Part 05

1288 Kata
Baru saja Disa masuk ke dalam kelas mata Raina menatapnya begitu intens. Sorot mata wanita itu seolah butuh penjelasan dari mulut Disa. "Lo kenapa sih Rain?" tanya Disa, meski sebenarnya Disa tau apa yang ada di fikiran Raina. Raina enggan menjawab, ia malah menarik tangan Disa untuk segera duduk di bangkunya lalu menatap tajam Disa. "Kesurupan lo?" celetuknya. Tiba-tiba Raina menonyor kepala Disa, "Lo yang kesurupan!" "Awhh," pekik Disa. "Wah emang kesurupan nih anak." adunya. Raina melengoskan kepalanya, "Maksud lo apaan dah! Kemarin lo bilang udah putus kenapa tadi pagi lo pergi berdua sama Gara? Boncengan lagi." cercahnya. Disa memamerkan deretan gigi apiknya dengan mengangkat dua jarinya membentuk peace. "Lo nggak lagi sakit kan?" sahut Raina sambil menempelkan telapak tangan di dahi Disa. "Suhu lo normal Dis!" "Ya emang gue nggak sakit Rain!" jelas Disa. "Lo aneh! Kemarin lo marah-marah nggak mau sama tuh orang!" Akhirnya mengalirlah cerita sebenarnya dari mulut Disa. Ia menceritakan semuanya kepada Raina. Raina sedikit cengo, wanita itu tampak heran dengan sikap Gara yang tiba-tiba baik kepada sahabatnya. Apalagi menurutnya Gara bukan laki-laki sembarangan. Dia dengan segala pesonanya mampu membuat banyak kaum hawa terpesona, tapi anehnya laki-laki itu masih mempertahankan Disa tanpa alasan yang jelas. "Lo yakin Dis?" yakin Raina. Yang ditanya malah mengedikkan bahu acuh. "Gimana sih lo ini!" protesnya sambil menoyor kepala sahabatnya itu. Disa menatap Raina dengan tatapan memelas, "Gue juga bingung Rain. Perasaan gue amburadul sama kayak pikiran gue sekarang Rain." curhatnya. Sedangkan Raina memaklumi itu, ia tau butuh waktu lama untuk Disa menyakinkan perasaannya ditambah sahabatnya itu masih memiliki perasaan kepada Gara. "Emang gue salah ya Rain, kalo kasih kesempatan buat Gara?" Raina menggeleng, "Lo nggak salah Dis, kalo hati lu emang yakin sama Gara ya its oke." Disa mengangguk, memang Raina selalu bisa untuk diandalkan. *** Sepertinya hari ini dan seterusnya Disa harus siap melihat Gara duduk manis menunggunya di depan kelas. Pemandangan langka yang sebentar lagi menjadi rutinitas laki-laki berbadan jangkung itu. Belum sempat Disa membuka suara Gara menoleh, membuat Disa tersentak kaget. Suasana semakin mencekam saat Gara hanya diam menatap Disa dengan mengangkat sebelah matanya. Disa lemas di tatap Gara seperti itu. Keringat dingin mulai merembes di dahinya, tangannya mulai menggaruk belakang kepalanya yang tentu tak gatal. Disa gugup lagi pemirsa. Melihat wajah Disa yang mulai pucat pasi, Gara tertawa terbahak-bahak, "Kamu kenapa sih?" tanya Gara di sela ketawanya. Disa mendengar ada hal janggal disana. Hampir saja bola matanya lepas, tidak sih. Tidak se-alay itu tapi memang cukup membuat gadis itu terkejut. Ia masih diam sambil mengingat apa yang barusan Gara katakan. "Hei!" kata Gara sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Disa. "Halo?" "Hum?" Disa terkesiap. "Apa?" "Kamu kenapa?" tanya Gara lagi kali ini laki-laki berambut ikal itu menarik ujung bibirnya membentuk lengkungan indah dimana ini kali pertama Disa melihatnya. Disa meneguk ludah kagum dengan manusia di depannya itu. Betapa sempurnanya pahatan wajah anak adam yang ia lihat sekarang. Gara jauh lebih tampan beribu-ribu kali lipat, bahkan sangking terpesonanya Disa hampir lupa menutup mulutnya. Persetan dengan apa yang dikatakan laki-laki itu tadi, yang terpenting ia ingin menikmati lebih lama wajah Gara. "Mau langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Gara. Yang ditanya hanya mengedikkan bahu, "Terserah." Gara tampak berfikir, kemana enaknya mengajak Disa pergi. Ini hari pertama untuk Gara memperbaiki semuanya, semoga berjalan seperti apa yang dia harapkan. Tanpa aba-aba ia mengamit tangan Disa lalu menggandengnya menuju tempat parkir. Seketika semua mata yang berada di lorong kelas menatapnya. Disa menunduk malu, ia yakin sebentar lagi higlight berita di angkatannya adalah dirinya. Mengingat Gara masuk ke dalam jajaran cogan di sana. "Oh tuhan! Colok mata mereka!" batin Disa. Ia risih melihat banyak mata yang seakan-akan ingin menerkamnya. Berbeda dengan Gara, laki-laki itu tampak berjalan dengan santai tanpa menghiraukan tatapan-tatapan menganggu di sekitarnya. *** Disa tak tau kemana Gara akan mengajaknya, dari tadi Disa lebih banyak diam. Ia belum terbiasa dengan sikap Gara