itu? Perlahan Farhan masuk ke dalam dan melangkah ke ruang kerjanya. "Uda, mungkin ini sudah saatnya. Mari kita katakan yang sebenarnya pada Mamak dan Ibu. Setelah itu, ceraikan aku. InsyaAllah aku sudah siap."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN