Zara lalu tersipu. Entahlah, setiap kali bersama Alvano dia selalu terbawa suasana. Dia merasa kembali ke beberapa tahun lalu waktu duduk di bangku SMA dan sebagai temannya Annet. Yaitu memiliki sifat yang manja karena merasa menjadi seorang adik. Sikap yang tidak ada jika tidak berhadapan dengan Alvano. Zara kemudian melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu dengan canggungnya. Sementara Alvano barulah mendekati Zara setelah menutup pintu ruangan. Pria itu duduk di sofa di hadapan Zara. “Oya, mau minum apa?” tanya Alvano langsung. Kedatangan Zara sungguh membuat suasana hatinya jadi lebih bersemangat. Zara menggeleng pelan. “Aku rasa tidak perlu, Kak. Eh pak. Aku sudah minum di rumah. Mungkin lebih baik aku mulai bekerja.” Alvano tersenyum mendapati kegugupan Zara. “Sa