yang sekarang. Mobil Gara menepi di sebuah gedung yang Disa sendiri tidak mengerti apa menariknya jalan-jalan di gedung tersebut. "Ayo turun," ajak Gara. Sedangkan Disa mengeryit heran. Ia kira Gara mengajaknya pergi menonton, makan, atau sekedar jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Gara mengerti kebingungan Disa. Ia tersenyum samar, "Udah ayo, nanti bakal seneng." Disa menurut saja, ia turun dan berjalan di samping Gara. Ia kira gedung tersebut sepi ternyata Disa salah, gedung itu tampak rame pengunjung sepertinya ada sebuah pameran di dalam sana. Gara terlihat lebih excited untuk masuk ke dalam. Benar saja mata Disa tertuju pada lukisan lukisan yang ada dinding gedung. Disa baru sadar Gara membawanya ke pameran lukisan. Iya Disa sangat suka melukis tapi darimana Gara tau? Bahkan Disa tak pernah mengatakannya. Disa hanya melukis untuk dirinya saja, ia lebih suka melukis di dalam kamar tanpa ada seorang pun yang tau. Mata Disa tak lepas dari lukisan-lukisan yang di pamerkan. Dari sorot mata gadis itu tampak senang, dan ini pertama kalinya untuk Disa pergi ke sebuah acara pameran seperti ini. Ia melihat satu per satu lukisan-lukisan yang membuat matanya seketika jatuh cinta, sampai-sampai ia tak menghiraukan pacarnya kemana sekarang. Disa sangat menikmati pameran tersebut. Terbesit dalam benaknya, suatu hari nanti Disa yakin bahwa ia bisa memamerkan lukisan-lukisannya seperti yang ia lihat sekarang. Disa ingin menggelar pameran seperti ini nanti, itu mimpi Disa. "Suka?" tanya Gara yang ternyata sudah berada di sampingnya. Disa mengangguk antusias, "Suka banget." mata Disa masih tak bisa lepas dari lukisan disana. Kemudian Gara menggandeng Disa mengajaknya berkeliling di pameran tersebut. "Gar?" panggil Disa. Gara menoleh menatap kekasihnya itu, "Ada apa hum?" "Terima kasih kamu udah ngajak aku kesini," kata Disa. Ternyata apa yang laki-laki itu katakan benar ia lakukan. Sepertinya Disa tidak salah memberikan kesempatan kedua untuk Gara. Gara mengacak rambut Disa, "Sama-sama. Ini juga sebagai permintaan maafku," "Ayo ke sebelah sana," Disa mengangguk. Jajaran lukisan-lukisan dari karya orang-orang hebat mengiringi langkah Disa. Menurut Disa melukis adalah seni untuk mengekspresikan diri, sering kali Disa menggambar lukisan abstrak yang sebenarnya memiliki arti tersendiri untuk dirinya. Disa berhenti di depan sebuah lukisan abstrak yang begitu besar, sepertinya lukisan itu adalah pusat dari lukisan-lukisan yang ada disana. Lukisan abstrak tentang seorang perempuan yang sendirian, jika Disa lihat dalam sekali makna dari lukisan tersebut. Tiba-tiba handphone Gara berdering, "Sebentar ya." izinnya pada Disa. Disa hanya mengangguk saja. Setelah itu Gara pergi menjauh untuk mengangkat panggilan dari seseorang. "Halo kenapa Tan?" Iya, Tania yang menelfon Gara. "Kamu bisa kesini nggak?" ujar Tania dengan suara serak. "Kamu kenapa Tan?" panik Gara. Gara bisa mendengar Tania menangis di sebrang sana, "Aku butuh kamu Gar." "Iya kamu tenang ya, aku kesana sekarang, tunggu aku." setelah itu ia akhiri panggilan Tania. Laki-laki itu melihat gadisnya yang masih terpaku di depan lukisan abstrak, padahal hari ini Gara ingin menghabiskan waktu berdua dengan Disa, namun Tania lebih butuh dia. Dalam hati Gara sebenarnya ia tak tega harus membohongi wanita baik itu, tapi apa boleh buat alasannya masih tetap sama yaitu untuk Tania. "Dis?" Wanita dengan rambut lurus sebahu itu menoleh, "Kenapa? Ada sesuatu?" Gara menggeleng. "Siapa tadi yang telfon?" tanya Pelangi. "Bunda," bohong Gara. "Oh bunda, kenapa bunda Gar?" Gara mengelus lembut puncak kepala Disa, "Aku harus nganterin Bunda ke rumah temannya, soalnya ayah gak bisa nganter. Gala juga lagi latian band gak jelasnya itu." "Gitu ya, ya udah sana buruan. Kasian bunda nungguin. Gue gakpapa kok nanti bisa naik angkot atau ojek. Masih mau lihat-lihat lukisan yang lain," ujar Disa sambil menyengir. "Kamu beneran gakpapa aku tinggal Dis?" "Gakpapa Gara. Santai aja lagi, udah sana anterin bunda," Sungguh Gara tidak tega, ia memang benar-benar b******k sebagai cowok, "Kalau gitu aku tinggal dulu ya Dis. Kamu hati-hati, nanti kalau bisa gue jemput ya." Disa menggeleng, "Gak usah Gar. Aku bisa pulang sendiri. Udah kamu tenang aja." "Baiklah. See you," pamit Gara sambil melambaikan tangannya. "See you," balas Disa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN