**************** Seperti janji yang terucap dari bibirnya, janji yang kini terasa seperti ikatan yang tak terhindarkan, Arga benar-benar kembali. Ia muncul di ruang rawat inap Ziyan, bukan di hari yang sama, tetapi keesokan harinya, tepat setelah jam makan siang. Walau bagaimanapun, Arga adalah seorang direktur di perusahaan besar; ia terikat pada pekerjaan yang menuntut kehadiran dan fokus penuh, pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan hanya demi kunjungan singkat. Lebih dari itu, ia juga harus menyediakan waktu untuk ‘memberi pengertian’ pada kekasihnya, wanita yang selama ini menjadi prioritas dan sandaran emosionalnya, meski kini ia harus menyeimbangkan semua itu dengan kewajiban yang baru saja ia sadari kembali. Langkah kakinya yang mantap terhenti sejenak di depan pintu kamar Ziy

