aku mulai membuka mata, rasa nya mata berat banget sangking sembab nya.
aku duduk dari tidur, kepala berasa pusing banget.
aku menyeret tubuh ku keluar kamar kak vano, pelan pelan aku menaiki tangga.
jelas kali ini lebih mudah dari kemarin, aku harus biasa untuk mandiri karna tak ada lagi yang bisa ku harapkan sekarang.
seperti biasa rutinitas pagi ku adalah mandi, pakek baju dan makan.
tapi kali ini aku butuh laptop, aku harus kembali menulis untuk menyambung hidup ku, aku tak mungkin terus begini dan menyerah begitu saja pada keadaan.
aku harus mikirin cara agar laptop bisa di bawa turun kebawah, kalau sampek jatuh hancur lah harapan ku.
aku melihat sekeliling kamar, siapa tau ada yang bisa aku jual untuk sementara waktu untuk menyambung hidup.
mengeluh pun percuma untuk saat ini gak akan membuat aku kenyang juga.
aku membuka laptop, lalu masuk ke aplikasi belanja online dan mengerti"papan skateboard".
setelah di checkout total harga nya 320.000
untuk saat ini harga 320.000 terasa mahal banget buat aku.
dan setelah itu aku membuka aplikasi untuk bayar listrik dan sekalian buat air juga.
aku menghembuskan nafas lelah saat melihat angka 32,000,000. aku klik bayar dan sisa uang di rekening aku 370,000.
gimana cara nya agar aku bisa bertahan dengan uang 370 ribu.
jangan kan untuk bayar keperluan lain mungkin untuk makan pun gak cukup.
aku mencoba cari barang yang bisa di minta tolong pada pak jono untuk di jual mumpung pak jono masih di sini.
aku butuh pegangan uang kes biar gampang belanja dari rumah.
aku keluar dari kamar sambil menghimpit payung seperti biasa lalu pergi ke kamar umi.
setelah pintu kamar terbuka aku pergi ke arah tualet dan mencoba membuka laci siapa tau ada uang.
dan benar saja ada uang ratusan 7 lembar, uang dua puluan 4 lembar dan uang 10 ribu satu lembar, untung dulu aku sering melihat umi biasa nya menyimpan uang sisa belanja di sini.
rasanya lega banget, untuk saat ini aku udah punya pegangan untuk sentara waktu.
aku keluar dari kamar umi dan masuk ke kamar ku untuk mengambil laptop, setelah memasukan laptop kedalam tas berbentuk segi empat, aku mengarah ke tangga dan pelan pelan aku turun ke bawah.
setelah udah di bawah aku menyimpan tas laptop dan uang yang aku himpit di antara ibuk jari dan jari telunjuk kaki kanan.
aku mengarah ke dapur untuk mencari makanan, aku berusaha berdiri untuk mengambil roti di atas meja.
aku menarik kertas berisi roti ke bawah, tidak ada cara lain selain memindahkan roti kekamar kak vano.
aku mengambil minum di dispenser lalu melegakan tenggorokan yang memang sudah berasa kering dari semalam.
***
setelah makan aku kembali membuka laptop dan masuk ke aplikasi menulis novel.
menulis novel memang bukan hal baru untuk ku, karna aku telah membuat dua novel sebelum nya, cuma beda nya sekarang aku harus mengetik sendiri, kalau dulu umi yang bantu mengetik setiap tulisan yang ada di kepala ku.
aku menghembus nafas berulang kali, kepala ku terasa pusing hanya karna memikirkan alur novel apa yang harus aku buat, aku gak ada inspirasi apapun untuk saat ini.
hampir dua jam aku memikirkan alur novel tapi tetap saja tidak terlintas satu kata pun di kepalaku.
terasa mata ngantuk banget sampek gak tetasa mata ku terlelap.
*****
aku duduk di atas sebuah kursi taman berwarna coklat di depan sebuah danau yang indah dan sejuk.
ada sepasang angsa putih yang sedang berenang di air danau yang biru membuat aku semakin nyaman disini.
tiba tiba ada seorang laki laki duduk di sebelah ku, hidung nya mancung, mata nya hijau ke coklat coklatan, wajah nya mirip sekali dengan aku.
dia mengelus dengan lembut rambut coklat milik ku.
"jangan takut kakak akan menjadi sayap pengganti buat Keenan"
tiba tiba aku terbangun dari tidur ku.
ya allah ternyata cuma mimpi.
entah kenapa mimpi barusan berasa nyata banget.
tenggorokan ku terasa kering banget, karena baru bangun tidur aku tidak mampu untuk mengambil minum di dispenser jadi untuk sekarang kek nya aku terpaksa nyuri minuman kak Andra lagi.
aku melirik jam yang tergantung di dinding kamar kak vano hampir jam 5, gak berasa udah sore.
mungkin gak ya kak andra pulang jam segini, tapi kek nya gak mungkin kak andra pulang.
aku menyeret tubuhku ke kamar kak Andra, cuma mendorong nya sedikit dengan kaki pintu kamar kak andra langsung terbuka.
kemaren aku gak bisa tutup rapat lagi pintu kamar dia.
aku masuk kedalam dan mengarah ke kulkas yang ada di pojok kamar dekat meja rias kak Andra.
sangking haus nya tanpa pikir panjang aku langsung mencoba buka tutup botol dengan gigi.
tutup nya berguling ke bawah meja rias kak andra. aku mencoba meraba dengan kaki tapi sepertinya aku menemukan sesuatu tapi bukan tutup botol lebih seperti foto, lalu aku menarik nya keluar.
aku memandangi foto seorang perempuan di temani dua anak laki laki yang mungkin umur nya antara 5 dan 7 tahunan, dan seorang bayi perempuan yang mungkin umur nya sekitaran dua tahun. perempuan itu masih terlihat muda, cantik, kulit nya putih bersih, hidup nya mancung, dan bola mata nya berwarna biru.
aku membalikkan foto itu dan ada tulisan "l LOVE MAMI".
apa maksud l love mami di foto ini, apa papi pernah nikah sebelum sama umi yaaa.
lalu siapa anak laki laki di foto ini, ini kedua kali nya aku menemukan foto dia bersama kak Andra dan kak vano.
aku jadi teringat mimpi ku barusan, wajah anak kecil ini memang ada mirip mirip nya dengan laki laki yang ada di mimpi ku tadi.
laki laki itu memanggil diri nya kakak, apa aku punya kakak laki laki lain selain kak vano, atau itu hanya sekedar mimpi.
bermacam pertanyaan mulai muncul di kepala ku, aku sangat penasaran dengan semua ini.
selama ini memang kelakuan kak Andra sama umi kurang baik, aku tak pernah mendegar sekalipun dia memanggil umi.
dulu kalau umi masak untuk sarapan kak Andra gak pernah mau makan, bahkan selama ini kak Andra menatap umi dengan tatapan kurang suka, itu yang membuat via selalu bertengkar dengan kak andra.
via sangat marah kalau kak Andra bersikap kurang ajar sama umi, bahkan pernah saat kak Andra berulang tahun yang ke 20, umi buatin cake khusus buat kak Andra dengan tangan nya sendiri bahkan saat itu umi gak mau di bantu sama teh lia, tapi reaksinya kak Andra saat itu malah bikin umi nangis.
dia bilang dia gak sudi makan makanan dari tangan w************n.
entah kenapa kak Andra selalu memanggil umi dengan sebutan itu.
dan saat itu kak Andra ribut besar sama via, bahkan efek cakaran kuku via membuat kak Andra harus dirawat seminggu di rumah sakit.
selama ini aku tak pernah menemukan jawaban apapun soal itu, baik itu dari umi, papi atau pun kak vano.
tapi aku akan cari tau sendiri akan hal ini.
aku minum air yang telah aku buka, lalu membawa air itu keluar dari kamar kak Andra tanpa aku tutup.
aku meletakan foto itu di ambal tebal milik kak vano, aku melihat ke seluruh kamar kak vano yang bercat putih, cuma ada foto kak vano dari kecil hingga dia dewasa, tapi aku tidak menemukan foto orang lain disini selain foto aku dan kak vano saat di bali.
aku yakin kak vano pasti punya foto itu.
aku menyeret tubuh ku untuk mendekat ke lemari kak vano, aku coba geser pintu nya dengan kaki, ternyata gak di kunci.
aku coba buka laci siapa tau aku menemukan jawaban dari pertanyaan ku selama ini.
ada album besar warna merah hati, aku mengeluarkan album itu dari dalam laci lemari kak vano.
aku mulai membuka album itu, di lembaran pertama ada foto papi dengan seorang perempuan, terlihat papi merangkul pinggang perempuan ini, terlihat sangat mesra. perempuan ini orang yang sama seperti yang ada di foto tadi.
disitu aku juga melihat foto papi berlima dengan kak Andra, kak vano dan anak lelaki itu.
dilihat dari wajah kak Andra dan kak vano memang besar kemungkinan kalau perempuan di foto ini adalah ibuk mereka.
lalu aku menutup album foto, aku tidak menemukan foto aku di dalam album ini.
aku memegangi perut aku yang mulai terasa perih karna aku belum makan malam.
roti di dalam plastik cuma tersisa dua, bisa untuk malam ini sama besok pagi.
setelah perut sedikit terisi aku membaringkan tubuhku di atas ambal.
terasa perut masih laper tapi aku coba tahan dengan memejamkan mata dan berlahan aku terlelap.