Keduanya sama-sama diam, tak ada yang berniat untuk memulai bersuara. Hawa-hawa akward rupanya menyelimuti dua orang tersebut. Bagaimana rasanya harus berada di dalam mobil yang sama dengan mantan kekasih? Terlebih keduanya mengakhiri hubungan karena sesuatu hal yang menyakitkan. Tanyakan saja pada Disa, perempuan itu pasti bisa menjawabnya. "Kenapa mendadak lama banget nyampeknya!" batin Disa memberontak. Andai saja ia bisa lompat turun, pasti gadis itu lakukan. Apalagi kini lehernya terasa sedikit kebas karena sejak tadi gadis itu harus menatap ke arah jendela, sungguh perjalanan kali ini benar-benar menyiksanya. Tidak bisakah laki-laki itu mempercepat laju mobilnya? Kenapa laki-laki disampingnya ini terlihat biasa saja sih? Apa ia tidak merasakan pergejolakan hatinya seperti Disa? "K

