Love 17

1212 Kata
Pria dengan lesung pipi itu terbangun. Menatap Minji kekasihnya yang kini terpejam di sebelahnya setelah aktivitas mereka. Terlelap di bawah selimut yang sama kini. Namjun tersenyum setelah memerhatikan sang kekasih. Dengan lembut merapikan selimut yang mereka kenakan berdua. Ia membelai rambut Minji, tapi, gadis itu sama sekali tak merespon karena terlalu lelah setelah pergulatan manja keduanya. Gejolak masa muda memang membawa pada gairah yang menggebu. Dan keduanya memilih menuntaskan itu. Setelahnya, Namjun memilih segera terlelap lagi. Sepertinya, ia yang paling lelah hari ini. *** Tae membawa Jijji untuk membeli es krim kemudian mengajaknya ke dorm. Di sana ada Reya dan duoB. Ketiganya duduk di ruang tengah. Jijji berjalan menghampiri lalu duduk di antara si kembar yang sibuk menonton televisi. Jijji memberikan es krim yang dibelikan oleh Tae tadi. "Terima kasih," ucap keduanya kompak. "Jijji udah makan?" tanya Reya. "Udah imo, tadi Om Tae ngajak Jijji makan sandwich sama es krim," jawab Jijji. "Enak dong?" tanya Reya pada Jijji yang segera dijawab dengan anggukan. "Tae, kau ditunggu di studio 'kan?" "Iya, aku akan berangkat ke sana. Aku titip Jijji ya?" Tae lalu berjalan ke luar. Ia telah ditunggu oleh yang lain sedari tadi. Sebelum berangkat si senyum kotak mendekati Jijji. Mengusap kepala gadis kecil itu. "Paman Tae ke studio dulu ya? Nanti, ibu Jijji mungkin akan menjemput sore." "Reya, aku berangkat." Reya mengangguk. "Hmm, hati-hati." Ia menatap kepergian pria itu. Sampai terdengar suara pintu yang tertutup. "Jijji, Bon, Bong," panggil Reya. Ketiganya menoleh. "Ayo kalian kerjakan soal yang itu ya," pinta Reya sambil menunjuk buku-buku yang sengaja ia beli tadi. Untuk dikerjakan duo B dan Jijji. "Baik!" jawab semua kompak. Saat itu ponsel Reya berdering, ia mengambil ponsel yang diletakkan di samping tempat duduk. Segera ia terima setelah membaca nama si pemanggil, Soogi. "Yeobeoseyo?" "Rey, sepertinya nanti malam aku terpaksa harus menitipkan Jijji. Bisa?" "Tentu bisa. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Reya khawatir. "Aku rasanya butuh sendirian untuk malam ini." "Iya, baiklah. Kau baik-baik saja kan?" "Hmm baik-baik saja. Aku hanya belum bisa menceritakan semua. Aku matikan panggilannya. Terima kasih." Soogi mematikan panggilannya. Reya benar-benar cemas dengan apa yang terjadi dengan Soogi. Ia jelas mendengar suara wanita itu sedang tak baik. Meski ia terus mengatakan baik-baik saja. "Imo Reya," panggil Jijji. "Iya, Jijji?" "Itu telepon dari ibu ya?" Reya mengangguk. "Hmm, nanti malam Jijji tidur di rumah Imo Reya dulu ya?" Jijji menatap Reya sekilas, tapi kemudian ia mengangguk. Jijji tau pasti ada sesuatu dengan sang ibu karena memintanya untuk tidur di rumah Reya. "Ibu," panggil Bonbon. "Ya?" sahut Reya, ia telah terbiasa dipanggil ibu oleh Bonbon. "Aku iku," pinta manja Bonbon. "Aah, Bonbon kan tak bisa jauh dari ayah Yunki," ucap Reya berjalan kemudian duduk di antara Bonbon dan Jijji. "Ayah juga ikut." Bonbon meminta sambil menatap Reya, kemudian memegang wajah gadis itu. Bonbon dengan cepat menarik tangannya. "Ibu jahat!" Bonbon dan segera berlari ke kamar. Reya dan Jijji saling tatap dengan bingung. *** Minmin dalam perjalan menuju studio. Sebelum itu ia mampir dulu ke coffeshop untuk membeli kopi pesanan kakak sepupunya Heosok. Pria itu telah mengirimkan pesan sebelum adik sepupunya berangkat. Untuk dibelikan makanan dan juga kopi di coffee shop dekat studio mereka. Minmin menatap ponsel seraya mengabsen pesanannya. "Americano dua, cappucino tiga sepertinya ini sudah semua." Setelah dirasa lengkap ia berjalan ke tempat tujuan. Suasana Seoul cukup hangat karena beberapa hari ini adalah transisi ke musim panas. Dan kopi dingin jadi pilihan terbaik setelah lelah berlatih. Minmin sudah dekat, baru saja ia akan membuka pintu. Pintu itu terbuka lebih dulu, gadis itu menatap dengan kagum. Apa pintu studio telah diganti dengan pintu otomatis? Tapi saat ia melihat, ternyata Jeon-gu yang membukakan pintu untuknya. Pria itu memang menunggu ia tau karena apa yang diperintahkan oleh Heosok Minmin akan kesulitan "Eoh? Jeon-gu oppa?" Yang disapa tersenyum menunjukkan gigi kelincinya yang imut. "Aku menunggumu. Aku tau kau pasti akan kesulitan membawa semua ini." Blusshh Jantung Minmin berdetak lebih cepat dari biasanya. Minmin hanya tersenyum dengan senyum yang manis membuat Jeon-gu juga ikut malu saat menatapnya. Segera ia mengambil kopi dari tangan gadis di hadapannya. Kemudian berjalan masuk dengan mengajak Minmin dengan menggerakkan kepalanya. "Ayo kita naik, Heosok Hyung pasti juga sudah menunggumu." Minmin mengangguk, sambil terus mengikuti dari belakang. "Min," panggil Jeon-gu . "Iya?" "Waktu kau mabuk, apa kau ingat sesuatu?" "Mabuk? Saat kita di atap?" tanya Minmin. "Iya," jawab Jeon. Minmin berpikir sesaat, ia benar-benar lupa apa yang terjadi di sana. "Aku tak bisa mengingat apapun. Apa terjadi sesuatu Oppa?" tanya Minmin ia juga penasaran dengan apa yang terjadi. "Ah begitu, tak ada apa-apa," ucap si gigi kelinci kecewa. Karena rupanya hanya ia yang memikirkan masalah itu. Dan gadis yang ia harap bisa mengingat malah melupakan semua. Padahal Minmin adalah pelaku utamanya. *** Malam ini Jijji duduk bersama Jimmy menyaksikan acara televisi di rumah Reya. Pria itu menemani Jijji sambil menunggu kekasihnya yang tengah menyiapkan makan malam. "Jijji, apa Jijji suka menari?" tanya Jimmy. Jijji menggeleng. "Jijji lebih suka musik klasik." Jimmy kagum dengan pilihan anak itu. Kini menatap Jijji dengan kagum. "Daebak, Jijji keren." Reya membawa sup ayam buatannya ke meja makan, kemudian meletakkan. Ia memerhatikan kedua orang yang tengah sibuk dengan mengobrol di ruang tengah. "Tunggu sebentar ya. Aku akan siapkan masakan yang lain." Reya berujar sambil berjalan kembali ke dapur. Ia bergegas menyelesaikan kegiatan memasaknya. Jimmy menatap Reya dengan senyum mengembang di bibirnya. Jijji memperhatikan Jimmy yang terlihat berbeda. "Paman Jimmy menyukai Reya imo?" tanya Jijji spontan. Jimmy mengangguk tak ada keraguan di sana. "Aku kira hanya om putih salju saja yang suka sama Imo R3ua." "Putih salju? Siapa?" tanya Jimmy bingung. Rupanya dia lupa kalau ada satu member BTL dengan kulit seputih salju. "Paman Yunki," jawab Jijji lagi. "Ya kadang cinta emang seperti itu Jijji. Ada yang harus dipilih. Dan karena Reya Imo dan Om Jimmy sama-sama punya perasaan yang sama. Jadi, paman Yunki akan bisa mengerti.* Jijji mengangguk, "Apa om putih salju sedih juga seperti ibu?" Jimmy hanya bisa menatap Jijji. Ia tau Yunki pasti terluka tapi-- dalam hubungan seperti ini harus ada yang mengalah kan? **** Tae membawa Soogi masuk ke dalam rumah. Ia membawa wanita itu dengan susah payah. Karena mabuk berat dan ia sibuk dengan gerakannya sendiri. Membuat Tae terengah-engah. Setelah berhasil membuka pintu. Tae membopong dan menidurkan Soogi yang terus mengoceh. "Bagaimana hik-, dia bisa berkata hik- hal semacam itu. Dia dia pikir, anakku itu benda? Hah?!!" "Sebenarnya apa yang terjadi, hmm?" "Tae ah—" Soogi memeluk Tae dan menangis. "Wanita jahat itu berkata jika ia akan membawa Jijji. Huaaaaa---" Tae menepuk-nepuk punggung Soogi. "Ia tak akan bawa Jijji kemana-mana nunna. Aku akan membantumu apapun caranya." Soogi melepas pelukannya dengan kencang. Membuat Tae Tae sampai terkejut karena tubuhnya yang terguncang. Soogi mendekati pria dengan senyum kotak itu. Tanpa sengaja tangan Soogi menyentuh senjata rahasia Tae. "Eugh!" Tae terpekik tertahan merasakan sensasi merambat perlahan ke dalam tubuhnya. Soogi bukannya melepaskan malah tetap berada di sana. Wanita itu merasakan pergerakan di tangan kanannya. Ia menatap dengan fokus pada bagian itu. "Tae aah- apa di dalam celanamu ada balonnya? Hihihi lucu sekali kenapa dia terus mengembang. Boleh aku liat?" "Jangan! jangan. Aku masih —" tolak Tae. Srtttt Soogi membuka resleting celana Tae. Ia tersenyum seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainannya. "Aigo, lucu sekali-" Tae mendesis merasakan sensasi menggelitik dalam dirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN