Galen menengadahkan tangannya, merasakan rintikan air hujan jatuh mengenai telapak tangannya. Cowok itu tersenyum masam, rasanya masih sama, menyenangkan. Dulu, dia suka bermain hujan, sangat suka. Baginya, hujan adalah teman yang membuat dirinya tersenyum tanpa bicara dan melakukan sesuatu. Kata Ibunya pun, hujan adalah berkah yang pantas dan patut untuk disyukuri. Jadi, alih-alih mengomel karena kehujanan, Galen lebih bersyukur karena perkataan Ibunya tersebut. Ibunya mengajarkan padanya untuk bersyukur dengan hal sekecil apapun dan sesederhana apapun.
Sayangnya, Galen tidak lagi berani bermain air hujan semenjak hari itu. Hari di mana semua harapannya dan kebahagiaannya hilang karena telah direnggut raksasa jahat yang penuh dengan kebencian. Dia sangat amat membenci raksasa itu. Tetapi dia pun tak berani melawan dan akhirnya ikut termakan walaupun tidak sampai meninggal. Galen mungkin tidak mati, namun dirinya kehilangan jiwanya yang dulu. Bahkan dirinya kehilangan kehidupan normalnya yang menyenangkan ketika dirinya masih anak-anak yang polos.
Hujan memang masih menyenangkan dan membuatnya bahagia. Tetapi, dia tidak mau mengingat tentang memori yang pernah terlewat ketika hujan itu datang. Galen tidak mau terjebak dan terus menangisi masa lalu kelamnya yang menyakitkan. Dia pun ingin hidup dengan normal, menjadi seorang remaja yang mempunyai banyak teman, disayang oleh orang lain, dan bisa menikmati hidupnya dengan baik. Dia juga ingin bersikap ramah, menyapa orang lain, atau membantu orang lain. Dia bosan ditatap tidak baik karena citranya. Ada apa dengan dirinya?
"Mikirin apa?" Tanya seseorang yang lagi-lagi datang ketika dirinya sendiri dan membutuhkan teman disisinya.
Halte yang sepi, tidak terpakai, dan keadaan hujan. Kapan cewek cantik itu datang dan duduk disampingnya? Galen menatap cewek itu, menatap dengan tatapan sendunya. Apakah dirinya sudah gila? Seperti yang orang lain katakan? Apakah ini hanya sekedar halusinasi bodohnya saja? Tetapi begitu nyata. Dia tidak bisa membedakannya.
"Meisy," panggil Galen menatap cewek itu dengan tatapan sendu sekaligus penasarannya. "Lo, ... itu nyata atau hanya halusinasi gue sih? Lo benar-benar hidup atau memang halusinasi yang gue ciptakan selama ini?" Sambung Galen dengan wajah memelas.
Cewek itu, Meisy, menatap Galen balik. Dia tidak menampakan wajah kaget atau ekspresi lain yang lebih signifikan. Dia hanya tersenyum dengan tulus dan menepuk bahu Galen dengan pelan. Matanya tidak beralih, tetap memandang Galen yang tampak tertekan dengan wajah penuh kebingungan.
"Kalau aku hanya halusinasi—" ucapan Meisy terpotong dengan ucapan Galen berikutnya.
"Kalau Lo memang hanya sekedar halusinasi, gue enggak pa-pa. Gue enggak akan melepaskan halusinasi yang gue buat tentang Lo. Gue bisa bahagia kok karena melihat Lo dan bicara sama Lo. Gue enggak masalah kalau ini memang hanya sekedar halusinasi, bayangan, atau mungkin kegilaan gue." Tandas Galen dengan tatapan takut.
Tiba-tiba tangan Meisy digenggam dengan erat oleh Galen. Cowok itu memberikan tatapan memohon dan matanya pun telah memerah karena menahan tangis.
"Tolong, ... jangan tinggalin gue. Lo nyata atau enggak, gue sama sekali enggak peduli akan hal itu. Lo yang buat gue bahagia, Lo satu-satunya orang yang bisa ngerti tentang gue, dengerin keluh-kesah gue, dan Lo yang gue butuhkan kalau lagi down dan sendirian."
Meisy menyentuh pipi Galen dan mengelusnya pelan. Cewek itu hanya bisa tersenyum tipis, memberikan ketenangan dengan menepuk bahu cowok itu agar lebih tenang.
"Aku nyata," lirihnya dengan tatapan serius.
Galen mengangguk, sebagai bentuk bahwa dirinya percaya pada ucapan cewek di depannya itu. Rasanya tidak ada yang lebih baik daripada ucapan menenangkan yang Meisy katakan kepadanya. Lagipula, Galen tidak peduli dengan anggapan orang lain jika memang Meisy tidak nyata atau hanya halusinasinya saja. Galen tidak akan pernah melepaskan Meisy dan akan tetap membiarkan cewek itu menemaninya selamanya. Tidak apa orang lain mengatakannya gila. Toh, mereka semua yang membuatnya kehilangan kewarasan.
"Galen," panggil Meisy.
Cowok itu menoleh, "Lo mau 'kan terus berada disamping gue? Gue enggak punya teman, gue enggak mau sendirian."
"Hm, ... oke." Jawab Meisy sambil menganggukkan kepalanya. "Kamu 'kan sekarang punya aku untuk jadi teman cerita. Jadi, kamu bisa sedikit demi sedikit lupain semua tontonan kamu itu, 'kan?" Sambungnya dengan hati-hati.
Awalnya, Galen tidak menjawab. Tapi ketika Meisy menggenggam kedua tangannya, Galen akhirnya memilih untuk menganggukkan kepalanya. Setuju dengan permintaan cewek itu. Lagipula, semua file sudah hancur atau hilang bersama dengan laptop kesayangannya yang sudah menjadi kenangan.
"Hujannya berhenti," ucap Meisy sambil menengadahkan tangannya, memastikan bahwa hujan sudah tidak turun lagi.
Galen mengangguk, dia juga sudah tidak merasakan air yang mengenai tangannya. Yang tersisa sekarang hanyalah aura dingin yang mulai menyeruak.
Cowok itu menatap Meisy kembali dengan senyuman tipis, "gue suka aroma tanah basah setelah hujan. Nyokap gue juga suka banget sama aromanya, katanya menenangkan."
"Orang-orang menyebutnya dengan petrichor. Kata yang estetik, ya? Aku juga suka aroma tanah yang basah selepas hujan." Ucap Meisy yang menanggapi ucapan Galen.
Keheningan kembali menyapa mereka. Baik Galen atau Meisy memilih untuk menyandarkan punggungnya pada tempat duduk mereka, masih di halte yang sama dengan suasana canggung yang begitu terasa.
"Galen," panggil Meisy kembali dengan menoleh ke arah Galen. Cowok itu hanya menoleh tanpa menjawab apapun. "Aku bilang, aku nyata. Tapi bagaimana kalau aku hanya halusinasi?" Sambungnya dengan serius.
Halusinasi? Bagaimana dengan kata itu? Galen tidak mempunyai pikiran lain selain senang karena mempunyai teman. Selama hampir sepuluh tahun, dia tidak pernah mempunyai seorang teman untuk berbagi cerita. Lalu, saat ada seseorang yang bisa mendengar seluruh keluh-kesahnya, apakah adil jika orang tersebut tidak nyata dan tidak hidup di dunianya?
"Terimakasih untuk malam ini. Gue akan pulang sekarang." Ucap Galen yang beranjak dari duduknya untuk pulang.
Malam semakin larut dan Galen tidak ingin terus memikirkan tentang apa yang terjadi dengan kata 'halusinasi' yang membuatnya terganggu.
Meisy menatap Galen yang menaiki motornya. Cewek itu tersenyum tipis dan melambaikan tangannya. Galen pun ragu. Namun pada akhirnya tak jadi menawarkan tumpangan kepada cewek itu. Mungkin saja, rumah Meisy hanya dekat dengan tempat itu. Jadi, Galen tidak perlu merasa khawatir.
Motornya melaju dengan kencang, meninggalkan Meisy sendiri di halte itu. Lalu, tidak lama kemudian, halte itu kembali sepi. Tidak ada siapapun di sana. Hujan sudah reda, jalanan kosong, dan aroma tanah basah pun masih mendominasi disekitar sana. Dua orang yang tengah melakukan jaga malam hanya bisa mengusap tengkuk mereka karena merinding. Merasa bahwa ada makhluk lainnya yang tak kasat mata. Ah, apakah masih ada yang percaya tentang hantu di masa yang modern seperti ini? Namun tidak lama kemudian, keduanya berjalan sangat cepat, merasa aneh dan takut pada situasi.
Ya, ... terkadang manusia seringkali ketakutan kepada hal-hal yang tidak masuk akal dan belum tentu adanya. Tetapi, itu seperti sudah sifat seorang manusia. Mereka akan sangat takut dan menggebu-gebu, namun pada akhirnya tidak bisa membuktikan ketakutan atau kecurigaan mereka. Menyedihkan!
***