Bab 8. Istri Rasa Selingkuhan

759 Kata
"Zahra ..., ayo Aku antar!" Tiba-tiba Mas Dewa sudah berdiri tepat disebelahku. "Tidak usah, Mas. Aku sudah pesan taksi online," sahutku seraya mencari keberadaan taksi yang sudah aku pesan. Namun setelah kulihat sekeliling, taksi itu tak kunjung datang. Kembali kubuka aplikasi taksi online di ponselku, ternyata pesananku dicancel. Segera aku memesannya kembali, mengingat hari semakin siang. Mas Dewa masih berdiri di sebelahku. Laki-laki itu masih mencuri-curi pandang padaku. Aneh, kenapa seperti sedang mencuri pandangan dengan wanita lain? Bukankah aku ini istrinya? "Zahra ... kamu ... kamu ..." Nampaknya ada sesuatu yang hendak dia tanyakan. Namun sepertinya suamiku itu ragu. "Kenapa, Mas?" "Kamu beda ..." lirihnya nyaris tak terdengar. "Apa? Kenapa? Aku nggak denger, Mas." Aku pura-pura tidak mendengar. "Kamu ..." Mas Dewa gelagapan ketika tiba-tiba Liana muncul dań dalam rumah. Laki-laki yang sebenarnya masih halal untukku itu segera masuk ke dalam mobilnya, diikuti tatapan penuh curiga dari istri keduanya. Rumah tangga macam apa ini. Seharusnya aku sebagai istri pertama yang marah ketika Mas Dewa mendekati wanita lain yang kini menjadi istri barunya. Namun kali ini justru istri kedua yang tak tahu diri ingin menguasai semuanya. Saat ini, kenapa justru aku merasa sebagai selingkuhannya Mas Dewa? "Sombong banget! Gaji nggak seberapa aja naik taksi. Dasar boros! Bisa habis gaji suamiku nanti!" ketus Liana seraya melotot padaku. Astaga! Darahku mulai mendidih. Menarik napas dalam-dalam. Berusaha agar emosiku tidak terpancing. Bisa rusak moodku pagi ini. Tidak. Jangan terpancing, Zahra! Beruntung tak lama kemudiaan pesanan taksi onlineku datang. Gegas aku naik dan duduk di bangku penumpang di barisan tengah. Masih terdengar gerutuan dari maduku itu saat aku hendak menutup pintu. Aku sama sekali tak menghiraukannya lagi. Beruntung Mas Dewa tidak jadi mengantarku. Belum saatnya suamiku itu tahu tempat aku bekerja. Saat ini aku ingin kembali meniti karierku hingga sukses, sebelum benar-benar meninggalkan Mas Dewa kelak. Biarlah sementara aku tetap di rumah itu. Sepertinya saat ini Mas Dewa juga keberatan jika aku minta cerai. Aku harus bisa mencari cara agar Mas Dewa mau menceraikanku. Lagipula, aku tidak tega jika harus meninggalkan Ibu sekarang ini. **** Lalu lintas menuju kantor Ivan macet. Bisa-bisa aku telat tiba di sana. "Pak, Pak. Bisa nyalip, nggak? Saya sudah telat, nih!" "Maaf, Mbak. Kita lewat jalan kampung aja gimana?" usul supir taksi. "Boleh, Pak. Cepetan ya, pak!" Pak supir itu mengangguk, kemudian berbelok ke salah satu jalan kampung. Beruntung pak supir itu sangat memahami jalan. Hingga perjalanan kami kembali lancar. Mulai besok aku harus berangkat lebih pagi. Aku harus lebih disiplin dan profesional. Taksi yang aku tumpangi berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Menurut Ivan, kantornya berada di lantai dua belas. Setelah turun dari taksi, gegas aku melangkah masuk dan menuju lift. Ternyata di depan dua lift yang saling berhadapan ini penuh oleh karyawan yang sedang mengantri hendak menuju kantornya masing-masing. Gedung ini memang terdiri dari beberapa perusahaan yang berbeda di setiap lantainya. Sesaat melirik arloji ditanganku, ternyata waktuku tinggal sepuluh menit lagi. Berdecak kesal, karena hari pertama saja aku sudah tidak disiplin. Alasan apa yang harus aku katakan pada Ivan nanti. Walaupun aku kenal baik dengan laki-laki itu yang aku dengar juga sebagai pemilik dari perusahaan ini, namun aku tetap harus profesional Dua pintu lift terbuka secara berbarengan. Para karyawan masuk saling ingin mendahului. Sementara aku yang belum paham situasi di sini, hanya bisa memandang mereka. Lift kembali penuh. Terpaksa aku mengalah, menunggu lift berikutnya terbuka kembali. Aku menoleh ke belakang, ternyata sudah sepi. Hanya ada aku dan seorang pria berjas abu tua. Pria itu mengangguk ramah padaku. Sebagai orang baru, aku pun membalas anggukannya. Setelah cukup lama menunggu, pintu lift kembali terbuka. Aku dan pria itu masuk bersamaan. Kemudian Pria itu menekan angka dua belas. "Lantai berapa?" Suara bariton pria itu mengejutkanku. "Kebetulan sama, dua belas juga," sahutku. Pria itu mengernyitkan dahinya. Mungkin dia bertanya-tanya karena kami akan menuju ke perusahaan yang sama. Pintu lift terbuka dan langsung berada di depan sebuah pintu kaca bertuliskan PT Fortune Pharma. "Silakan, Nona!" Pria itu memintaku untuk keluar dari lift lebih dulu. "Terima kasih," sahutku dengan sedikit menunduk. Aku melangkah keluar dan hendak menghampiri meja reseptionis yang berada tidak jauh dari pintu kaca. Namun saat kami baru saja keluar dari lift, semua orang yang berada di sana sontak berdiri dan mengangguk hormat pada pria yang bersamaku ini. "Pagi Pak Devan ..." "Selamat datang Pak Devan." Spontan aku menoleh padanya. Pria itu kembali mengangguk dan tersenyum pada mereka. "Selamat pagi!" Kembali suara bariton itu menggema di telingaku. Siapa pria ini sebenarnya? Aku terus memandang punggung tegapnya hingga menghilang melewati pintu kaca kantor ini. Jangan lupa klik LOVE ya kak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN