Bab 5. Pengorbanan

1751 Kata
Adena pun hanya bisa menghela napasnya terus menerus selama sisa jam kelas terakhirnya. Kali ini, Adena bahkan tak bisa fokus. Ia terus saja terpikirkan oleh sikap Kenzo yang menurutnya sangat berlebihan. Menebus ? Yah, Kenzo telah menebusnya dari orang yang selama ini ia hindari. "Dena??" usap seseorang di pundaknya. "Ya!!" jawab Adena spontan. Adena bahkan tak bisa berpikir apa apa lagi hanya untuk sekedar membuat alasan seperti sekarang ini. Ketika Rio, orang yang selalu peduli padanya selama ini bertanya mengenai kegundahan hatinya. "Sebenarnya ada apa tadi? Aku melihat bagaimana Pak Kenzo menyelamatkanmu dari orang biadab itu!" selidik Rio, sedikit tak suka. "Aah, tidak apa apa Rio. Hanya saja ... Tadi Pak Kenzo telah menebus ... k-u " ucap Adena, mengatupkan mulutnya cepat, keceplosan. "Maksud kamu?" tanya Rio mengerutkan dahinya. Kaget. Ditanya begitu, Adena hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan memutar bola matanya kesana kemari, mencoba mencari alasan pada lelaki yang sudah dibilang tadi, begitu peduli padanya. Walau diantara mereka tak pernah terjalin hubungan apa apa yang berarti selain kata pertemanan, tetapi Adena hanya memilikinya. Adena bahkan sudah seperti bergantung pada Rio. Karena Rio lah yang selama ini ada bersamanya dikala suka dan duka. Rio jugalah yang selama ini selalu membantunya dalam kerasnya hidup. Rio .. Yah, Hanya Rio. Lalu, apakah Adena memiliki perasaan pada Rio ? Ya. Tentu. Adena memang telah mencintai Rio, jauh sebelum mereka saling mengenal seperti sekarang ini. Tetapi kini ia malah dihadapkan dengan perjodohan yang memang tak pernah ia setujui dari awal. Itulah kenapa Adena berharap Kenzo lah yang akan memutus perjodohan ini. Hanya itulah harapan Adena. Dan saat ini, saat dimana Adena memiliki harapan itu, Kenzo tiba tiba saja datang dan menebusnya ? Apa tidak kelabakan Adena dibuatnya? Sangat. "Dena!" seru Rio, kembali menggoyangkan bahu Adena yang ternyata malah termangu ditempatnya duduk sedari tadi. "Eh iya Rio, maaf ... itu aku .... emm." ucap Adena terbata. Melihat itu, Rio tentu saja merasa kesal. Seperti ada sesuatu yang memang sudah terjadi antara Adena dan Kenzo. Terlebih Rio dengan jelas melihat Kenzo yang memeluk Adena begitu erat tadi. Bahkan dengan jawaban Adena barusan, Rio semakin meyakini akan sesuatu yang sangat ia tolak keras keras dalam otaknya sekalipun. Menilik Kenzo adalah seorang lelaki yang bisa dikatakan Wow sekali. Selain pekerjaannya yang mapan, Kenzo juga memiliki paras yang sangat tampan dan juga perawakan yang begitu keren untuk kalangan lelaki pada umumnya. Dilihat dari umur Kenzo pun sebenarnya tak jauh berbeda dengan mereka. Mungkin hanya terpaut beberapa tahun saja diantara mereka. Dan yang paling utama, Kenzo bahkan sering dielu elukan oleh para mahasiswi di Kampus itu. "Adena, apakah kamu memiliki hubungan dengan Pak Kenzo? Terus ada apa dengan kalimat tebusan itu? Aku hanya tau wanita tadi memang selalu mengincarmu untuk dijadikan wanita malam. Tapi aku baru melihat Pak Kenzo yang peduli pada orang lain, terlebih itu ... mahasiswinya. Dia lelaki dingin Adena, tidak mungkin jika dia tidak mengenalmu secara dekat! Sebenarnya, ada kaitan apa antara kamu, dia dan wanita itu?" Tanya Rio, tanpa jeda. Adena semakin ketar ketir mendapatkan pertanyaan sekaligus pernyataan yang Rio ungkapkan barusan. Rio benar, semua orang pastilah beranggapan begitu. Terlebih, kejadian tadi berada tepat ditempat umum. Semua orang dapat melihatnya, semua orang pasti melihatnya 'kan? Hidup Adena sudah hancur ketika kedua orang tuanya telah meninggal dan mendapati dirinya yang harus tinggal dengan seorang Ibu tiri yang jahatnya tak terkira. Ibu tirinya lah yang telah menjual Adena pada g***o itu. Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang pas untuk hidup Adena saat ini. "Rio, sebetulnya aku ... " ucap Adena menggantung, Adena terlihat sangat gusar waktu itu. Dan tentu saja, Rio sangat amat menyadarinya. "Aku apa Dena?" desak Rio, meraih tangan Adena lembut di bawah sana. Adena sempat melirik ke arah dimana tangan Rio berada saat ini, seperti ada rasa bahagia namun sangat penuh penyesalan disaat yang bersamaan. Sempat terbersit di otak Adena tentang apa yang dilakukan Rio saat ini. Kenapa ia bersikap begini, dan apakah ini artinya Rio juga memiliki rasa selain persahabatan pada dirinya ... Hal itulah yang membuat Adena semakin kelu untuk mengatakan semuanya. "Aku ..." "Adena??" seru seseorang yang sekaligus menghentikan ucapan Adena. Dan .. Rio maupun Adena dibuat terbelalak ketika mendapati Kenzo diambang pintu. Yah, Kenzo. Ia berdiri diambang pintu dengan wajah datarnya menatap Adena dan Rio yang ternyata hanya tinggal mereka berdua lah di dalam kelas itu. "P-Pak Kenzo?" ucap Adena, tergagap. Tangan yang di genggam oleh Rio, bahkan ia lepas dengan spontan. "Dena .." seru Rio, semakin heran melihat sikap Adena yang seperti ketakutan melihat Kenzo disana. "Saya masih ada urusan denganmu. Ikutlah!" ucap Kenzo, membalikan badannya. "I-iya Pak .." jawab Adena, memijit keningnya dan beranjak berdiri dari duduknya. Melihat itu, Rio tentu saja tak tinggal diam. Ia tarik lengan Adena yang sempat terlepas tadi, agar terduduk kembali dan memasang benteng untuknya. Diperlakukan begitu, tentu saja Adena terkejut. Ia menatap Rio tajam, tak percaya dengan apa yang Rio lakukan saat ini. Bukan tak senang, Adena hanya ingin semua tuntas, usai tanpa kendala. Tapi, belum sempat Adena berontak, Rio sudah lebih dulu menyuarakan isi hatinya. "Kalo saya boleh tau, urusan apa itu Pak?" tanya Rio. Mendengar kalimat itu, Kenzo yang sudah selangkah menjauh dari ambang pintu itu pun seketika menghentikan langkahnya. Sekilas dahinya mengernyit, tangannya mengepal. Ia tak suka jika apa yang ia perintahkan diputus oleh orang lain. Seperti sekarang ini. Namun, tak berapa lama dari itu ... Kenzo akhirnya bisa menetralkan emosinya kembali dan membalikan badannya lagi menghadap Adena dan Rio yang tak bergeming sedikit pun dari tempat mereka tadi. Bahkan, Adena saja masih duduk diam di belakang Rio. "Apakah anda walinya?" tanya Kenzo tiba tiba. "Eh, apa Pak?" tanya Rio yang sedikit kebingungan atas pertanyaan Dosennya itu. Bingung? Jelas. Itu bukanlah jawaban dari pertanyaannya tadi. "Saya bertanya pada anda, apakah anda wali dari Adena?" ulang Kenzo dengan nada yang kini dibuat sedikit keras. "I-itu ... bukan." jawab Rio, sedikit kikuk. "Jadi apakah urusan Adena dan saya termasuk urusan anda juga?" tanya Kenzo lagi, sedikit mengintimidasi. "B-bukan!" jawab Rio, sedikit kesal. Apa yang Kenzo katakan, nyatanya benar semua. Dan dirinya memang tak memiliki hak sedikit pun tentang Adena untuk sekarang ini. "Tapi, .. " "Jadi berhentilah bersikap seolah anda adalah walinya. Saya memiliki hak untuk memanggil Adena karena nilai nilainya yang anjlok belakangan ini. Karena saya adalah Dosen di jurusan yang ia ambil. " potong Kenzo, sedikit memberikan penekanan pada apa yang ia ucapkan barusan. Mendengar itu, Rio hanya terdiam. Ia menunduk dengan rahang yang mengeras, tangannya pun mengepal dengan sangat kuat di bawah sana. Sementara Adena sendiri, ia yang menjadi topik perbincangan saat itu, hanya bisa memejamkan matanya dengan kedua tangan yang meremas baju bawahnya. Dengan sedikit menumbuhkan rasa keberaniannya, Adena akhirnya berdiri dan keluar dari zona amannya yang terletak di belakang tubuh Rio saat ini. "Adena .. " gumam Rio, bingung. Ia tatap Adena dengan penuh pertanyaan. Rio bahkan mencoba untuk menahan Adena kembali seperti tadi. Akan tetapi ... "Aku ga apa apa, Rio. Pak Kenzo benar, nilai nilaiku memang anjlok akhir akhir ini." sela Adena, menenangkan. Ia tak ingin Rio mendapatkan masalah hanya karena dirinya. Terlebih ini .. Kenzo. Seorang Dosen yang terkenal sangat ganteng namun killer. "Tapi Adena .." ucap Rio lagi yang sekali lagi, ia mencoba menahan langkah Adena. "Jika sudah tak ada lagi yang perlu saya tegaskan lagi, tolong segeralah menemui saya di ruangan." potong Kenzo, yang sekali lagi, ia berbicara dengan mimik wajah yang dingin bagai kutub es. Mendengar kalimat yang Kenzo suarakan, Rio hanya bisa menatap Kenzo. Begitu pun Adena. Namun tatapan kedua orang itu, memiliki arti yang sangat jauh berbeda. Rio berpikir, Dosennya itu sangatlah menyebalkan. Bahkan Rio sendiri seperti sedang bertemu dengan Rivalnya dalam hal mendapatkan hati Adena. Amarah, penuh kebencian ... begitu lekat di sorot mata Rio saat itu. Sementara Adena ... Dalam hati, Adena hanya berdo'a dan berharap bahwa semua ini hanya mimpi. Mimpi buruk yang kapan saja bisa hilang dan lenyap ketika ia terbangun nanti. Atau pun kalo memang ini kenyataan, ia berharap ... Niat Kenzo untuk bertemu dengannya adalah untuk mengakhiri perjodohan ini. Lama ia tatap punggung Kenzo dalam diam, sebelum ia benar benar memantapkan hatinya untuk mengikuti Sang Dosen Killer itu pergi. Tanpa menghiraukan kehadiran Rio lagi, Adena pun memijit keningnya yang terasa sangat pusing ... 'Kenapa Pak Kenzo bisa semengerikan itu, ya Tuhan!' batin Adena yang mulai melangkahkan kakinya, menjauhi Rio yang masih termangu. ***** Tok Tok Tok .. Suara pintu pun terdengar begitu renyah di telinga Kenzo yang entah kenapa sangat panas dan merah saat ini. Dan seingat Kenzo, jika itu terjadi, Kenzo begitu yakin kalau dirinya tengah merasakan marah atau malu. Tapi, ia sendiri juga tak ingat masalah apa yang telah membuatnya malu ataupun marah sehingga telinganya bisa begitu panas seperti sekarang ini. Dengan badan yang menghadap ke jendela yang artinya membelakangi pintu, dan tangan yang memegang sebuah cangkir, ia akhirnya menoleh dan mempersilahkan orang di luar sana untuk masuk. "Pak ... Permisi, soal nilai sa- .." "Apakah lelaki yang bernama Rio itu pacarmu?" potong Kenzo, tiba tiba. Sontak Adena sedikit terenyak mendapat pertanyaan itu. Ia tak menyangka jika Kenzo, Dosen killernya itu sangatlah tertarik akan kehidupan pribadinya. Kehidupan anak didiknya. Sejak kapan hey? "I-itu ... Bukan Pak!" jawab Adena, lemah. Tak yakin. "Baguslah." Degh .. 'Bagus ?' ulang Adena dalam hati. 'bagus dalam hal apa ini, maksudnya?' sedikit membatin. "Tentang nilaimu yang aku bahas tadi, kita bisa bahas besok. Nilaimu memang sangat anjlok akhir akhir ini. Tapi ... " ucap Kenzo menggantung. 'Tapi ... apa?' gumam Adena dalam hatinya lagi. Ia tak bisa menebak kemana arah pembicaraan Dosennya itu. Blank, gelap. "Tapi ... Maksud tujuan saya yang sesungguhnya menyuruhmu datang kesini adalah saya hanya ingin menegaskan padamu, jika saya sudah menyetujui perjodohan ini!" ... BRAK ... Buku yang Adena pegang saat itu langsung jatuh ke lantai tepat setelah Kenzo menuntaskan ucapannya. Ia tak menyangka jika Kenzo, yang terlihat begitu keras dan satu satunya yang bisa ia harapkan akan menolak perjodohan ini, nyatanya ... MENYETUJUINYA ? Adena menggelengkan kepalanya cepat, matanya pedih. Harapannya musnah seketika. Kenzo yang saat itu masih membelakangi Adena ketika buku buku itu jatuh sebagai respon keterkejutan Adena, dengan perlahan menoleh. Tak banyak, hanya kepalanya saja yang menoleh menatap Adena dari jarak yang terbilang sedikit jauh itu. Namun, Adena bisa melihat tatapan dingin dari Kenzo itu seakan melucuti semua bajunya. Begitu menusuk dan nyeri dalam bersamaan. "Maaf, jika membuatmu bingung. Jika tadi pagi saya bilang bahwa harus membicarakan perjodohan ini ketika di rumah, namun sekarang malah saya yang berbicara ini di sini. Tak ada maksud apapun, saya hanya ingin mengingatkan kamu tentang apa yang sudah saya korbankan tadi!" ..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN