bab 6 keputusan yang sulit

1965 Kata
kling,,, notifikasi w******p masuk dari mbak karin (kee, mbak udah transfer uang ke rekening kamu 50 juta, kalau butuh apa apa Keenan gak perlu sungkan untuk hubungi mbak) aku berusaha mengetik balasan ternyata sesudah ini, aku hanya membalas makasih ya mbak. sekarang aku harus mikir apa yang harus aku lakuin, aku gak mungkin mampu bayar tiga orang sekaligus, aku harus memilih antara pak jono, bg udin atau mbak jihan. kalau aku milih mbak jihan, apa mungkin rumah sebesar ini tanpa pencagaan sama sekali. kalau aku milih pak jono atau bg udin gimana dengan aku, apa aku mampu ngurusin semua nya sendiri. karna kepala ku terasa sangat pusing lebih baik aku nonton saja dari pada kepikiran itu terus. aku mencoba tarik laptop yang ada di atas bantal dengan kaki dan membawanya kedepan ku, lalu aku mencoba tahan menggunakan jempol kaki kanan dan menarik bagian atas mengunakan mulut, dan laptot nya terbuka. aku mencoba mengerti AMERICA'S GOT TALENT keluar beberapa vidio yang menakjubkan, aku memilih aksi magik. ada seorang pesulap muda laki laki asal amerika membuka beberapa kartu lalu di letakkan di atas meja. di bagian bawah vidio ada yang menarik perhatian ku, ada sebuah vidio dengan judul "LIMITATIONS LED ME TO BECOME A MAGICAL" aku menekan klik agar vidio bisa di putar, menampakkan seorang laki laki mungkin umur nya sekitar 25 tahunan, dia cacat sama seperti ku tapi dia tidak punya tangan dan kaki. dia memaikan sulap di bantu dengan mulut nya, dia menyuruh salah satu juri perempuan yang sangat cantik memakek dress selutut dengan lengan pendek berwarna ungu tua untuk memilih salah satu kotak dari empat kotak yang sudah di siapkan di atas meja yang tinggi nya hampir sejajar dengan dadanya. juri perempuan itu maju kedepan dan memilih kotak berwarna biru. pesulap itu menyuruh seseorang untuk membuka nya dan ternyata isi dari kotak itu adalah sangkar burung berwarna perak, laki laki itu menyuruh juri perempuan itu untuk meniup ke arah layar tipis berwarna putih dan keluar pemandangan alam yang indah, terdapat danau yang luas berwarna biru dan perpohonan berwarna hijau. pesulap itu menyuruh perempuan itu meniup sekali lagi, dahan pohon cemara yang tadi nya kosong sekarang di hinggapi seekor burung nuri berwarna merah di bagian kepala di padu dengan warna hijau di bagian sayap dan biru tua di bagian ekornya. di sebelah burung nuri ada seekor burung merpati berwarna putih bersih dengan bulu tebal hampir menutupi bagian kaki nya. pesulap itu menyuruh perempuan itu untuk memilih antara satu burung yang ada di layar lalu meniup nya. perempuan itu meniup ke arah burung merpati dan dalam sekejap mata burung merpati itu keluar dari layar berwarna putih dan terbang memasuki sangkar berwarna perak yang ada di atas meja. perempuan itu takjup dengan apa yang baru saja di lihat nya. aku mulai berfikir, gak ada yang tidak mungkin kalau aku mau melakukan nya, keterbatasan yang aku miliki saat ini bukan alasan untuk aku menyerah dan mengeluh, orang itu tidak memiliki tangan dan kaki sama sekali tapi dia bisa, masak aku gak bisa padahal aku punya satu kaki. aku mematikan layar laptop dan menutupnya. aku harus berani mengambil keputusan dengan cepat, uang di rekening aku hanya ada 55 juta, aku hanya mampu bayar gaji mereka untuk bulan ini, belum lagi aku harus bayar listrik dan air. dengan berat hati aku menekan nomor mbak jihan. "halo non"mendengar suara mbak jihan aku semakin binggung harus gimana. "mbak tolong naik ke atas ya, saya mau turun"minta ku dan di iya kan oleh mbak jihan. tok,,,tok "masuk mbak"jawab ku sedikit teriak mbak jihan membuka pintu kamar. "mau turun sekarang non"aku hanya mengangguk. mbak jihan membantu aku pindah dari tempat tidur ke kursi roda, lalu membantu aku turun kebawah. setelah sampek di ruang tamu aku menyuruh mbak jihan untuk memanggil bang udi dan pak jono. "permisi non"sapa mereka bertiga hampir barengan. "silahkan