Jam istirahat tiba. Zara langsung membereskan ala kadar mejanya yang berantakan. Tapi tiba-tiba lift terbuka dan dari baliknya Demian muncul. Pria itu melangkah cepat ke arah mejanya sembari melempar senyum pada Rian yang menatap Demian penuh selidik. “Apa kamu mau makan siang, Zar?” tanya Demian yang lembut. “Hmm, ya. Begitulah,” jawab Zara. “Aku minta maaf kalau sudah berani datang ke sini. Tapi bagaimana kalau kita makan bersama. Aku yang akan traktir kamu.” “Ee... itu maaf aku ….” “Kali ini saja. Yang terakhir sebelum proses sidang cerai kita. Aku mohon.” Zara menatap tangan Demian yang saling menangkup satu sama lain di depan d**a. Entah mengapa dia merasa iba. Lagi pula Demian mengatakan kalau ini yang terakhir dan pria yang masih jadi suaminya itu memohon dengan wajah yang mem

