Kate bergegas meninggalkan rumah Nancy tanpa membawa pakaian seperti tujuan utama kedatangannya kesana dan juga tanpa pamit.
Kematian Lisa membuatnya berpikir jika ada rahasia yang mereka sembunyikan. Sebuah fakta yang mungkin ada kaitan dengannya walau tak tahu karena sudah 5 tahun lamanya tak kembali ke London.
Ia akan mencari jawaban langsung dari Aaron tapi sebelumnya ia merogoh tas dan mengambil handphone untuk menghubungi Aaron.
Kate melekatkan handphone di telinga sembari berjalan keluar rumah untuk menuju trotoar.
Setelah lima detik nada sambung itu berdering tak lama Aaron mengangkat.
"Kau dimana?" Tanya Kate tanpa basa basi.
Aaron tersenyum lalu duduk di balik meja. "Aku di rumah sakit, di ruanganku karena ada sesuatu yang harus aku ambil," jawabnya dan mengira Kate sudah mulai peduli padanya. "Ada apa?"
Langkah Kate terhenti. "Tidak ada. Aku hanya bertanya saja." Ia membalas lalu mematikan panggilannya.
Aaron terheran Kate memutuskan panggilan begitu saja tanpa kata 'bye', seperti sedang tergesa-gesa. Melihat panggilan itu terputus di layar handphone, ia menggeleng terheran lalu melanjutkan mencari sesuatu.
Kate menaiki bis yang akan membawanya menuju Marie Hospital, rumah sakit tempat Aaron bekerja.
Otaknya terus berpikir dan menebak sesuatu yang terjadi di antara Lisa tapi tak ada petunjuk, terlebih lagi kedua orang tua mereka menutupi sesuatu. Sebuah fakta yang tak boleh ia ketahui.
❤❤❤
'Tok tok tok'
"Masuklah." Pinta Aaron pada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
Seorang pria berambut pirang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Diana bilang kau sedang singgah," ucapnya lalu masuk kedalam melihat Aaron tersenyum lebar. "Kau sedang apa? Seharusnya kau pergi bulan madu, Aaron. Bukan berada di rumah sakit."
Aaron menggeleng sementara kedua tangannya mengambil beberapa berkas dari laci meja. "Belum, Josh. Kate belum berpikir untuk berbulan madu." Ia menjawab dan menatap Josh yang duduk di hadapannya. "Sepertinya aku harus sabar menghadapi dia." Sambung Aaron lagi.
Josh tertawa kecil. "Tentu, Aaron. Kau baru mengenal dia lalu menikahinya. Itu wajar dan.." Ia mengusap dagunya sendiri. "Sebagai psikiater kau pasti paham."
"Tentu aku paham karena kami baru saling mengenal. Tapi dia itu unik." Aaron tersenyum membayangkan Kate yang tiba-tiba melayang di atas benaknya.
"Siapa yang lebih baik?" Tanya Josh lagi. "Lisa atau Kate?"
Aaron berpikir sebentar. "Aku sudah lama mengenal Lisa tapi Kate terkadang seperti anak kecil."
"Berarti kau takkan bisa melupakan Lisa. Apa kau akan mencintai Kate?"
Aaron mengangkat wajah sambil berpikir lagi lalu mengangguk. "Tapi Lisa takkan terlupakan, Josh."
Tak lama mereka terkejut melihat bayang seorang wanita di balik pintu yang terbuka sedikit lalu berlari.
Aaron berjalan menuju pintu dan terkejut melihat Kate berlari setelah mendengar pembicaraan mereka.
Josh bangkit. "Siapa, Aaron?" Ia mendekati Aaron yang mematung di balik pintu.
"Kate." Jawab Aaron lalu berlari mengejar Kate.
"Kate tunggu aku!" Aaron mengejar Kate dan berhasil meraih tangannya.
Kate menepis. "Lepaskan aku!" Ia meronta setengah berteriak. "Aku tak menyangka kau membandingkan aku di depan temanmu, Aaron." Air Matanya mengembang lalu menetes. "Aku tahu aku hanya sebagai istri pengganti. Tapi kau tak sewajarnya mengatakan itu pada temanmu, Aaron!"
Aaron merenggangkan genggamannya. "Baiklah aku minta maaf. Tapi kumohon dengarkan penjelasanku dulu," pintanya dengan wajah memohon.
