Pagi itu rasanya Ruli tidak menyangka jika rasa sakit itu kembali hadir. Dadanya sesak seperti terhimpit beban berpuluh-puluh kilo. Napasnya terasa berat dan kepalanya mendadak pusing. Masih di atas kasur, Ruli mencoba meraih obat yang biasa ia minum jika rasa sakit itu kembali datang. Segera Ruli meminumnya dan harus menunggu sampai obat itu bereaksi. Sebenarnya obat itu hanya sebagai penghilang rasa sakit. Tidak ada yang tahu ia sedang sakit. Orangtuanya, saudaranya, tidak ada yang tahu. Ruli menyimpan semuanya sendiri. Ia tidak mau dianggap anak yang hanya bisa menyusahkan keluarga. Tapi kali ini rasanya sangat sakit. Hingga duduk di kursi roda Ruli tidak bisa. Ia harus sekolah, Ruli tidak mau tidak masuk sekolah. Tapi Ruli tidak bisa men

