Byuur
Kate menjatuhkan diri kedalam sungai Thames yang dingin. Sekilas terlintas bayangan wajah kedua orangtuanya, Lisa dan Aaron ketika matanya terpejam dan merasakan dinginnya air sungai itu seperti salju.
Air mata Kate mengalir, menangisi ujung hidupnya yang tak lama lagi berakhir. Beberapa kenangan bersama orang yang ia cintai tergambar jelas di ingatannya sekarang. Bahkan ia merasa seseorang sedang memanggil namanya. Seorang pria..tapi bukan Aaron.
Siapa? Apa aku sudah mati? Kate membuka mata pelan setelah merasakan seseorang menjangkau tangan dan tubuhnya lalu membawanya menuju permukaan air dengan segurat kecemasan terlihat dari wajahnya.
Kate tak dapat menolak. Ia merasakan tubuhnya dingin, lemah dan matanya berat untuk terbuka lalu kemudian gelap.
Pandangan Kate gelap dan sunyi.
❤❤❤
Aaron menepikan mobil di bahu jalan pada jembatan Waterloo setelah melihat kerumunan orang yang saling berbicara dan sesekali melihat ke bawah.
Ia penasaran lalu turun dari mobil dan bertanya pada salah satu dari mereka. "Ada apa?" tanyanya pada seorang wanita paruh baya.
Wanita itu menggeleng kecewa sambil menunjuk sungai Thames yang tenang. "Seorang wanita baru saja melompat ke bawah," jawabnya serius. "Aku tak tahu nasibnya sekarang karena petugas belum tiba untuk turun dan mencarinya. Menurutku, wanita itu pasti sudah mati kedinginan." Ia merapatkan coatnya dan memeluk tubuhnya sendiri yang besar. "Aku tak tahu alasan wanita itu melompat, yang kutahu ia orang yang kelima di tahun ini bunuh diri dari jembatan," terangnya lagi.
"Terima kasih," ucap Aaron yang tak lama wanita itu berlalu menuju sebuah mobil setelah seorang pria muda memanggilnya untuk masuk.
Aaron terdiam memandang ke bawah dan tak lama dua mobil petugas kepolisian dan SAR mencari informasi dari salah satu mereka dan sigap mencari korban.
Tiba-tiba dipikiran Aaron dipenuhi Kate yang pergi tanpa ia ketahui tujuannya. Tapi ia yakin Kate akan kembali karena wanita itu memang mencintainya, bahkan dalam keadaan tertidur namanya berulang kali disebut, seperti beberapa jam yang lalu.
Aaron merogoh handphone dari saku jaket lalu membaca pesan masuk dari Josh. Tak lama ia bergumam sambil melangkah ke arah mobil dan melajukannya menuju Rumah sakit.
❤❤❤
"Kate.."
Kate membuka mata dan terjaga melihat Lisa berdiri tak jauh dari tempat ia terbaring dan menatapnya kesal.
"Dasar bodoh! Kau bodoh, Kate!" Hardik Lisa.
Dahi Kate mengerut. "Apa maksudmu Lisa?" Ia terheran tapi Lisa tak menjawab, hanya terdiam lalu menangis.
Kate mendekat. "Katakan padaku apa maksudmu?"
Lisa menggeleng sambil terisak lalu membalikkan tubuh dan berlari.
"Lisa! Tunggu aku! Lisa!" Kate berlari sambil berteriak memanggil namanya tapi Lisa menghilang.
"Lisa.."
Kate membuka matanya pelan dan terkejut sudah terbaring di atas ranjang pada sebuah kamar.
Keterkejutannya bertambah setelah melihat pria tampan duduk tepat di samping ranjang sambil menghela nafas lega.
"Syukurlah kau sudah sadar." Ucap pria itu.
Kate mencoba bangkit sambil terbatuk-batuk. Ia meraba tubuhnya yang sudah dibaluti kemeja putih polos panjang tanpa bawahan. Hanya selimut yang menutupi dari pinggul hingga mata kakinya.
"Kau tak apa-apa? Kau banyak menelan air sungai tadi," tanyanya cemas melihat Kate menepuk-nepuk dadanya pelan.
Kate mengangguk lemah lalu duduk bersandar di kepala ranjang menatap pria itu. "Bagaimana aku bisa ada disini? Sepertinya kita pernah bertemu?" Tanya Kate mencoba mengingat.
"Ya. Di Coffee shop dan toko buku." Ia menjawab lalu merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu. "Kau memberiku ini." Sebuah gantungan kunci bertuliskan Bali.
"Oh ya, aku ingat. Kau si penguntit." Tuduh Kate tapi pria itu tertawa.
"Aku Kendrick Benson." Ia memperkenalkan diri untuk kedua kalinya. "Kau bisa memanggilku Ken. Bukan si penguntit." Pinta Kendrick lalu terkekeh.
"Mengapa kau menolongku?" Kate memandang Kendrick kecewa.
Senyum Kendrick memudar mendengar pertanyaan Kate. Seketika hatinya terenyuh dan pikirannya bercabang. Berbagai pertanyaan ingin ia lontarkan untuk mengetahui alasan Kate bunuh diri, tapi melihat sejuta kesedihan dari bola mata Kate, ia menjadi ragu dan mengurungkan niatnya.
Kendrick menghela nafas. "Karena aku ingin kau tetap hidup, Nona."
"Kate. Namaku Kate." Potong Kate cepat. "Aku tak butuh bantuanmu, Ken." Ia menolak dengan air mata mengembang di sudut matanya. "Aku..tak ada alasan lagi untuk hidup." Kate tak sanggup lagi menahan dan air matanya menetes dengan wajah tertunduk.
"Kau salah, Kate." Kendrick membalas. "Tuhan menciptakanmu dengan banyak alasan. Begitu juga dengan aku yang punya banyak alasan untuk menolongmu," terangnya menatap Kate menangis terisak-isak dan menyembunyikan wajah dengan kedua tangannya.
"Kau tak mengenal baik siapa aku, Ken." Kate menggeleng sambil mengusap kedua pipinya yang basah. "Jika kau mengenal aku, kau pasti seperti mereka," tebaknya dan air mata itu terus mengalir membayangkan Nancy dan Aaron yang selalu membandingkan dengan Lisa.
Kendrick menggenggam tangan Kate. "Izinkan aku mengenalmu dan aku pastikan jika aku berbeda dengan mereka, Kate," Ken meminta dan menyakinkan Kate, walau tak tahu hal yang sedang menimpa Kate dan membuatnya untuk mencoba bunuh diri di sungai Thames yang dingin.
Kate menatap bola mata biru Kendrick dan terlihat ketulusan disana, tapi entah kenapa di pikiran dan hatinya hanya mengambang nama Aaron. Walau dengan jelas, Aaron takkan pernah bisa mencintai seperti mencintai Lisa. Dan hatinya kembali sedih, karena cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Kate tidak menjawab, tapi yakin jika Kendrick memahami keadaannya sekarang yang butuh waktu untuk bercerita mengenai siapa dirinya dan alasan yang membuatnya bisa berada di tempat Kendrick.
"Kau lapar?" Kendrick bangkit dari kursi. "Aku sudah membuatkanmu soup. Kau mau?" tawarnya.
"Tunggu!" Kate menarik tangan Kendrick. "Mengapa kau tak membawaku ke rumah sakit tapi merawatku di apartemenmu?"
Kendrick tersenyum tipis dan paham jika Kate penasaran. "Untuk menghindarimu dari mereka. Tapi jika kau sudah sehat dan siap untuk pulang, aku akan mengantarkanmu pada mereka. Itupun jika kau mau." Tawar Kendrick yang berpikir jika Kate sewaktu-waktu akan berubah pikiran.
Kate menggeleng. "Tidak untuk saat ini, Ken," balasnya dengan tatapan nanar. "Aku butuh waktu untuk menemui mereka. Setidaknya sembunyikan aku disini." Ia meminta dan tak lama Kendrick mengangguk setuju.
"Baiklah, jika itu maumu, Kate. Aku ambilkan soup untukmu dulu," pamit Kendrick lalu beranjak menuju pantry.
Pandangan Kate menyusuri isi ruangan kamar Kendrick yang rapi. Dinding yang diwarnai cat warna monokrom menambah kesan gentle seperti pada umumnya kamar pria. Tak banyak barang atau aksesoris disana, hanya sebuah ranjang, meja kerja dan dua buah foto Kendrick mengenakan setelan jas. Terlihat serius dan berbeda dengan Kendrick yang ia kenal.
Kate bangkit dari ranjang lalu keluar kamar menuju ruang tengah. Kendrick yang melihatnya tertegun. "Apa kau tak merasa pusing?" tanyanya cemas melihat Kate berjalan walau dalam keadaan lemah.
"Tidak." Kate menggeleng. "Aku hanya lapar," sambungnya lagi lalu tertawa kecil begitu juga dengan Kendrick yang membawa nampan yang berisi semangkuk soup.
"Ini soup untukmu." Kendrick menaruhnya di atas meja sofa.
"Terima kasih. Kelihatannya lezat," ucap Kate menghirup uap soup itu yang menari-nari di udara.
"Kau mau kubuatkan s**u atau minuman hangat yang lainnya?" Tawar Kendrick lagi.
Kate menggeleng. "Tidak perlu, Ken. Berikan saja aku air putih," pintanya lalu meniup pelan soup itu.
"Baiklah, aku ambilkan dulu," Kendrick berjalan ke arah pantry lagi dan mengambil segelas air putih.
"Lezat. Dia pintar memasak rupanya." Gumam Kate menyuap soup itu pelan dan mengakui soup buatan Kendrick memang lezat melebihi buatan Nancy. "Soup buatanmu lezat, Ken." Puji Kate setengah berteriak dan menoleh kebelakang melihat Kendrick berjalan ke arahnya.
"Oh ya? Apa aku tak salah mendengarnya? Kau orang pertama yang memuji masakanku, Kate." Kendrick merendah mendengar pujian Kate. Ia menaruh segelas air di meja lalu duduk di hadapan Kate sambil tersenyum.
"Dimana kau belajar memasak?" Kate penasaran walau banyak pria pandai memasak seperti Aaron.
"Panti asuhan."
Kate tersedak lalu menepuk pelan dadanya.
"Minumlah," Kendrick menyodori gelas berisi air putih tadi.
Kate menerima dan meneguknya pelan.
"Apa kau kaget karena aku anak dari panti asuhan?"
"Ya." Kate menjawab jujur. Menurutnya Kendrick lebih cocok sebagai anak orang kaya. Tinggal di sebuah apartemen yang cukup dikatakan mewah dan nyaman. Apalagi setelah melihat foto Kendrick memakai setelan jas yang menggambarkan jika pria itu terlihat elegan dan wibawa seperti anak orang kaya, tidak seperti yang Kendrick ucapkan.
"Sebenarnya aku masih mempunyai orang tua tapi mereka menitipkan aku di panti asuhan." Kendrick menjelaskan. "Tapi sayangnya mereka tak pernah menjemputku lagi," Wajah Kendrick berubah serius dan terlihat kesedihan terpancar dari kedua bola matanya.
Kate terdiam sebentar. "Bagaimana itu bisa terjadi?" Tiba-tiba ia jadi tertarik dan penasaran.
"Yang aku tahu mereka mempunyai banyak hutang dan menaruhku di panti asuhan sebagai cara untuk menyelamatkanku dari rentenir." Kendrick bercerita dengan mata berkaca-kaca mengingat kejadian 23 tahun yang lalu, ketika umurnya 5 tahun. Ia ingat betul saat terakhir orang tuanya meninggalkannya di panti asuhan dan saat itu juga suster Rosy dan suster lainnya menjadi orang tua angkatnya selama disana.
"Maaf, aku tak bermaksud membuatmu sedih, Ken." Kate menjadi tak nyaman sudah mengungkit masa lalu Kendrick yang mungkin membuatnya sedih karena di tinggalkan kedua orangtuanya. Tiba-tiba Kate teringat pada kedua orang tua yang mencintainya walau Nancy kerap membanding-bandingkan dengan Lisa, setidaknya tidak pernah menelantarkannya seperti yang dialami Kendrick.
"Tidak apa-apa, Kate. Aku hanya ingin menceritakan siapa aku yang sebenarnya. Dan.." Kendrick mengangkat kedua bahunya. "Inilah aku."
"Terima kasih." Kate menyeka bibirnya dengan tisu setelah menyudahi soup sebagai makan malamnya yang telat.
"Untuk apa?"
"Menyelamatkanku." Jawab Kate. "Setelah mendengar ceritamu, aku merasa bukanlah satu-satunya orang yang mempunyai masalah hidup berat dan.." Kate terdiam tak sanggup melanjutkan kata-katanya mengingat orang yang ia cintai tak mencintai seperti yang ia bayangkan. Terutama pada Aaron.
Kendrick bangkit. "Mau kuambilkan semangkuk soup lagi?" tawarnya mengalihkan pembicaraan melihat air mata Kate mengembang.
Kate mengusap sudut matanya. "Tidak, Ken. Terima kasih. Hari sudah terlalu malam dan aku tak ingin tubuhku gemuk hanya karena makan di jam 12 malam," tolaknya lalu tertawa kecil.
Kendrick mengambil mangkuk. "Aku tak perduli kau gemuk atau kurus, Kate. Di mataku kau cantik dan menarik." Ia beranjak ke dapur meninggalkan Kate yang tak lama tersenyum malu.
❤❤❤
Berulang kali Aaron melirik arloji dan pintu apartemen, menanti kepulangan Kate tapi sayangnya waktu sudah memasuki dini hari dan Kate tak juga pulang.
Aaron sudah menghubungi Nancy tapi mertuanya tak mengetahui keberadaan anak satu-satunya sekarang. Pikiran Aaron menjadi bercabang dan menduga jika Kate pergi meninggalkannya untuk kedua kalinya ke Bali. Tapi dugaannya sudah di tepis oleh Nancy yang memberitahu jika koper dan paspor milik Kate masih berada di rumahnya sebagai pertanda Kate masih berada di London.
Jangan bilang Aaron tak ada usaha untuk mencari Kate. Ia sudah menelepon sahabat Kate walaupun jawabannya tak membuatnya puas, justru makin cemas.
Aaron juga sudah menghubungi beberapa rumah sakit dan menanyakan Kate tapi tak menemukan wanita bernama Kate Jhonson di ruangan ICU ataupun IGD.
Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menunggu Kate, walau tak lama kantuk mendera kedua matanya dan berhasil membuatnya tertidur di sofa.
❤❤❤
"Morning," sapa Kendrick menyembulkan kepala dari balik pintu setelah mendengar sahutan Kate.
"Morning, Ken." Balas Kate bangkit dari ranjang lalu menggeliat.
"Ups." Kendrick membuang wajah melihat Kate mengenakan kaos putih yang ia berikan tadi malam tanpa memakai celana pendek, hanya underwear.
Kate berteriak sambil menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Kendrick tertawa lalu melihat wajah Kate merah padam.
Tidur mengenakan tanktop dan underwear adalah kebiasaan Kate sejak gadis hingga kini dan kebiasaan itu diketahui Kendrick sekarang.
"Tunggu dulu. Bukankah kau sudah melihatku dalam keadaan bugil kemarin?" Tanya Kate yang teringat jika pakaian yang ia kenakan kemarin basah dan Kendrick menolongnya. Tentu saja pria itu sudah melihat tubuh bugilnya walau bertujuan untuk menyelamatkan bukan yang lainnya.
Kendrick mengangguk. "Aku tak punya pilihan Kate. Karena aku langsung membawamu ke apartemen dan aku juga yang mengganti pakaianmu," terangnya.
Kate memahami posisi Kendrick sebagai penolong. Tapi keadaannya sekarang berbeda. Sekarang ia dalam keadaan sadar dan sehat. Tentu saja punya rasa malu.
Kendrick berdehem. "Aku sudah menyiapkan sarapan di meja untukmu. Aku harus pergi bekerja dulu. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa meneleponku. Aku sudah menaruh nomor handphone di pintu kulkas." Ucap Kendrick.
Kate mengeryitkan dahi. "Kerja? Kau kerja di mana?" Ia penasaran melihat Kendrick mengenakan kemeja salur biru yang dilapisi jas dengan dasi motif bintang dan celana hitam polos.
"Barclays." Jawab Kendrick dan berhasil membuat Kate ternganga tak percaya. Yang Kate tahu, Bank Barclays adalah bank yang ternama didunia. Untuk menjadi karyawan di bank tersebut tidaklah mudah, harus mengikuti seleksi yang ketat. Dibutuhkan kepandaian, disiplin tinggi dan cekatan dalam bekerja. Tapi Kendrick bekerja disana selama 4 tahun.
Menurut Kate, Kendrick sosok yang hebat. Besar di panti asuhan dan sukses menjadi karyawan bank. Tapi satu hal yang membuatnya penasaran. Wanita.
Kendrick belum menceritakan tentang wanita yang sedang dekat dengannya saat ini. Kate akan menanyakan itu nanti, pada waktu yang tepat.
"Kau hebat. Bekerja di perusahaan besar di dunia, Ken." Puji Kate kagum pada Kendrick begitu juga dengan penampilannya yang rapih tidak seperti biasanya yang hanya memakai celana jeans ripped dan kaos slimfit atau kemeja.
Kendrick tersenyum lebar lalu mendekati Kate. "Simpan pujianmu untuk nanti malam, Kate," ucapnya menyalipkan rambut kebelakang telinga Kate. "Aku akan mengajakmu makan malam diluar nanti malam. Sekarang aku berangkat dulu." Kendrick melirik arloji. "Aku sudah terlambat lima menit. Bye.." Ia pamit lalu beranjak meninggalkan Kate yang melambaikan tangan.
"Bye, Ken."
Kate menjatuhkan tubuh di ranjang lagi sambil tersenyum lalu bergumam. "Dia baik dan.." Menggigit bibir bawahnya membayangkan Kendrick. "Menarik. Dia pria yang menarik."