Kate menggeleng lalu mengusap pipinya yang basah. "Tak ada yang perlu kau jelaskan, Aaron. Karena kau takkan bisa mencintaiku dan melupakan Lisa. Dan aku.." Air Matanya menetes lagi. "Hanya istri penggantimu!" Sahut Kate kesal lalu berlari menuju lift yang tak jauh dari mereka lalu memasukinya.
"Kate!" Panggil Aaron lagi tapi tak mengejar. Ia meremas rambut dengan kedua tangannya. "s**t!"
❤❤❤
Setiba di apartemen Aaron, Kate menuju kamar. Pandangannya menyusuri isi kamar lalu membuka lemari yang hanya tersisa beberapa helai pakaian disana. Memang tak banyak barang milik Kate. Pakaiannya masih berada di rumah Nancy, yang ada hanya kosmetik dan pakaian pemberian Aaron.
Kate menghela nafas kecewa. Sekali lagi kecewa pada Aaron terlebih lagi setelah mendengar ucapan 'takkan bisa melupakan Lisa'. Kate merasa hanya menjadi bayang-bayang Lisa yang tentu saja takkan bisa Aaron cintai.
Untuk apa aku tinggal di sini jika kau tak bisa melupakannya? Aku bukan Lisa tapi aku baru saja jatuh cinta padamu tapi kau mematahkannya, Aaron. Kau membakar semua bunga dihatiku dan menjadikannya abu. Aku.., Kate menangis lagi.
Kecewa dan menyesal padamu, Aaron. Sebaiknya aku pergi dan melupakan semua tentangmu. Karena kau takkan bisa mencintaiku.
Kate memasukkan semua kosmetik pada koper dan beberapa helai baju disana. Setelah selesai ia beranjak keluar dari apartemen.
Tiba di luar apartemen Kate bingung. Jika ia pulang ke rumah Nancy mereka tak berbeda dengan Aaron yang menutupi sesuatu darinya seakan ia tak dapat dipercaya. Tak ada tempat ia tuju.
Kecuali Bali.
❤❤❤
Aaron membuka kamar Kate dan terkejut hanya melihat beberapa helai pakaian didalam lemari. Kosmetik yang biasanya berada di atas meja tak ada sama sekali begitu juga dengan paspor Kate.
Ia cemas dan langsung menghubungi Nancy.
"Apa Kate ada disana, Mom?" Tanya Aaron tergesa-gesa.
Wajah Nancy pucat lalu menggeleng. "Tidak, Aaron. Tadi pagi ia memang kesini tadi. Tapi ia pergi begitu saja tanpa pamit," jawabnya dan merasa cemas jika Kate mendengar pembicaraannya bersama Steve.
"Ada apa? Kalian bertengkar?" Nancy menebak.
"Hanya salah paham." Jawab Aaron cepat. "Baiklah, kalau begitu aku akan mencarinya lagi." Ia menutup panggilan lalu menghubungi Kate lagi.
❤❤❤
Sudah tiga kali handphone Kate berdering sementara tiga kali juga ia menolak panggilan Aaron dan Nancy.
Kate berjalan setelah turun dari taksi yang sudah membawanya tiba di Bandara.
Setelah memesan tiket via online dan harus menanti satu jam karena penerbangan menuju Jakarta di-delay, Kate duduk gelisah dan tak sabar untuk menjejakkan kaki di Bali.
Bagi Kate tak ada tempat ternyaman selain Bali. Dan disana juga ia akan melupakan Aaron yang sudah membuat jatuh cinta sekaligus mematahkan hatinya dalam waktu bersamaan. Tapi entah mengapa kali ini hati Kate berat meninggalkan London seperti ada sesuatu yang menahannya. Seseorang yang sulit untuk ia tinggalkan. Seseorang yang membuatnya jatuh cinta dan ingin bahagia. Seseorang yang berlari ke arahnya sekarang dan memanggil namanya dengan nafasnya yang terengah.
"Jangan pergi." Pinta pria itu berjalan mendekati Kate yang tiba-tiba bangkit menatapnya. "Kumohon jangan pergi dan tetaplah bersamaku." Ia memohon dengan wajah melas lalu memeluk Kate erat.
Mata Kate terpejam menikmati hangat pelukan pria itu dan tak lama air matanya menetes lalu mengatakan sesuatu, "Maaf, Aaron. Aku harus pergi."