duduk pak, bg udin, mbak jihan"aku menyuruh mereka bertiga untuk duduk di sofa, aku melihat raut wajah ragu dari ketiga nya. "jangan sungkan silahkan duduk aja"aku tersenyum ke arah mereka akhirnya mereka duduk juga. "sebelum nya saya minta maaf kepada bg udin dan mbak jihan, ini berat untuk saya tapi saya tidak ada pilihan lain, saya sudah gak punya apa apa lagi sekarang saya hanya punya rumah ini, perusahan papi sudah bangkrut"aku diam sejenak untuk menstabilkan nafas "sepertinya saya harus memberhentikan bg udin dan mbak jihan untuk sementara waktu. saya benar benar minta maaf untuk saat ini seperti yang kalian tau saya tidak punya penghasilan apapun, mungkin jangan kan untuk membayar gaji kalian untuk makan pun saya akan kesulitan"aku kembali dia sejenak, dan mereka juga masih menyimak menunggu kelanjutan dari ku. "untuk pak jono saya minta bapak untuk bekerja sebulan lagi di sini sampai saya benar benar siap di tinggal seorang diri di rumah ini"aku melihat mata pak jono berembun. "gak mungkin bapak sanggup ninggalin non Keenan sendirian di rumah ini, non sudah bapak anggap seperti anak sendiri, bapak juga tidak mungkin ingkar dengan amanah bapak dan ibuk untuk selalu jagain non Keenan"aku tersenyum ke arah pak jono. "bapak tidak usah khawatir saya akan baik baik saja, dan tabungan saya cuma cukup untuk bayar bapak untuk satu bulan ini"aku meminta tolong pada mbak jihan untuk mentransfer gajinya sendiri dari handphone ku ke rekening nya dan sekalian juga untuk bg udin, dan untuk pak jono sekalian dua kali untuk bulan ini dan satu bulan kedepan. "non, mbak gak papa di bayar separuh aja asal mbak masih bisa kerja di sini"minta mbak jihan pada ku, aku menarik nafas berat. "jangan dong mbak, mbak masih punya alika kasian dia, dia masih butuh s**u dan perlengkapan lain nya. mbak jihan harus cari kerja yang lebih baik lagi agar mbak bisa buktiin kepada manta suami mbak kalau mbak bisa tanpa dia"aku melihat mata mbak jihan mulai berkaca kaca. "tapi mbak gak tega ninggalin non Keenan"air mata yang di coba tahan akhirnya tumpah juga. mbak jihan menghampiri aku dan dia memeluk ku. aku bisa merasakan ketulusan mbak jihan merawat aku selama ini, meskipun baru mengenal mbak jihan selama dua bulan tapi dia tidak pernah kelihatan terpaksa melakukan itu untukku. "mbak bisa kerumah ini kapan pun yang mbak mau, rumah ini terbuka untuk mbak dan alika"aku melihat mbak jihan mengangguk "Keenan juga mau minta tolong satu hal sama mbak jihan, jangan pernah beri tau apa pun soal hal ini pada teh lia, Keenan gak mau dia khawatir"mbak jihan mengiyakan permintaan aku. "non, bg udin ngerti posisi non Keenan saat ini, kalau non Keenan butuh bantuan bg udin, kapan pun bg udin siap"aku tersenyum menanggapi omongan bg udin. "makasih ya bg, bg udin memang yang terbaik"bg udin memang paling bisa mencairkan suana. "paling bg udin cari kerja masih dekat dekat komplek sini kok non, jadi kalau non butuh bg udin, bg udin siap datang kapan pun"bg udin memang lelaki yang baik. meskipun gaya nya sedikit berantakan, rambutnya keriting sebahu, tubuh nya tinggi dan kulit nya hitam kusam, tapi tidak menutup kemungkinan kalau bg udin memiliki hati paling baik sedunia. "uang nya udah di transfer ya bg"aku memberi tau bg udin kalau gaji nya udah di transfer dan mbak jihan juga menunjukan bukti transfer kepada bg udin yang ada di handphone ku. bg udin mengecek di handphone nya. "oke udah masuk nih non"dia menunjukan layar handphone nya kepada ku dan mbak jihan "uang udah bg udin pegang kalau non butuh uang non bisa telpon bg udin, uang nya langsung bg udin transfer balik ke non Keenan"jawab nya lagi, aku tersenyum dan mengiyakan omongan bg udin karna percuma juga di bantah. setelah itu bg udin dan pak jono pamit untuk keluar. setelah mengantarkan aku ke atas, mbak jihan mulai beres beres buat pulang, aku memberikan dia hadiah kecil berupa anting siapa tau anting itu bisa di jual buat bantu bantu mbak jihan di saat mbak jihan butuh, anting itu emang gak besar tapi 5 juta kek nya laku. *** jarum jam menuju pukul 8 malam aku udah mulai laper, biasa nya jam segini aku udah makan. aku melihat ke bawah dari tempat tidur, ini kalau aku turun dari tempat tidur naik nya gimana yaaa, ya udah deh bodoh amat, mikir nya nanti aja mending sekarang aku turun dulu buat cari makan di kulkas. aku melempar dua bantal kebawah, setelah itu aku loncat dari kasur ke atas bantal. terasa pinter banget aku sekarang. aku menahan payung dengan di himpit di leher untuk bisa buka handle pintu, aku berhasiiiiiiil. udah pernah soal nya. aku menyerat tubuh ku pelan pelan hingga sampai di tangga. aku menarik nafas panjang untuk mengumpulkan keberanian agar bisa turun dari tangga, kejadian 8 bulan lalu masih jelas banget di ingatan aku saat aku terpeleset dan jatuh dari tangga. kalau sampek kejadian itu terulang lagi bisa menjadi penghuni tetap aku di rumah ini, bisa mati beku aku gak ada yang nolongin. aku mulai nurunin kaki sebelah kanan langsung ke anak tangga nomor tiga, aku coba tahan dengan kaki kanan baru setelah itu aku duduk di anak tangga yang kedua. kalau dulu aku turun dari samping sekarang aku coba dari depan, kalau sampek jatuh lagi ku hancurin beneran nih tangga. alhamdulillah aku berhasil. aku menyeret tubuh ku kedapur, dari kejauhan aku bisa melihat ada roti di meja makan, tapi cara ngambil nya gimana. aku coba buka kulkas deh pikir ku, aku menyeret tubuh ku ke arah kulkas, aku perhatikan kulkas empat pintu di hadapan ku ini dari atas sampek bawah, gagang nya ada di atas buka nya gimana. kalau aku buka pakek gigi, gigi nya nempel di situ belum tentu kulkas nya bisa di buka. oooh keenaaaaan gimana ini, handphone juga di atas. mending aku curi makanan di kulkas yang ada di kamar kak andra mumpung orang nya gak ada. aku menyerah tubuh ku dan tidak lupa payung yang ku himpit di leher biar bisa buka pintu kamar kak Andra. mudah saja pintu nya ke buka, kek nya sekarang aku udah mahir buka buka pintu. aku takjub dengan kamar kak Andra, rapi juga, seumur hidup aku gak pernah masuk ke kamar dia, jangan kan aku mungkin umi pun gak pernah. gak ada satu orang pun boleh masuk ke kamar dia kecuali teh lia itu pun cuma buat bersih bersih, atau pun buat isi kulkas nya dengan makanan atau minuman, selebih nya gak boleh. aku melihat foto kak Andra tersusun rapi di dinding kamar nya, ada foto dari dia kecil sampek dia dewasa. di atas meja di sebelah tempat tidurnya ada dua foto yang sangat menarik perhatian ku. ada tiga orang anak kecil yang tersenyum manis di dalam foto tersebut. anak perempuan itu pasti kak andra, anak lelaki di sebelah kanan seperti nya kak vano soal nya mirip dengan anak perempuan itu. sampek dewasa pun kak Andra dan kak vano terlihat mirip. tapi siapa anak laki laki di sebelah kiri kak Andra, dia merangkul bahu kak vano. wajah nya manis, kulit nya putih bersih, rambut nya warna coklat tua, hidung nya mancung, dan bola mata nya berwarna hijau ke coklat coklatan. kenapa melihat anak kecik di foto itu berasa aku lagi bercermin yaaa. tubuh nya lebih tinggi dari kak vano, kemungkinan dia lebih tua dari kak vano. ingin rasa nya aku melihat foto itu dari jarak yang lebih dekat, tapi jelas gak mungkin aku bisa mengambil foto itu. aku menyadarkan diri ku sendiri bahwa aku kekamar kak Andra bukan buat lihat foto tapi buat nyuri makanan. aku harus buru buru, kak Andra bisa pulang kapan aja, meskipun sekarang dia jarang pulang tapi tidak menutup kemungkinan untuk dia pulang tiba tiba. aku berusaha membuka kulkas dengan kaki, mudah saja untuk aku membuka kulkas kecil milik kak Andra. hanya ada apel, roti, orange juice, dan air putih dalam botol. ya wajar sih kak Andra udah lama gak di rumah. setelah itu aku buru buru keluar, mending aku makan di kamar kak vano sekalian aku tidur di situ, capek kalau harus naik malam ini ke atas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN