MELEMPAR BATU KE ARAHMU
***
Dia lupa dengan tugasnya hari ini! Bukan hanya tugasnya saja, mungkin. Tetapi tugas banyak orang yang tidak pernah menganggapnya ada. Kali ini, bukan karena kesalahannya yang tak mau maju ke depan untuk presentasi. Namun karena dirinya yang tiba-tiba tidak hadir ketika kelompok mereka dipanggil maju ke depan kelas dan harus dengan seluruh anggota. Ini yang selalu mereka khawatirkan ketika berada dalam satu kelompok dengan Galen. Mereka tidak tahu apa cowok itu akan datang ke sekolah atau tidak.
Bukankah selama ini Galen senang berangkat atau bolos sesukanya? Dia sangat menyebalkan meskipun sudah banyak berubah, katanya. Tetap saja, sebagian orang membencinya. Tidak jarang ada yang mengoloknya seperti apa yang dilakukan Galen saat ini—tidak berarti apa-apa. Dia hanyalah sampah yang berusaha menjadi baik. Seperti yang selalu orang-orang yang tidak menyukai Galen; memberikan kesempatan dan melihatnya sebagai manusia adalah sebuah kesalahan. Padahal semua hanya tentang tugas kelompok. Namun mereka sudah berani menyerang mental orang lain.
Tetapi, bagi sebagian orang yang ada dalam kelas itu, nilai sangat penting. Mereka menggantungkan harapan mereka pada kestabilan nilai yang akan membuat mereka tetap dapat bertahan di sana. Mereka yang selalu berusaha mendapatkan beasiswa dari 'belas kasihan' donatur sekolah yang berisi orang-orang kaya congkak dan sering meremehkan orang lain. Lagi, anaknya biasanya sama, penindas di sekolah dan selalu mendapat banyak perhatian dari guru. Aneh, bukan?
Semua hanya bertahan sesuai apa yang mereka butuhkan. Manusia di dalamnya saling membutuhkan. Dan kali ini, harapan seseorang hampirlah hilang. Cerita-cerita sedih itu dimulai hari ini, mirip dengan mimpi buruk yang menyeramkan. Pada akhirnya, dia kehilangan segalanya, lagi. Tak apakah?
Galen berusaha menaiki motornya dengan kecepatan tinggi, masuk ke sekolahnya dengan melompat pagar agar sampai ke kelasnya tepat waktu. Sayangnya, semua selalu gagal! Tidak ada satupun rencananya yang dapat dikatakan berhasil. Semuanya tidak berguna. Pada akhirnya, apapun itu yang dia usahakan hanya berakhir sia-sia.
Brak! Galen membuka pintu kelasnya cukup keras karena terburu-buru. Dia melihat beberapa temannya maju dan mempresentasikan tugas mereka. Dia sempat lega sebelum akhirnya dirinya sadar bahwa kelompoknya tak ada di kelas. Dia sudah tahu di mana mereka dan apa yang mereka kerjakan. Galen menutup kembali pintu kelasnya dan melirik ke arah gurunya sebentar—memastikan bahwa teman-temannya yang lain memang diusir keluar dan mendapatkan tugas tambahan.
Benar, semua teman satu kelompok dirinya berada di perpustakaan dan mereka membuat circle- nya sendiri tanpa mengajak Leander tentunya. Di ujung meja, terlihat tatapan yang tak bisa dikatakan sebagai tatapan biasa. Viktor memegang penanya dengan kesal sambil memberikan jari tengah ke arahnya.
"Padahal Lo bisa tinggal berangkat doang! Enggak ikut mengerjakan itu enggak masalah asalkan jangan jadi beban. Gara-gara Lo, apa yang kita kerjakan sia-sia. Semuanya enggak ada gunanya." Ucap salah satu cewek yang merupakan juara di kelasnya dan merupakan teman satu timnya.
"Dasar, ... seharusnya dia sadar dan paham karena menjadi beban." Ucap salah satu temannya lagi sambil ikut menyindir.
Ingin sekali Galen menonjok wajah cewek itu atau mendorongnya agar jatuh. Dia memang salah, dia tidak datang ketika kelompok mereka di minta untuk presentasi. Namun apa mereka memperlakukan dirinya dan Leander seperti anggota kelompok? Mereka tidak pernah menganggap kehadirannya dan Leander penting selama ini.
"Leander," panggil Galen yang tidak mempedulikan semua ucapan semua orang yang ada di sana dan memilih untuk menarik salah satu kursi yang ada disamping Leander yang tengah sibuk menulis di bukunya.
"Jangan dekat-dekat aku lagi! Kamu mungkin menganggap bahwa tugas yang harus kita selesaikan sebagai lelucon. Kamu bisa datang ataupun bolos sekolah seenaknya tanpa takut dikeluarkan. Tapi untuk orang-orang sepertiku, nilai sangatlah penting dan hanya itu yang bisa kami pertaruhkan untuk bisa bertahan di sekolah ini. Di dunia ini, tidak semua orang punya keberuntungan sepertimu. Jadi tak semua orang bisa melakukan apa yang mereka inginkan tanpa harus memikirkan orang lain." Sambung Leander yang mengatakannya pada Galen dengan nada penuh penekanan karena kejadian ini.
Semua itu terdengar kasar. Namun sebagian orang akan memaklumi dan memahami apa yang terjadi, pastinya akan sependapat dengan Leander. Di dunia yang indah ini, tidak semuanya mendapatkan kesempatan mudah—sebagian manusia harus berusaha dengan sangat keras untuk mencapai keinginan mereka yang tinggi.
"Maaf," lirih Galen yang memainkan jemarinya dengan tatapan menyesal.
Padahal Galen mengatakan kepada semua orang bahwa Leander adalah pesuruh yang bisa disuruhnya. Tetapi bagi Galen sendiri, dari hatinya yang paling dalam; Leander adalah teman yang tidak pernah didapatkannya. Di sekolah ini, hanya Leander yang mau dan bersedia dengan terang-terangan berteman dengannya dan membantu apapun yang dibutuhkannya. Semua itu seperti sebuah hal mustahil untuk dirinya yang selama hampir 3 tahun bertahan di sekolah ini.
"Apa yang bisa gue bantu?" Tanya Galen kepada Leander yang sibuk dengan bukunya. "Gue harus apa?" Sambungnya lagi untuk menawarkan bantuan kepada Leander.
Karena tidak ada jawaban, Galen akhirnya menyerah. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tidak dengan membujuk atau mengatakan tentang sesuatu yang dapat memberi sedikit hiburan kepada Leander. Jika memang begitu cara dunia bekerja, maka dia memang tidak ditakdirkan untuk mempunyai teman.
"Gue memang salah! Tapi gue enggak pernah sengaja untuk enggak datang ke sekolah dan mengancam nilai Lo. Kalau misalkan gue memang bukan bagian kelompok yang Lo mau, gue akan bilang ke gurunya. Memang siapa yang mau satu kelompok dan berteman sama gue? Semuanya itu hanya sekedar kebetulan yang cukup menyebalkan." Tandas Galen yang beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja setelah mengatakan itu kepada Leander.
Dia menyesal, tentu saja! Lalu apa yang harus dilakukannya? Bahkan Galen sudah menawarkan bantuan. Apakah dia harus bersujud sambil memohon-mohon? Dia berusaha—meminta maaf dan menawarkan bantuan. Tetapi semua orang tidak menerimanya. Lalu, mengapa dia harus berusaha? Toh, hanya akan sia-sia.
"Dasar beban kelompok!" Sindir salah satu diantara mereka lagi.
Jadi, siapa yang salah? Datang salah, tidak datang apalagi. Membantu pun salah, apalagi tidak membantu sama sekali. Tetapi manusia terkadang suka aneh. Mereka memutar balik keadaan sambil menyalahkan orang lain yang terkadang sudah menyesal dengan apa yang mereka lakukan.
"Aish, sial!" Umpat Galen dengan kedua tangannya yang mengepal dengan kuat sambil keluar dari perpustakaan.
Seharusnya dia tidak datang sekalian dan tetap berada di galeria seni itu. Dia tidak seharusnya memikirkan nasib orang lain. Tidak perlu! Dia benar-benar melempar batu ke arahnya sendiri.
***