Mengejar Restu Anak Tiri

1043 Kata
"Papa tuh egois! Aku bilang aku nggak mau dikasih ibu tiri! Cukup ayah tiri aja di dalam hidupku! Kenapa papa nggak mau dengarkan keinginanku, huh? Kenapa?" Reiner berteriak-teriak, suaranya yang lantang berlomba dengan suara instrumen musik yang masih dimainkan oleh para pemain di sudut pesta. "Itu anaknya Pak Davin," "Ya, itu anaknya dari pernikahannya dari Bu Diandra." "Kenapa protes? Apakah anaknya itu tidak menyetujui pernikahan ini?" Tak sengaja Shanaya mendengar desas-desus di belakangnya. Shanaya hanya mendengarkan, pendengarannya juga didera dengan teriakan Reiner yang masih begitu lantang menggema di sudut lain halaman. Shanaya maju beberapa langkah dan melihat Reiner sedang diamankan oleh beberapa bodyguard sementara Davin berdiri angkuh sambil berkacak pinggang di hadapan remaja 17 Tahun itu. "Hargai keinginan Papa, Rein! Papa pastikan kalau perhatian papa tak akan berkurang untukmu! Tak akan ada yang berubah! Papa pastikan itu!" ujar Davin agak marah karena harus menahan malu pada para tamu yang datang. "Bullshit! Setelah ada orang baru di rumah ini, mustahil papa akan bisa membagi perhatian dengan adil! Nggak! Nggak akan mungkin! Nggak akan pernah bisa!" Salah satu Bodyguard membero kode pada Davin kalau Reiner ada di bawah pengaruh alkohol. Davin mendengus membuang nafas kasar dan dia sudah menduga hal itu sejak awal. Se-barbar-barbar-nya Reiner, ia tak akan melakukan kekacauan dalam keadaan sadar, sudah pasti kalau Reiner mabuk sehingga ia bisa dengan leluasa mengacau di pesta pernikahan sang papa. "Mama bahagia dengan keluarga barunya! Papa juga akan menikmati kehidupan baru dengan keluarga baru papa, lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan nasibku, huh?" Reiner masih berseru lantang sambil berontak berusaha melepaskan diri dari kekangan dua bodyguard sang papa. "Bawa dia ke kamarnya!" perintah Davin yang sudah tak ingin mendengarkan lagi ocehan putranya. "Baik, Pak." "Kurung dia!" "Baik, Pak." Reiner diseret oleh dua orang bertubuh tinggi besar itu. Terpaksa Davin melakukan tindakan preventif seperti itu untuk bisa menyelesaikan pesta yang hanya tinggal beberapa saat lagi dan akan berakhir. "Papa tega! Papa adalah papa egois, apa bedanya dengan mama ...." Suara Reiner semakin menghilang seiring diseretnya ia menuju ke dalam rumah. Tubuh Reiner tak mampu berontak lagi karena yang mengawalnya saat ini adalah dua pria berbadan besar. Bukannya Davin tega, tapi keonaran yang dibuat oleh Reiner harus segera disudahi. Davin kembali ke area pesta dan saat ia kembali, Jena serta Bani sudah berhasil memberi klarifikasi pada para tamu sehingga para tamu kembali duduk menikmati sisa pesta yang menjadi terasa hambar bagi Shanaya. Shanaya menyaksikan bagaimana Reiner diseret, sekarang dia benar-benar merasa bersalah. * * The real malam pengantin terjadi, melanjutkan seri bercinta tadi siang, Davin tak kalah menggila daripada yang tadi siang. Davin tampak tenggelam dan tak ingin mengakhiri malam ini dengan pertautan yang biasa-biasa, dia memberikan banyak pengalaman erotis pada Shanaya yang tidak mencurahkan hati dan perhatiannya secara utuh karena yang menguasai separuh dari pikirannya saat ini adalah Reiner. "Aku harap kamu tidak keberatan, Naya ...." geram Davin yang sudah mendaki sampai ke puncak birahi sebanyak 2 kali malam ini. Shanaya hanya tersenyum, dia tidak terlalu kesakitan lagi, lebih sakit membayangkan perasaan Reiner saat ini. "Mungkin cukup untuk malam ini, pasti kamu lelah, tidur lah," ucap Davin sambil menyeka pancaran peluh di sekitar dahi Shanaya. "Hm, Mas ... apa nggak sebaiknya kamu melihat keadaan Reiner terlebih dahulu sebelum kamu terlelap?" tanya Shanaya dengan perasaan ragu. "Dia mabuk berat! Percuma aku nasihati sekarang, aku harus menunggu sampai besok saat dia dalam keadaan sadar," tukas Davin terkesan acuh tak acuh. "Baiklah." Shanaya tak ingin dianggap lancang. Ia pun diam tak berusaha untuk menginterupsi. Hanya saja, Shanaya sangat berharap kalau suatu hari nanti ia bisa menjadi ibu sekaligus teman sharing untuk Reiner. Semalam, sekilas Shanaya mendengar kalimat, 'Mama bahagia dengan keluarga barunya! Papa juga akan menikmati kehidupan baru dengan keluarga baru papa, lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan nasibku?' Ucapan Reiner terngiang-ngiang di kepala Shanaya. Menjadi anak broken home dan harus menerima pilihan baru dari masing-masing orang tua, pasti tak akan mudah bagi anak yang masih labil secara emosional sepertinya. "Good night, sampai jumpa besok pagi, kamu akan jadi orang pertama yang aku lihat pertama kali di saat aku membuka mata," ucap Davin berbisik mesra lalu meninggalkan sebuah kecupan manis di pipi Shanaya. Shanaya menanggapinya dengan sebuah senyuman, masih senyuman yang sama, yang tidak terlalu lepas. Dengan mudah, Davin terlelap karena kombinasi rasa lelah yang ia rasakan sepanjang hari ini. Sementara Shanaya tak bisa langsung terlelap begitu saja. Pada awalnya, Shanaya menganggap kalau menjadi istri seorang Davindra Adinegara akan menjadi keberuntungan yang menjanjikan sebuah kehidupan yang mulus, tapi sekarang Shanaya sadar kalau di dunia ini tak ada dan tak akan ada yang sempurna. Walaupun saat ini Shanaya hidup bersama seorang pria tampan, gagah, matang dan mapan, tapi ada satu masalah pelik yang kelak akan mewarnai hari-harinya, yaitu Reiner dengan sikap protesnya. 'Jangan cemas, Rein ... aku tak akan merebut perhatian papamu, papamu akan selalu jadi papamu, aku akan selalu mengingatkannya agar dia bersikap adil padamu,' batin Shanaya sambil membayangkan wajah judes Reiner. Shanaya mencoba memejamkan matanya dan dia akan menjelang hari esok dengan lembaran baru sebagai istrinya seorang Davindra Adinegara. * * Setelah melewati masa isolasi semalaman, Reiner kembali dengan kesadaran penuh tapi sisa-sisa seretan para bodyguard semalam masih terasa sampai ke pagi harinya. Badan Reiner terasa pegal-pegal dan tiada henti ia merutuki kehidupan barunya. "Segelas s**u dan beberapa potong sandwich, semoga kamu suka, Rein." Tiba-tiba Shanaya datang membawakan satu nampan berisi sarapan untuk Reiner. Reiner tidak mengucapkan terima kasih, dia hanya memicingkan mata menunjukkan rasa tidak suka pada sang Ibu tiri. "Maafkan saya, Rein. Tolong jangan benci saya, saya tidak akan mengubah apa yang seharusnya kamu dapatkan dari papa kamu," ucap Shanaya dengan segala kerendahan hati. "Itu juga yang dikatakan para jalang di luar sana yang mencoba mengambil satu tempat penting di hidup papa!" "Kamu nggak bisa menyamakan saya dengan orang-orang itu, Rein!" "Kalian semua sama! Nggak ada kata tulus buat yang mengejar nafsu! Papaku kaya raya, papaku adalah pria idaman! Hanya itu yang kalian lihat! Aku tahu!" Reiner meniggalkan bangku taman tanpa mempedulikan sarapan yang dibawakan oleh Shanaya. Harusnya Shanaya tersinggung dan sakit hati, tapi demi tekadnya, ia benar-benar mengenyampingkan rasa sakit hatinya itu. 'Jangan menyerah! Ayo taklukkan hati Reiner! Semangat!' Apakah Shanaya menyerah? Jawabannya adalah tidak! 'Ayo kita kejar restunya Reiner!' Shanaya malah semakin semangat. Dikasari dan diabaikan, malah membuat Shanaya semangat untuk mengejar restu anak sambungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN