G&K | 31

1031 Kata
DELUSI ATAU MEISY? *** Dunia anak-anak sangat kecil; hanya seputar bermain dan bermain. Semua anak-anak di sana tidak saling kenal sebelumnya. Mereka hanya datang ke taman bermain secara bersamaan—bermain bersama tanpa tahu siapa nama satu sama lain. Mereka hanya menikmati permainan bersama tak peduli berasal dari mana, siapakah orangnya, atau hal-hal tidak masuk akal yang menjadi klasifikasi sebuah pertemanan ketika dewasa. Kadang, pertemanan anak-anak lebih simpel dan mudah ketimbang pertemanan orang dewasa yang membosankan. Lagi, Galen datang ke taman bermain sendirian. Membeli tiket tanpa ada seorang anak pun yang bersamanya. Tentu saja petugas tiket masuk area taman bermain menatapnya dengan tatapan curiga ke arahnya. Namun tiket itu diberikan juga kepadanya, dengan catatan tidak boleh menaiki wahana apapun karena memang diperuntukkan untuk anak-anak. Galen mengerti, dia juga tidak bisa naik wahana apapun karena ukuran wahananya juga tidak pas dengan tinggi tubuhnya. Namun kedatangan Galen kesana hanya untuk sekedar melihat anak-anak yang polos sedang bermain bersama. Seperti biasanya, cowok itu duduk disebuah bangku panjang sendirian. Rasanya senang ketika melihat anak kecil tengah bermain, tertawa, tidak jarang menangis karena hal sepele yang mengundang kemarahan dari sang Ibu. Galen terhibur, merasa beban di pundaknya sedikit hilang hanya karena melihat anak-anak itu. Padahal Galen tidak kenal dengan anak-anak itu. Namun rasanya, dia bisa merasakan masa di mana sosok kecilnya bahagia hanya karena hal kecil semata. "Suka kue cokelat, strawberry, atau pisang?" Tanya seorang cewek yang tiba-tiba duduk disampingnya dan menawarkan tiga rasa kue yang ada dalam tempat makannya. Galen menatap kotak makanan yang disodorkan kepadanya, "gue enggak suka memilih. Menyebalkan!" "Hm, kalau gitu, ketiganya. Gimana? Mau?" Tawarnya lagi yang mendapat anggukan singkat dari Galen. Cowok itu langsung mengambil salah satu kue yang ada di dalam kotak itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Galen hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti menikmati rasa nikmat makanan yang berada di mulutnya. Rasa makanan ini sangat nyata, dia bisa menilai rasanya enak dan lembut. Jadi, apakah sebuah delusi bisa membawakannya makanan yang bisa dia rasakan? "Ada apa? Kamu kalau datang ke tempat kaya gini pasti mau sekedar menenangkan diri, 'kan?" Tanyanya tepat sasaran. "Kamu pernah cerita kalau melihat anak-anak kecil yang lagi main, rasanya menyenangkan." Sambungnya lagi. Galen menganggukkan kepalanya dengan cepat. Namun mungkin jika dirinya mengatakannya kepada orang lain yang berada di lingkungannya, bisa jadi dia dikira tengah mencari mangsa atau sebagai p***********k yang seringkali melakukan pelecehan. Ah, mengapa dirinya selalu diberikan cap buruk oleh orang-orang? Tetapi untuk saat ini, orang sepertinya tidak merundungnya dengan kata-kata karena menganggapnya sudah berubah. Padahal, dia tidak berubah. Sejak dulu, seperti ini lah dirinya. Tidak ada bedanya. "Sorry, karena gue marah sama Lo tanpa sebab. Padahal Lo selalu bantu gue." Ucap Galen dengan tulus. Beberapa hari ini, dia marah karena menganggap Meisya tidak mengerti tentang perasaannya. Namun Galen sendiri pun tidak bisa begitu saja menyalahkan cewek itu karena kemarahannya sendiri. Terkadang, Galen benar-benar marah dan kesal kepada orang lain. Namun dia akan melimpahkannya kepada orang lain yang tidak ada hubungannya, seperti Meisya. Meskipun biasanya, Galen hanya akan menyimpan kemarahan dan rasa kesalnya sendirian. Meisy hanya tersenyum, "hm, ... aku maklum kok! Marah itu manusiawi. Lagipula, katanya, kalau pertemanan akan awet kalau sudah bertengkar! Walaupun ini bukan pertengkaran semacam itu. Tapi aku senang saat melihat kamu duduk di sini." "Gue cuma ingin mengenang masa kecil gue yang hilang. Gue mau lihat bagaimana rasanya menjadi seorang anak kecil yang bermain bebas tanpa mengenal batas waktu. Sayang sekali gue enggak pernah punya kesempatan yang sama untuk merasakan berada di posisi mereka. Hanya itu rasa iri di dalam diri gue yang sepertinya tidak akan pernah bisa gue wujudkan. Jadi, melihat dari kejauhan kaya gini aja, sudah lebih dari kata menyenangkan. Gue senang." Tandas Galen kembali dengan senyuman tipis yang terus membingkai wajahnya. Suasana diantara mereka menjadi canggung. Bukan karena apa-apa, namun Meisy seperti memberikan ruang tersendiri untuk Galen sedikit menikmati apa yang diinginkannya. Bahkan setiap melihat Galen yang tampak tersenyum ke arah anak-anak itu, membuat siapa saja mengetahui bahwa ada bagian masa kecilnya yang hilang dan ingin kembali pada masa itu, hanya saja tidak bisa. Cowok itu beranjak dari duduknya setelah beberapa saat, "sepertinya gue harus pulang. Sudah terlalu lama dan gue sudah sangat senang. Terimakasih karena menemani gue duduk di sini, Meisy." Cewek itu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, menutup kotak makannya yang telah kosong. "Mau bertemu besok?" Tanya Meisy sebelum Galen benar-benar pergi meninggalkan taman bermain. Galen memberikan ibu jarinya ke udara, "oke, ... gue belum jadi ngasih lihat Lo gambar yang gue buat. Jadi, besok sore di taman kota jam empat gimana?" "Oke!" Keduanya berpisah di sana. Galen meninggalkan taman bermain itu, meninggalkan Meisy sendirian dan perlahan semuanya menjadi sepi senyap. Galen menaiki motornya, ada banyak tujuannya hari ini selain pergi untuk menenangkan dirinya di tempat ini. Galen ingin pergi ke sebuah rumah untuk melakukan kerja kelompok, sehingga dia bisa merasakan seperti apa rasanya dianggap oleh orang lain meskipun kemungkinannya sangat kecil. Cowok itu memarkirkan motornya disebuah kedai kopi yang menjadi tempat janjian mereka. Galen masuk ke dalam, menatap tempat di pojok ruangan di mana seseorang tengah melambaikan tangannya. Terlihat Leander yang tersenyum senang hanya karena melihatnya. "Sini," panggil Leander heboh ketika melihat Galen berjalan ke arahnya. Tidak ada orang lain! Hanya tersisa Leander saja. Ekspektasi Galen yang berharap bisa belajar kelompok pun hanya tinggal angan-angan tak masuk akal saja. "Lo sendirian?" Tanya Galen sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Leander tersenyum tipis, "katanya mereka ada acara, jadi enggak bisa datang." "Secara bersamaan?" Leander hanya menganggukkan kepalanya. "Jadi, ... sejak tadi Lo sendirian di sini? Kalau gue enggak datang, apa yang Lo tunggu di sini?" Galen benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran teman-teman yang lainnya. Mereka membatalkan janji seenaknya dan membuat orang lain menunggu dengan sia-sia. Galen tidak tahu harus mengatakan kata apa lagi, dia hanya merasa sangat kecewa karena sikap orang lain kepadanya. Mengapa mereka tidak mempunyai rasa bersalah? Padahal mereka yang berbuat salah. Orang seperti dirinya atau Leander seperti tidak mempunyai pilihan selain pasrah. "Kita kerjain tugasnya bareng aja. Enggak perlu nunggu-nunggu mereka. Iya kalau mereka enggak ngerjain di tempat lain." Tandas Galen yang sok bijak, ingin membantu mengerjakan tugas yang biasanya dia serahkan kepada teman-temannya yang lain. Tidak apa-apa. Dia sering sekali diperlakukan buruk. Jadi, tidak masalah untuk itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN