02 Egois

1097 Kata
Nathan berjalan mondar mandir sambil mengusap-usap dagunya. Rasanya sangat tidak sabar. Lagipula sabar memang bukan salah satu bagian dari dirinya, sang putra mahkota di Sentosa Grup. Nathan membuka dan kembali membaca profil singkat perempuan yang sudah lama tidak ia jumpai. Indah Purnama Sari. Ingatan Nathan terlempar kembali ke tahun terakhirnya di kampus. "Anak Maba pada imut lho." "Masa sih?" "Iya beneran makanya lo gaul dong, Dan. Jangan kayak si Nathan, gaulnya sama buku aja. Kayaknya nanti kalau dia punya pacar, dia bakalan lebih sayang sama buku ketimbang pacarnya." Nathan tidak menanggapi sindiran teman-temannya, ia tetap asyik membaca buku tebal di tangannya. Ia tidak bisa berhenti membaca kalau ia belum mencapai halaman terakhir dari buku itu. Rasa penasaran bisa sangat menyiksanya. Kegiatan favoritnya itu harus berakhir karena jam mata kuliahnya akan dimulai sepuluh menit lagi. Ia beranjak duluan, kemudian disusul Mike dan Jordan. Dua sahabat yang ia temui selama masa kuliah. Dua orang yang selalu mengekornya, kemanapun ia pergi. Berjalan sambil mengobrol ringan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang di pelataran parkir kampus. Kecepatan mobil itu sepertinya tidak wajar. Sepertinya ada masalah. Masalah bertambah lagi karena seorang perempuan berkemeja putih dengan celana bahan berwarna biru tua berlari tanpa melihat keadaan sekitarnya. "Nathan, awas!" teriak Jordan ketika mobil gila itu hampir mencapai posisi mereka. Nathan sudah akan beranjak tapi ia melihat bahaya yang akan menyapa wanita yang belum juga sadar dan masih terus berlari itu. Dengan segera ia menarik dan menyelamatkannya. BUGH Akhirnya mobil itu menabrak pohon yang tidak jauh dari posisi Nathan dan wanita itu terjatuh. "Jalan pakai mata makanya. Lo gak liat mobil segede itu?!" Wanita itu masih diam dalam pelukan Nathan. Ia sepertinya baru sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Tadi yang ia tahu hanyalah ia harus segera sampai ke kelas, karena pagi ini ia bangun terlambat. Kelas pagi ini adalah kelas inti yang ia ambil. Ia tidak boleh terlambat. "Ma-maaf, Kak," akhirnya perempuan itu mampu untuk mengeluarkan suara. Perempuan itu menengadah, matanya bertemu dengan mata tajam Nathan. 'Indah." Hanya itu kayak yang mampu Nathan ucapkan ketika melihat mata bulat dengan netra berwarna hitam pekat dengan dikelilingi warna putih yang bening. CEKLEK Suara pintu yang dibuka membuat Nathan keluar dari lamunannya. Mata yang baru saja ia lamunkan tadi, kini tengah menatapnya sama persis ketika perjumpaan mereka dahulu. Masih selalu indah, dan selalu mampu mempesona Nathan. Nathan dan Indah masih hanya saling menatap dalam diam. Beku di tempat masing-masing. Indah adalah orang pertama yang sadar bila mereka berdua sudah terlalu lama diam. Ia menganggukkan kepalanya dengan hormat. "Selamat siang, Pak. Apa Bapak memanggil saya?" Nathan mengerjapkan matanya. Berdeham sekali, tapi wajahnya masih sama, datar. "Apa kabar?" tanyanya. "Maksud, Bapak?" "Aku nanya kabar kamu." Indah menahan getaran yang takut hadir dalam nada bicaranya. "Oh itu. Saya baik, sangat baik." "Kenapa kamu ada di sini?" "Karena saya bekerja." "Kenapa bekerja di sini?" "Karena tempat ini yang menerima lamaran kerja saya." "Kenapa kamu ada di kota ini?" "Karena ini kota kampung halaman saya. Dan saya nyaman di sini." "Sejak kapan kamu pindah ke sini?" "Lima tahun yang lalu." "Kenapa kamu lari sampai ke sini?" "Saya tidak pernah lari, saya hanya tinggal di tempat saya seharusnya berada." "Kenapa kamu menghilang dari ibu kota?" "Karena memang seharusnya seperti itu. Saya tidak punya apa-apa lagi di sana." Makin lama suara Indah semakin menghilang. Kening Indah berkerut. Ia rasa tanya jawab yang ia hadapi sekarang sudah mulai tidak wajar. "Maaf pertanyaan Bapak sepertinya tidak relevan dengan situasi saat ini," ujarnya mengajukan keberatan. "Saya atasan kamu, kalau kamu lupa. Dan sebagai atasan saya berhak untuk bertanya dan kewajiban kamu adalah menjawab." Indah mengetatkan rahangnya. 'Masih sama seperti dulu. Masih tetap egois!” "Sudah menikah?" Nathan Kembali meluncurkan pertanyaanya. "Belum. Kalau Bapak lupa, itu adalah syarat pertama untuk bekerja di sini." "Pacar?" Indah sudah akan membuka mulutnya tapi Nathan kembali berbicara. "Gak punya juga kan? Kenapa? Selama lima tahun ini kamu gak pernah pacaran sama sekali?" Indah mendelik pada Nathan yang masih terus menatapnya dengan tatapan datar dan agak meremehkan. Tatapan itu memancing jiwa pemberontak Indah. "Pasti punya, Pak. Buat apa menjomblo? Saya cantik, baik dan pintar, tipe yang disukai banyak laki-laki. Saya tidak ingin menyia-nyiakan masa muda saya dengan percuma. Kita bahkan sudah berencana untuk menikah, cuma tunggu masa kontrak satu tahun saya di sini selesai, setelah itu saya sudah diperbolehkan untuk menikah, dan tetap bisa bekerja." Tatapan datar Nathan jadi tajam, setajam belati yang siap kapan saja untuk menikam jantung Indah. Tangannya mengepal dengan erat, hingga urat-urat di telapak tangan itu keluar dan menampakkan kegagahannya. Indah sendiri tidak gentar, ia membalas tatapan Nathan dengan sama tajamnya. Rasa sakit, marah dan pilu yang sudah berusaha ia lupakan, kini muncul lagi. "Siapa dia?" "Maksudnya?" Sekuat tenaga Nathan menahan emosinya. "Siapa laki-laki yang kamu bilang tadi?!” "Saya kasih tahu, Bapak juga gak akan kenal. Lagipula ini masalah pribadi saya, Pak. Bukan untuk konsumsi umum. Termasuk, Pak Nathan yang terhormat." Indah sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Padahal bila dilihat lebih dekat lagi, Indah menahan kakinya sekuat tenaga ke lantai. Takut ia langsung lari ketika menghadapi tatapan tajam Nathan. Nathan maju satu langkah, ia ingin membungkam bibir tipis tapi ranum itu dengan bibirnya, tapi ia tahan. Bibir candunya itu telah menyakiti hatinya, seperti dulu. “Sejak dulu, apapun yang terjadi sama kamu itu urusanku. Kamu boleh keluar sekarang!” titah Nathan dengan nada bicara yang makin dingin. Indah mendengks sinis. ‘Enak saja, Nathan gila, egois brings*k!” umpatnya dalam hati. ‘Apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini, Ndah? Tidak ada apapun yang tersisa antara kalian. Baik itu dulu ataupun sekarang,’ tambahnya. Indah berbalik, ia berada di ruangan ini tidak lebih dari lima belas menit, ia pun tidak dipersilakan untuk duduk. Dirinya pun tak ingin berlama-lama di tempat itu. “Indah.” Indah menghentikan langkah ketika Nathan memanggil namanya, yang kalau ia tidak salah dengar, nada panggil itu seperti nada ketika Nathan memanggilnya dulu. Ketika mereka masih bersama. Saat Nathan belum melukai hatinya. “Apa kamu mencintai laki-laki itu?” Nathan mengambil nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya. “Laki-laki yang katanya akan menikahi kamu? Aku ingin tahu bagaimana perasaan kamu ke laki-laki itu.” Indah menutup matanya, menghimpun banyak tenaga untuk berbalik menghadapi masa lalunya yang menyakitkan itu. “Sejak kapan kamu mau tahu bagaimana perasaanku? Bukannya apa yang kamu lihat dan kamu percayai itulah kenyataan yang ada? Kamu masih tetap seperti itu, dulu dan sekarang. Jadi jawaban dan penjelasanku tidak akan pernah ada artinya kalau kamu sudah menetapkan apa yang kamu anggap benar. Kamu tidak pernah salah, yang salah adalah orang di sekitar kamu. Termasuk aku, yang salah masuk ke dalam kehidupan kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN