Apa kabar, Dira?" Farhan memecah kecanggungan diantara mereka. "Alhamdulilah Baik, Uda," sahut Nadira seraya menjatuhkan bobotnya pada sofa. "Apa anak kita sehat-sahat?" tanya Farhan lagi. "Nafa insyaAllah sehat," jawab Nadira tersenyum. "Maaf, aku datang lebih awal. Mungkin mengganggu waktumu. Tapi jika tidak keberatan, aku ingin mengajakmu makan siang di luar. Bagaimana?" Farhan sangat bersemangat. Pria itu berharap Nadira memenuhi ajakannya. "Makan siang?" Nadira berpikir sejenak. Sungguh ini suatu kejutan baginya. Selama menikah dengan Farhan tak pernah sekalipun pria itu mengajaknya pergi. Apalagi untuk makan berdua di luar. Sekilas teringat olehnya jika dulu setiap libur Farhan tidak pernah berada di rumah. Apalagi jika malam minggu. Farhan selalu pulang hingga larut malam. Di

