"Perempuan laknat! Kamu mau membunuh ibuku, hah?" Suara Mas Dewa menggema seakan merobohkan dinding kamar. Mas Dewa melangkah mendekati Liana yang sudah gemetar. Laki-laki berbadan tegap yang sudah dikuasai amarah itu merampas kasar minuman teh yang berada di tangan Liana, hingga teh itu sebagian tumpah berceceran ke lantai. "Aku minta, kamu yang minum teh ini. Cepat!" Dengan napas memburu dan d**a naik turun, Mas Dewa kembali membentak Liana yang sudah mulai mengeluarkan air mata. Liana menggelengkan cepat kepalanya "Tidak mau, Mas!" sahutnya bergetar. Wajahnya semakin memucat bagai kapas. "Kenapa ?" Mas Dewa mendelikkan matanya. Liana terdiam. Seakan ragu hendak menjawab. Tubuhnya gemetar. Keringat mengalir di sekitar dahinya. "Jawaabb!" teriak Mas Dewa membuat Liana kembali t

