Rengekan Cahaya

1015 Kata
Demian membeku dengan mata yang menjurus ke wajah Zara dengan tatapan kecewa. “Jadi kamu akan tetap mengugat cerai?” “Ya, jika mas tetap bersikeras menikahi Bella,” jawab Zara tegas dan yakin dengan jawabannya. “Tapi jika mas mengurungkan pernikahan itu, maka aku juga tidak akan jadi menggugat cerai. Aku akan menjalani pernikahan ini seperti biasanya dan melupakan kalau mas pernah selingkuh.” “Itu sulit, Zar. Aku sudah bilang bukan semalam kepadamu kalau saat ini keluarga Bella sudah menyiapkan pernikahan?” Demian masih berusaha untuk membenarkan keputusannya dan berharap Zara mau menyerah sehingga tidak jadi menggugat cerai serta menerima pernikahan keduanya nanti. “Apa kata keluarganya nanti jika tiba-tiba aku menggagalkan pernikahan itu? Dan Bella, dia akan terluka.” “Lalu apa aku ini tidak terluka, MAS?!” Teriak Zara. Rasa-rasanya dia bisa gila mendengar jawaban-jawaban Demian. Dia sampai memegang keningnya yang terasa panas oleh gejolak emosi yang membakar meski masih berusaha dia tahan. “Dalam rencana pernikahan mas ini, akulah orang yang paling terluka! Mas itu mengerti tidak sih?!” Demian menghela nafas berat. Jika pembicaraan ini tetap diteruskan, maka ditakutkan akan menimbulkan pertengkaran. “Sudahlah, kita hentikan pembicaraan sampai disini. Untuk menggagalkan pernikahanku dengan Bella, itu tidak mungkin. Aku tidak mau dicap sebagai pria pembohong. Aku hanya berharap, kamu merubah cara berpikir kamu dan bisa menerima pernikahanku dengan Bella.” Demian berbalik meninggalkan dapur dengan tanpa sedikit pun menampakkan wajah bersalah, membuat Zara menyandarkan punggungnya di tepian lemari. Dia merasa sangat frustasi. Demian sepertinya sudah benar-benar mantap untuk menikahi Bella dan keputusan suaminya itu tidak bisa diganggu gugat lagi. Bahkan, ancaman gugatan cerai saja tak mempan untuk Demian. *** Selesai dengan masakannya, Zara beranjak ke kamar Cahaya. Dia membangunkan putrinya tersebut dengan lembut dan kecupan di pipi, memandikannya, dan mendandaninya. Setelahnya, dia kembali ke kamarnya untuk mandi. Matanya bertemu dengan mata Demian yang sedang memakai dasi. Biasanya, Zara akan berhenti sebentar untuk membenarkan letak dasi Demian sehingga benar-benar pas, tapi tidak kali ini. Dia belajar untuk tidak perduli dengan Demian sebagaimana Demian juga tidak perduli dengan perasaannya. Jika ini dosa, dia hanya berharap Tuhan memakluminya yang sedang sakit hati. Mandi sudah, Zara keluar kamar mandi. Lagi-lagi, matanya bertemu dengan mata Demian kembali. Kali ini pria itu sedang memakai sepatu pantofelnya di kaki. Zara mengambil pakaian dari dalam lemari sebelum akhirnya memilih memakai semua itu di kamar mandi. Sepertinya, nanti sore dia harus memindahkan semua pakaian dan peralatannya ke kamar Cahaya. Itu untuk mengurangi pertemuan-pertemuan seperti ini dengan Demian. Melihat sikap Zara, Demian hanya geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka kalau Zara yang lembut ternyata bisa keras hati juga, tak mau menerima rencana pernikahannya dengan Bella. Entah bagaimana caranya bisa mengambil hati Zara agar istrinya tersebut mau dimadu dan tidak menggugat cerai. Padahal selama ini sebagai suami dia sudah memenuhi kebutuhan Zara. Berapa pun dan apa pun yang diminta istrinya tersebut, pasti dia berikan tanpa syarat. Demian lalu beranjak dari duduknya, melangkah keluar kamar menuju meja makan. Dia melihat sarapan sudah terhidang di atas meja dengan sayur dan lauknya. Belum makan saja, dia sudah bisa mengecap rasanya. Pasti rasanya enak karena memasak adalah keahlian Zara. Demian menarik salah satu kursi dan mendudukinya. Sambil menatap makanan di depannya, dia termenung memikirkan siapa yang akan memasakkannya makanan jika dirinya bercerai dengan Zara. Dia tidak yakin ada tangan orang lain yang bisa memasak seenak Zara. Tapi dia juga tidak akan mengagalkan pernikahan hanya karena soal masakan. Dia sudah sangat mencintai Bella. Dia lebih yakin Zara hanya menggertaknya saja dan tidak benar-benar menginginkan perceraian. Menurutnya, mengancam adalah senjatanya kaum perempuan. Demian menoleh begitu mendengar langkah kaki di belakang punggungnya. Cahaya sudah siap dengan seragam sekolahnya dan Zara juga cantik dengan atasan hijau lumut dan celana panjang hitam. Meskipun sudah punya anak satu, Zara masih secantik dulu ketika belum menikah. Keduanya lalu duduk di kursi di depan Demian. "Pa, kapan papa mau bawa aku jalan-jalan lagi? Sudah lama sekali kita tidak jalan-jalan lho," protes Cahaya ketika Zara menuangkan makanan ke piringnya. Zara melirik Demian yang terlihat sedikit gugup. Meskipun begitu, Zara sudah tahu jawaban apa yang akan diucapkan oleh pria itu. Pasti jawabannya sibuk. Batin Zara. Ya, benar sih sibuk. Tapi bukan sibuk kerja melainkan sibuk pacaran dan menyiapkan pernikahan kedua. "Papa lagi sibuk sayang," jawab Demian sembari terus menyuapkan makanan ke dalam mulut. Cahaya sepertinya mengidolakan orang yang salah hanya karena semua keinginan dipenuhi oleh Demian. Nyatanya papanya itu bukan tipe papa yang hangat. Demian menganggap mengurus anak itu urusan wanita sehingga laki-laki tidak perlu ikut campur. Oh, mengapa Zara baru menyadari kalau ternyata pernikahannya tidak sebahagia yang dia pikirkan. "Terus kapan tidak sibuknya?" Rupanya Cahaya tidak puas dengan jawaban Demian. Demian berhenti mengunyah. Dia memikirkan jawaban dari pertanyaan Zara. Untuk dua Minggu ini, jelas dia akan sibuk dengan pernikahannya. Dan setelah pernikahan, dia ingin mengisi waktu libur dengan Bella karena mereka masih pengantin baru. Jadi, belum ada waktu yang pasti untuk Cahaya. "Maaf sayang, untuk saat ini papa belum tau kapan pastinya. Akan tetapi, nanti kalau sudah ada waktu, pasti kamu papa bawa jalan-jalan." Zara menghela nafas kesal. Bisa-bisanya seorang papa lebih mementingkan calon istri barunya daripada putrinya sendiri. Zara lalu mengusap punggung Cahaya. "Hari minggu nanti, Aya jalan berdua dengan mama saja ya. Kita pergi ke tempat yang Aya mau. Bagaimana?" Mata Cahaya melebar dengan wajah berseri-seri. "Benarkah ma? Bagaimana kalau kita ke taman hiburan?" Cahaya tampak begitu bersemangat. Zara tersenyum lalu mengangguk. "Boleh. Kemana pun Aya mau." "Nah, begitu dong. Papa rasa jalan-jalan dengan mama saja cukup." Demian merasa lega sekaligus merdeka. Dengan begini dia tidak perlu mendengar rengekan Cahaya lagi untuk dibawa jalan-jalan karena sudah dihandel oleh Zara. Demian beranjak dari duduknya dan meraih tasnya bersiap berangkat. Dia mengulurkan tangan kanannya pada Zara, meminta disalami. Tapi Zara malah memalingkan wajah dan beranjak dari duduk untuk mempersiapkan bekal Cahaya. Demian mendengus kecewa sebelum akhirnya menarik tangannya kembali. Lalu melangkah keluar rumah tanpa diiringi senyuman Zara yang selama ini dia dapatkan. Rasanya begitu aneh, tapi dia yakin ini hanya sementara waktu. Menurutnya Zara masih emosi karena hatinya belum siap untuk diduakan. Jika istrinya itu sudah siap, maka semua akan berjalan normal seperti biasanya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN