Bab 10. CEO Tampan

775 Kata
"Selamat pagi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Bapak Ivan Nick. "Selamat pagi. Dengan Mbak siapa?" tanya wanita yang bertugas sebagai reseptionis itu dengan ramah. "Saya Zahra Fatma." "Oh, Ibu Zahra sudah ditunggu Bapak Ivan. Mari saya antar!" Aku mengikuti langkah kaki wanita itu hingga berhenti didepan pintu bertuliskan CEO. Terdengar sahutan dari dalam setelah beberapa kali ketukan pintu. "Silakan Bu Zahra." Wanita itu mengantarku masuk ke dalam. Dua orang pria sedang berbincang saling berhadapan. Sesekali mereka tertawa. Aku berdecak kagum melihat ruangan yang besar dan nyaman serta terisi oleh barang-barang mewah dan canggih. Ivan berdiri menyambutku. Sementara laki-laki yang tadi berbicara dengannya masih duduk di hadapannya dengan posisi membelakangiku. "Zahra ... Zahra ..., masih seperti dulu. Selalu tampil memukau dan mempesona." Aku tersipu malu mendengar pujian dari sahabatku itu. Ivan banyak berubah. Kini tampak semakin berwibawa dan semakin tampan. Aura kepemimpinan semakin terpancar dari sikapnya. "Ranti, kamu boleh kembali ke depan." "Baik, Pak." Reseptionis yang ternyata bernama Ranti itu keluar meninggalkanku. "Silakan duduk, Zahra!" Ivan mempersilakan aku duduk di sebelah laki-laki dihadapannya. Tunggu, sepertinya aku mengenal punggung tegap berbalut jas abu tua itu. "Devan, kenalkan ini Zahra, yang tadi aku ceritakan!" Aku tersentak saat kami sama-sama menoleh dan bertemu mata. "Kamu ...." "Kamu ...." Ucap kami bersamaan. "Kalian sudah kenal?" Ivan memandang kami berdua secara bergantian. Aku menggeleng. Sementara pria itu mengangguk.. Kemudian spontan kami tertawa bersama. "Sebenarnya kami tadi satu lift saat menuju kemari," jelas pria itu dengan tatapan matanya masih tertuju padaku. "Nona Zahra, kenalkan saya Devan." Aku menyambut uluran tangannya Saat ini aku melihat wajah Devan dalam jarak yang sangat dekat. Aku terpana dengan ketampanannya. Mata tegas yang berada di bawah alis yang berbaris tebal, serta hidung mancung menjulang tegak di atas bibir tipis yang di kelilingi jambang halus di sekitar pipi dan dagu, terbingkai indah pada wajah serta rahang yang begitu kokoh. Astaga! Aku segera membuang pandangan ketika tersadar telah memuji lelaki yang bukan suamiku. Entah kenapa aku merasa bersalah walaupun pujian itu berada jauh di dalam hati. "Ehmm ... Silakan duduk!" Suara Ivan membuyarkan lamunanku. "Devan ini adalah kakakku. Dia mengelola salah satu perusahaan milik Fortune Group. Nama perusahaannya Giant House. Giant House ? Kenapa nama perusahaan itu seperti tidak asing olehku? "Zahra, perusahaan kami akan membuka kantor cabang dipinggir kota. Rencananya kami mempercayakan kantor cabang itu padamu." "A-apa?Aku?" Aku ternganga, seakan tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Ivan mengangguk. "Kamu yakin?" lagi-lagi aku ragu. "Tentu. Sangat yakin." "Tapi aku belum berpengalaman mengelola perusahaan, Van." "Aku tau kemampuan yang kamu miliki, Zahra." Ivan mencoba meyakinkanku. "Tenang, Non. Untuk sementara kamu boleh belajar di kantorku selama satu bulan." Devan menawarkan diri. "Betul, sebaiknya selama sebulan ini kamu training dengan Devan. Karena aku sering keluar kota." sanggah Ivan. "Baiklah. Aku coba," sahutku mulai yakin. Setelahnya kami banyak membahas tentang perusahaan dan produk yang kami pasarkan. Ivan banyak meminta ide-ide dariku untuk menaikkan omzet penjualan perusahaan. Pengalamanku sebagai manager pemasaran di perusahaanku dulu membuatku mampu menciptakan metode-metode jitu dalam memasarkan produk. "Luar biasa kamu Zahra! Aku yakin kantor cabang kita nanti akan berkembang pesat ditanganmu." Kali ini Devan mencoba memujiku. Sungguh ini menjadi satu tantangan bagiku. Pujian demi pujian itu seakan menjadi sesuatu yang harus aku pertanggung jawabkan kebenarannya. Memimpin sebuah kantor cabang adalah sebagian dari mimpiku dulu, sebelum menikah dengan Mas Dewa. Namun mimpi-mimpi itu makin lama terkubur oleh cintaku pada Mas Dewa yang terus terpupuk. Namun cinta itu semakin terkikis oleh pengkhianatan yang sangat menyakitkan. Kini aku bertekad akan kembali menggali mimpi itu, bahkan hingga menjadi sebuah kenyataan. Saat tiba waktu makan siang, Devan mengajak kami makan di luar. Sebuah restauran ternama di kota ini, dengan berbagai menu nusantara. Kami memesan menu masakan khas sunda. Dengan sambal dadakan dan aneka lalapan. Devan juga memesan beberapa macam menu bakar dan pepesan. Tiba-tiba aku teringat dengan Ibu. Apakah ibu sudah makan? Sial! Aku tidak menyimpan nomor ponsel perempuan itu. Apa aku tanyakan saja pada Mas Dewa? Gegas aku meraih ponselku dari dalam tas kemudian mencari nama Mas Dewa. Namun setelah sesaat aku urungkan. Tiba-tiba saja aku sangat malas menghubungi suamiku itu. Kembali aku mencari kontak seseorang. Yaitu Bude Tari. Sebaiknya aku meminta tetanggaku itu mampir ke rumah menengok Ibu. Bude Tari adalah sahabat ibu. Pasti beliau mau menolongku. Segera kukirim pesan pada tetanggaku itu. Sambil menikmati hidangan di meja bundar ini, sesekali melirik ponsel untuk melihat balasan pesan dari Bu de Tari. [Ibumu belum makan. Masih tidur. Sementara istri baru Dewa itu sedang rebahan ketika aku masuk. Padahal rumahmu sangat berantakan ] Apaa? Ibu tidur lagi? Kenapa aku merasa Aneh dengan Ibu? Kenapa ibu lebih banyak tidur hari ini? Rasanya aku ingin segera pulang dan melihat kondisi ibu. Apakah ibu sakit?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN