BAB 9 : Bicara Sendiri

1018 Kata
Ada sebuah quotes yang entah siapa penulisnya, namun benar adanya. Tentang; bagaimana aku tergantung dari siapa kamu mendengarkannya. Dari orang-orang yang menyukai kita, pasti cerita bagus lah yang akan orang lain dengar. Dari orang-orang yang membenci kita, maka keburukan lah yang akan mereka dengar. Seperti itulah, bagaimana kita tergantung siapa yang bercerita. Entah bagus atau tidak, itu tidak sepantasnya menjadi tolak ukur. Satu orang dengan yang lainnya pun kadang tidak saling cocok. Ada yang cocok, namun ada juga yang tidak. Seperti memilih sepasang sepatu untuk sehari-hari, harus pas dan cocok di hati. Kadangkala ukuran sepatu itu terlalu kecil, namun modelnya kita sukai. Namun tidak jarang juga, ukurannya pas tetapi modelnya tidak kita suka. Atau bisa jadi kalau beruntung, ukuran pas dan modelnya disuka. Atau lebih parah lagi, ukuran tidak pas dan model tidak disuka. Tentu saja kita tidak akan memilih opsi yang paling terakhir, sepatu dengan ukuran yang tidak pas dan model yang tidak kita suka. Selain tidak bermanfaat karena tidak bisa digunakan, lebih-lebih modelnya pun tidak bisa membuat hati senang saat memakainya. Begitulah gambaran sebuah lingkaran pendapat dari seorang manusia yang mencari banyak sekali sumber dengan melibatkan manusia lainnya. Tapi, apakah itu yang dinamakan dengan manusia sebagai makhluk sosial? Galen tahu, dia tidak pernah terlihat baik di mata siapapun. Namanya pun sudah jelek sejak lama dan kadang menjadi gunjingan banyak orang hanya karena memiliki kesalahan yang sebenarnya tidak berdampak secara fisik kepada orang lain. Dia seorang remaja yang membutuhkan banyak bimbingan, terlebih lagi pendampingan dari orang dewasa. Terkadang, seseorang yang telah melakukan kesalahan selalu di- cap buruk selamanya. Apapun kebaikan yang dia lakukan, seakan-akan tidak ada pembenaran sama sekali. Maka dari itu, banyak orang melakukan kesalahan dan tidak mau bertobat karena lingkungannya yang telah memaksanya selalu terlihat buruk. Toh, mau sebaik apapun, orang lain hanya akan menilai dari kesalahan yang mungkin hanya sebesar biji kacang namun terus diungkit-ungkit. "Kamu tahu kalau semua orang menganggap kamu buruk? Kamu seorang pelajar, tapi kamu dengan santainya memperlihatkan bahwa dirimu adalah pecandu film porno? Apakah kamu tidak sadar bahwa semua hal tentang kamu itu juga berpengaruh untuk sekolah dan lingkungan disekitar kamu?" Kalimat-kalimat sakti itu masih terngiang di kepala Galen, membuat isi kepalanya kembali ribut karena membenci semua ungkapan tidak paham dari seorang guru yang baru beberapa hari mengenalnya. Galen bingung, kenapa orang-orang tidak pernah berhenti memberikan label padanya? Maksudnya, mengapa mereka terus mengatakan bahwa dirinya adalah pecandu video porno? Apakah mereka sesuci itu? "Saya memang pecandu. Tapi saya tidak merugikan orang lain. Saya menonton sendirian, saya tidak mengajak teman yang lain, bahkan saya pun tidak menyebarkannya kepada siapapun. Saya juga tidak melakukan pelecehan seperti yang orang-orang katakan. Saya normal dan masih punya moral!" Sayangnya, semua kata-kata itu seperti mentah untuk sekedar dicerna dan dikaji ulang. Galen bersalah, ya, tentu saja! Tapi apakah memberikan fitnah semacam pelecehan seksual atau tindakan diluar batas semacam itu wajar untuknya? Galen selama bertahun-tahun dianggap orang yang keji dan berdosa melebihi para pembunuh, koruptor, atau segala macam penjahat dari berbagai macam penjahat. "Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang," ucap Galen ketika membaca sebuah artikel bebas di internet. Dia sering membaca artikel-artikel tentang mental health. Sayangnya, semua yang dibacanya selalu saja mendesaknya untuk segera datang berkonsultasi pada psikolog. Tetapi sayangnya, Galen tidak mempunyai keberanian untuk itu. Dia pernah men- download sebuah aplikasi semacam konsultasi secara online. Namun tetap saja Galen tidak hadir pada sesi yang telah ditentukan. Galen terlalu bingung, takut, dan merasa cemas. Dia sakit, tetapi secara fisik dia baik-baik saja. Sehingga apa yang dia katakan sebagai sakit itu semacam hal yang menakutkan dan membuatnya tidak bisa hidup dengan nyaman. "Kamu lagi ngapain?" Tanya seorang cewek yang tiba-tiba duduk di kursi yang berada tepat di depannya. Lamunan Galen buyar, "eh, ... Lo bukannya cewek yang ada di taman bermain tadi? Kenapa bisa ketemu lagi?" Cewek itu tersenyum tulus dan menyeruput minumannya. Entah sejak kapan cewek itu duduk di sana dan meminum minumannya. Tetapi Galen hanya bisa menatap kaget dan melirik cewek itu berulangkali. "Meisy," panggil Galen lirih karena takut salah menyebutkan nama. Cewek yang dipanggil Meisy itu hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat dan kembali mengembangkan senyumannya. "Kamu enggak suka matcha, ya? Lalu, kenapa pesan?" Tanya Meisy ketika melihat minuman di cangkir Galen yang masih utuh, belum tersentuh sama sekali. Galen menatap cangkirnya dengan tatapan hambar, "matcha adalah kesukaan Nyokap gue. Apapun itu yang berhubungan dengan rasa matcha, Nyokap suka banget." Meisy mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Kalau aku, lebih suka honey lemon. Mau coba?" Tanya Meisy dengan menyodorkan sedotannya ke arah Galen. Galen menggelengkan kepalanya pelan, "gue enggak suka lemon!" "Oh, ... gitu." Jawab Meisy ala kadarnya dan kembali diam, fokus kepada minumannya. "Mau keluar? Tempat ini terlalu ramai." Sambung Meisy menawarkan kepada Galen untuk keluar dari cafe yang tengah mereka kunjungi bersama, walaupun tanpa rencana. "Lo mau nemenin gue jalan?" Tanya Galen dengan to the point, tentunya tanpa basa-basi sama sekali. Meisy tentu saja menganggukkan kepalanya. Cewek itu terlihat sangat menawan dilihat dari sisi manapun juga. Galen tidak tahu mengapa mereka bisa bertemu atau tentang keberanian Meisy yang mendekat ke arahnya tanpa rasa takut sama sekali. Galen beranjak dari duduknya dan menyetujui keinginan Meisy untuk jalan keluar bersama. Namun Galen tidak akan menyembunyikan apapun pada cewek yang dikenalnya itu dan mengatakan tentang bagaimana orang-orang menatapnya seperti kriminal yang pantas dijauhi. Keduanya berjalan keluar dengan santai. Galen membukakan pintu untuk cewek itu, menahan pintunya dan menunggu Meisy keluar lebih dulu. Setelah itu barulah Galen yang meninggalkan cafe itu. Dan semua kejadian itu terekam dengan jelas oleh beberapa orang yang berada di sana. Mereka saling bertatapan ketika Galen telah pergi dari cafe. Mereka penasaran dengan apa yang dilakukan Galen? Mereka tidak mengerti. "Dia ngomong sama siapa, sih?" "Bukannya enggak ada siapa-siapa?" "Dia udah gila?" "Bukannya dia si cowok me-sum itu, ya? Dia tadi ngobrol sendiri? Wah, ... jangan-jangan udah gila!" "Serem banget!" "Dia bisa ngeliat yang ghaib-ghaib gitu, ya?" Begitulah sederet ocehan dari para pengunjung di cafe itu, karena melihat ada yang tidak beres pada Galen. Apalagi mereka melihat Galen bicara sendiri dan tersenyum sendiri juga. Tidak ada yang tahu bahwa Galen benar-benar berbicara pada seorang cewek. Cewek yang mungkin hanya bisa dilihatnya. Cewek itu, apakah nyata? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN