Bagi Sinta melihat Rama adahal hal yg mendamaikan hati. Rama yg tampan, berbadan atletis dan pasti baik menurut Sinta, telah lama berhasil mencuri hatinya. Berbanding terbalik dengan Raka. Siapa Raka? Hhaaahhhh memuakan, kenapa dia harus ada dimuka bumi ini? Tidak bisakah dia lenyap saja? Raka Arjun Alamsyah, puta kedua tuan Andik. Dia menyebalkan, selalu jail dengan Sinta. Beberapa kali bahkan Sinta menangis di jahili Raka. Raka seumuran dengan Sinta.Bahkan Raka pernah satu kelas Di SMP. Saat mereka kelas Dua SMP Sinta dan Raka masuk kelas sama, yaitu 8D.
Hari ini Rama ada pertandingan futsal antar kelas. Kelas Rama melawan kelas sebelahnya. Sinta yang tau akan hal itu tak mau membuang kesempatan untuk melihat pujaan hatinya.
Dia berjalan dan masuk ke lapangan futsal anak SMA. Disana dia menemukan orang yg di kaguminya dalam diam. Melihatnya bertanding, meski Rama tak pernah sekali melihatnya tp tidak keberatan.
"Ehhh... lihat bukankah dia cewe itu?" guncing seorang anak SMA yg sedang menonton juga di samping lapangan.
"Iya dia Sinta, anak pembantu yg di sekolihin juga sm keluarganya Rama" timpal teman di sebelahnya.
"Seneng ya dia, bisa deket sama Rama dan adiknya, adik rama kan juga ganteng banget" sahut yg lain.
"Agak gak tau diri gak siiih? Kalo dia sampai naksir tuan mudanya, kurang ajar kan namanya" ucap gadis bermuka cantik. Dan Sinta yakin dia pasti bukan orang sembarangan.
Sinta menutup telinga untuk hal hal seperti itu. Dia sudah sangat bersyukur karena dapat sekolah. Baginya Tuan Andi (sapaan akrab tuan Andik) dan nyonya Sarah adalah dewa Penolong. Saat kelas 3 SD ayahnya meninggal dan Ibunya terpaksa membawanya bekerja karena tidak ada yg menjaga dia di kampung. Ayahnya anak tunggal dan Ibunya anak yatim piatu yg hidup di pantiasuhan.
Menggagumi Rama dalam diam sudah sangat cukup untuknya. Tanpa di sadari ada semasang mata menatapnya dengan cemburu. Tiba tiba saja Bola sebuah bola basket melayang ke arahnya. Menggenai kepala Sinta.
"Aduuuuuhhh, " jerit Sinta.
"Aaahhhhhh hahahahaha," anak di sekitar yg melihat Sinta tertawa.
Rama yang heran menoleh pada kerumunan anak yg sedang bersorak. Memberi isyarat pada temannya untuk memberi time out. Melisha yang menunggu Rama sedari tadi menarik tangan pacarnya itu.
"Mau kemana sayang?" tanya Melisha membawa handuk kecil, siap menyeka keringat Melisha.
Dia mengabaikan keributan di samping lapangan.
Sinta bangun dan memegangi kepalanya yang sakit dan sudah pasti memar. Tapi dia sudah paham, dia tau siapa pemilik bola basket itu. Siapa lagi kalo bukan si Bangs*t Raka.
"Cewe b***k, bawa kesini bola gue"
Sinta menurut saja. Menggambil bola itu dan memberikan pada pemilik suara.
"Iniiih, " Sinta memberikan bola basket pada Raka. Raka dan Rama adalah pribadi yg sangat berbeda. Rama menyukai sepak bola sama seperti ayahnya, sedangakan Raka tidak suka sepak bola. Dia mengambil "basket" sebagai eskul yang di minati. Sebab inilah Tuan Andi jadi sering membanding bandikan Raka dengan Rama. Dan menurut kacamataku Rama lebih di sayang oleh tuan Andi.
"Sakit gak budeg?" tanya Raka sok perhatian.
"Ahh diem lu, rese banget siii?" jawab Sinta kesal.
Raka menarik tangan Sinta, melihat memar di kening kanan, karena terlempar oleh bola basket miliknya.
"Ya ampun, memar sedikit ayo pulang aku obatin" kata Raka menarik tangan Sinta.
"Lepasin....., gue gak mau pulang bareng lu," sunggut Sinta sewot.
"Emang lu mau kemana? lu mau nungguin abang gue" sindir Raka.
"Maksud lo?"
"Gue tau, lu ada disini buat liatin abang gue tanding bola iya kan?" kata Raka.
"Ya ampun lu mata matain gue? iiihhh takut," timpal Sinta.
"Lu salah ada di sini. Lu gak liat abang gue sama cewenya, Melisha tu liat" Raka menujuk Rama bersama Seorang cewe berambut hitam panjang yg di kuncir kuda. Gadis itu sangat cantik. Dan dia pasti anak orang kaya pikir Sinta.
Sinta mematung, membisu melihat adegan di depat matanya. Melisha menyeka keringat Rama, serta membukakan tutup botol air mineral dan memberikannya pada Rama. Tiba tiba hati sakit. Seperti ada yg tergores di sana. Airmatanya hampir tumpah.
"Lihat kan? Lu gak sepadan dengan cewek abang gue" kata Raka menyadarkan lamunan Sinta.
"Gak perlu lu omongin juga gue udah tau," kata Sinta sewot dan pergi dari lapangan. Raka masih mengikuti di belakang.
"Ehh budeg lu mau kemana? Kan bukan kesini jalan pulang" tanya Raka sedikit berlari mengikuti langkah Sinta.
"Gue mau belanja keperluan rumah, di suruh bi Iyem" kata Sinta.
"Belanja bulanan?" tanya Raka.
"Hmmmmmmm" sahut Sinta.
"Gue ikut ya," tanya Raka.
"Terserah" jawab Sinta singkat.
Raka tersenyum simpul di belakang gadis yg di taksirnya sejak SD itu. Sebenarnya Raka sudah tau sejak lama Sinta menyukai kakanya Rama. Tapi Raka bersumpah akan merebut Sinta dari Rama. Bagi Raka Sinta adalah segalanya. Raka rela semua di ambil Rama abangnya tapi tidak dengan Sinta. Semua perhatian orang tua Rama yg di dapat. Bahkan Raka sudah muak dengan mereka yg menyebut Rama adalah ahli waris keluarga Alamsyah. Andik Alamsyah altlet sepak bola nasional. Setelah pensiun bertanding, dia menjadi pelatih salah satu club sepak bola di Jakarta. Istrinya Sarah Agustine memiliki bisnis kuliner dan perhotelan.
Raka dan Sinta sampai di salah satu Supermarket dekat dengan sekolah mereka. Setelah berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit.
"Lu ngapain sih ngikutin gue? kenapa gak balik aja?" tanya Sinta.
"Gak papa gue juga bosen kalo balik, sebenernya gue lagi nunggu tukang bengkel yg benerin motor gue".
"Oh iya benar juga, sudah berapa hari dia berangkat sekolah nebeng mobilnya Rama." gumam Sinta dalam hati.
" Budeg lu mau belanja apa ja?" tanya Raka sambil memasukan bola basket yg di mainkannya ke dalam ransel. Kemudian menarik sebuah troli belanja. Raka berjalan di depan Sinta sambil mendorong troli belanjaan. Sinta sengulum senyum "Bisa bener juga ini anak bangk*" ucapnya dalam hati.
Selesai belanja Sinta memesan taksi online dan memasukan semua belanjaan ke dalam bagasi mobil taxi. Raka pun membantunya.
"Seru juga ya?" kata Raka. "Bayangin deh kalo kita udah nikah terus kita belanja bulanan gini pasti romantis"
"Hhhhhaaaaah apaaa?" jerit Sinta. Memastikan kalau kupinganya tidak salah dengar. Gimana mungkin anak kelas 3 SMP ini berpikir sejauh ini.
Raka tersenyum melihat muka tidak percaya pada raut wajah Sinta.
Sesampainya dirumah keluar Alamsyah.
Sinta membereskan belanjaan dan membawanya masuk ke dapur dibantu bi Yani (panggilan ibu Sinta).
"Udah ndo, kamu langsung makan dan bebersih aja, kamu pasti capek kan?" kata ibu Suryani.
"Gak papa bu, Sinta bisa ko bu," jawab Sinta.
"Kok den Raka bisa satu taxi sama kamu?" tanya Bi Iyem.
"Den Raka tadi ikut aku belanja mbok, dia katanya mau ada yg di beli di supermarket" kata Sinta.
"Tumben jadi anak baik" kata Bi Iyem
"Lagi bener kayaknya," jawab Sinta sambil sedikit tersenyum.
Setelah mengganti pakaian Sinta kembali ke dapur dan membantu Bi Iyem dan ibunya menyiapkan makan malam.
"Mau masak apa ni mbok?" tanya Sinta.
"Mau masak sop iga, ini mbok lagi masak iganya pake presto biar lunak, kamu tolong irisin sayur bisa?" pinta Bi Iyem.
"Bisa donk, " jawab Sinta Antusias.
Sinta mengiris wortel, tiba tiba saja pikirannya melayang menginggat Rama dan Melisha di lapangan yg membuat sakit di dadanya. Lalu tiba tiba telinganya mendengar suara. "Bagaimana jika kita menikah, kemudian belanja bulanana sepeti ini pasti romatis ". Pikirannya tiba tiba saja memikirkan Raka. Kenapa jadi dia? Kenapa anak menyebalkan itu?
"Sinnttaaaaa, " tiba tiba saja suara Ibunya mengakgetkannya.
"Kamu kenapa? Tanganmu berdarah?" Bi Yani panik.
Sinta menoleh ke arah jarinya, dan benar saja dia memotong kuku tangannya sendiri. Ohhh sial, pekiknya dalam hati. Karena melamun dia jadi tidak fokus.
"Kamu kenapa Sin?" tanya Bi Iyem.
"Kena pisau," jawab Sinta meringis kesakitan.
"Ya udah sini biar ibu aja yang lanjutin," pinta Bi Yani.
"Ta-tapi bu"
" Sin, kayaknya kamu capek. Mending kamu ke kamar istirahat aja." kata Bi Iyem.
Sinta menurut. Dia keluar dari pintu dapur, menuju paviliun tempat tinggal dia dan ibunya. Bi Iyem tinggal di kamar pembantu. Tapi Sinta dan Ibunya di berikan kamar yg lebih besar. Paviliiun di belakang rumah tuan Andi. Tidak terlalu besar Luas nya hanya 4 x 8 meter. Di dalamnya ada raung tamu, kamar dan kamar mandi.
Ruang tamu di sulap jadi ruang televisi dan ruang belajar Sinta. Sementara Sinta Dan ibunya berbagi kamar.
Makanan sudah siap. Bi Yani dan Bi Iyem menyiapkan makanan di ruang makan. Disana keluarga Alamnya sudah berkumpul. Ada tuan Andi, istrinya Sarah dan kedua putra mereka Rama dan Raka.
"Masak apa bi?" tanya Rama ramah.
"Bibi masak sop iga kesukaan Aden, " jawab bi Iyem.
"Waaahh, enak niiih" ujar Sarah.
"Makasih ya bi," ucap Rama berterimakasih saat bi Yani menyendokan sop di mangkuknya.
Raka mencari cari Sinta. Dimana dia kenapa tidak kelihatan. Tingkahnya kepergok sang Ayah.
"Raka... cari apa kamu?" menegur anaknya yg sedari tadi melirik ke arah pintu dapur.
"Gak ada pah, cuma tumben gak ada Sinta" kata Raka.
Semua yg di meja terdiam, membenarkan perkataan Raka.
"Iyah bi, Sinta mana tumben gak keliatan. Biasanya kan Sinta bantuin kalian" tanya Sarah.
"Sinta saya suruh istirahat bu, soalnya tadi jarinya kena pisau" jelas Bi Iyem.
Raka bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Pavilliun. Di ikuti pandangan menyelidik oleh Andi dan Rama.
Bersambung...